Elegi Kepergian KH. Maimoen Zubair

1
432

(Puisi-puisi anggota Lembaga Semi Otonom (LSO) Forum Literasi Santri (Frasa) PPA. Lubri. Persembahan kecil atas mendiang Kiai karismatik yang berpulang pada 05 Dzulhijjah 1440/06 Agustus 2019 di tanah suci Makkah)

Barisan Air Mata

Maghrib di serambi pengasuh

Duka kami menyala-nyala

Yasin dan tahlil kami berair mata

Sepanjang perjalan pulang

Kami memungut air mata

Dan kecemasan-kecemasan yang mengembur dalam dada

Nisa Ayumida, merupakan nama pena dari Roydatun Nisa’. Santri PP. Annuqayah Lubangsa Putri. Bergiat di Lembaga Kepenulisan Lubri, Supernova Ikstida, Komunitas Menulis Pasra. Sedang menggarap skripsi di Fakultas Syariah Instika Guluk-guluk Sumenep.

 

Jalan Kembali

(kepada yang mulia mbah moen)

kami ingin menjadi alfatihah

biar mengiring ajunan istirah

Ibna Asnawi, lahir di Sumenep, 07 November 1996. Sedang mengaji di Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa Putri Guluk-guluk Sumenep Madura. Dapat ditemui di: IbnaAsnawi (Facebook) dan[email protected]

Yang (Tak) Berpulang

 ;KH. Maimun Zubair

 Ada yang kembali tanggal menaggalkan luka

Menyisakan puzzle kenang berputar dalam kepala

Lalu luruh air mata

 

Bersama langit yang kian pucat

Berpasang mata menatap lekat

Mematrikan dalam hati

Memastikan dalam diri

Bahwa dirimu sepenuhnya bukan pergi

 

Harus bagaimana menarasikan kasih kami Kiai

Atas segala berkah yang di alirkan

Bila kami gurun kerontang

Maka kau musim penghujan

 

Segala doa telah berhambur padamu Kiai

Tempatmmu di sisi Tuhan

Ulfade, lahir di Sumenep dengan nama Maria Ulfa, 19 september 2001, santri PP. Annuqayah Lubangsa Putri, merupakan mahasiswi Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA).

 

Lembar-Lembar Rahasia

: KH. Maimoen Zubair

Maghrib Annuqayah;

Nyilu membungkus hening

Malam yang teduh terguyur air mata

Meluap-luap lewat senandung al-Fatihah

Kepedihan luruh, keresahan mengganggu

 

Tahlil dan yasin berkumandang

Suaranya menyeret jutaan perih

Atas nama kehilangan

Hati kami yang berantakan ini

Laksana daun nyiur yang melambai

Memanggil tanpa suara, ditinggal bermandi luka

 

Lembar rahasia jadi saksi

Puncak rindu paling abadi

Annuqayah berkeluh lagi

Sang panutan lebih dulu menemui Ilahi

 

Di serambi kerukunan.

Tumbuh dari tanah yang gaduh

Doa kami bersemedi

Terbang ke langit

Menemani engkau pergi

6 Agustus 2019

Ratna Wulandari, santri asal Batang-batang Sumenep. Pernah menempuh pendidikan di MI Hidayatus Shibyan Batang-batang, alumni PP. Nasy’atul Muta’allimin Gapura, dan saat ini menjadi mahasiswi jurusan Ekonomi Syari’ah Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA). Aktif di cinta-kasih RMJ, Kompas Pasra, Supernova IKSTIDA, PMII_Garuda dan masih menjadi santri Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa Putri dan berproses di LKC5 Generasi XYZ, sebuah komunitas pecinta literasi di Lubangsa Putri. Guluk-guluk Sumenep Madura. Dapat dikontak melalui: [email protected]

 

Sepanjang Perjalanan Pulang

: KH. Maimoen Zubair

ke Rumah Kekasih,

karavan hujan menemanimu pulang

juga badai kesedihan yang tiada berkesudahan

doa-doa dipanjatkan

gema amin mengepung Ma’la, selepas engkau tiba

*Anec Fadia, nama maya dari Nur Fadiah Anisah. Berasal dari Desa Bilapora Barat Ganding Sumenep Madura. Mahasiswa Ilmu al-Qur’an dan Tafsir di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA). Saat ini bergiat di Forum Literasi Santri (Frasa) dan Komunitas Diskopag.

Kabar Duka Dari Seberang

: KH. Maimoen Zubair

Di denting kesepuluh

Ada gemuruh pelan-pelan hinggap di kedua telingaku

Masih sama tentang kepulangan

Namun, barangkali ini berbeda dari yang ada

Sebab yang berpulang adalah jantung kehidupan

Saban waktu tanamkan syariat

Pada mereka pengaharap syafaat

 

Oh, engkau sang Kiai terhormat

Ketahuilah, sepanjang sujud orang-orang shalih menjerit,

Menangis

Meringis

Lipu

Dan pilu

Lantaran kepulanganmu yang tiba-tiba

Gelisah menyertai kami

Tak ada lagi pembimbing jiwa

tempat berteduh

 

oh, engkau guruku

bentangan doa masih melebar

yasin dan tahlil menjadi pegangan

agar hati tak kembali nanar

mengingat kabar akan kepulanganmu

 

oh, engkau sang kiai

yang aromanya semerbak Nusantara

barangkali ini karena kemuliaanmu

hingga takdir Tuhan

menempatkan pusaranmu di tanah suci

selamat jalan, guruku

selamat sampai di akhirat

doa kami dan syafaat Nabi Muhammad

semoga selalu menyertaiku

pintu surga sudah menunggu salammu

 

Annuqayah, 6 Agustus 2019

*kita kembali merangkul sejarah luka atas wafatnya kiai kita, guru kita KH. Maimoen Zubair.

Helmiyah Marsya, pemilik nama mutiara dari Helmiyatun. Perempuan penikmat Hujan dan Kopi, lahir tepat pada 01 Januari 1996 di pulau garam Madura tepatnya Desa Jenangger Kecamatan Batang-Batang Sumenep. Dari kelananya ke pondok pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Madura, ia menemukan ratusan kata-kata yang mampu menemani disetiap kesunyiannya. Penyisir Sastra Iksabad (Persi) adalah rumah awal yang telah mengajari dia berdialog dengan puisi, dah sekarang ia berproses di kamar Lembaga Kepenulisan (LK_Generasi).

Sajak Santri untuk Kiai

;KH. Maimun Zubair

Bila bulan menibakan ingatan untuk mengenang

Penduduk bumi kelahiran menidurkan khidmat di atas

Nampan perenungan

Bulan pahlawan kembali berduka

Mbah Kiai, paku negeri, telah kembali

Menghadap Tuhan menghaturkan amanah yang sudah usai

 

Sirat apa gerangan perihal kepergianmu mbah

Kembali tenang di peraduan

Membiarkan kami para santri

Mendamba wajah asri terakhirmu di sini

Sering kupandangi engkau dalam layar gambar

Manakala akalku mengiyakan

Darah segar mengalir menyisihkan kabut dalam pandangan

 

Aku pucat gemetar

Kabar kepulangan menampar jiwaku berulang-ulang

Betapa dukanya harapan

Putus perjalanan untuk mengikat tali pengokohan

Antara aku santri, dan

Mbah panutan sejati

 

Namun, manabisa waktu menolak kehendak

Mungkin hanya pada bait-bait puisi ini

Atau tahlil yasin di malam hari

Bisik dukaku meronta jarak pertemuan

 

Mbah Kiai,

selamat jalan

matur nuwuntelah meletakkan cahaya-cahaya

di sepanjang trotoar jalan menuju lembah pulang

Erliyana Muhsi, Santri Annuqayah Lubangsa Pi sekaligus Mahasiswa Prodi PIAUD INSTIKA, anggota aktif Lembaga Kepenulisan FRASA Lubangsa, Alumni PP. Al-IN’AM dan PP. Darul Falah

Kepergian Yai

: KH. Maimoen Zubair

Yai,

Yang Menciptakan telah merindukanmu

Hingga mengutus subuh untuk kau berpulang

Mengajakmu beristirahat di pangkuan-Nya

 

Yai,

Kepergianmu mengundang duka

Tangis menjadi bencana di mata kami

Hati kami tak lagi teduh

Sebab, yang paling kokoh telah terpejam untuk selamanya

Membiarkan kain-kain tipis membungkus iman kami

 

Yai,

Sekuntum puisi kurakit

Seusai deras mewakili luka

Agar dukaku atas kepergianmu ikut tercatat

Di kalender keenam bulan kemerdekaan

 

Annuqayah 2019

 

Silvana Farhani, kelahiran Sumenep, 25 Oktober 2001 di sebuah Desa Panagan Gapura Sumenep. Salah satu siswa MA 1 Annuqayah Putri sekaligus nyantri di Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa Putri Guluk-guluk Sumenep Madura. Aktif di: Kompas Gapura, Supernova Ikstida dan bisa dihubungi melalui surel [email protected]

Ma’la Makkah 04.30

:KH. Maimoen Zubair

Mbah Moen,

Perihal hujan di subuh tadi

Juga dingin yang tak bisa kuselimuti

Aku bersyukur secepatnya

Serta bahagiaku tiada tara

Pagiku berkabut tebal

Kuberusaha menyusuri lorong-lorong menuju sekolah

Yang ditemani embun di setiap daun pelipur lara

 

Mbah Moen,

Sepulang sekolah,

Saat kudengar berita kepergianmu

Hati dan pikirankupun rancu

Kuleburkan sedalam-dalamnya

Kusembunyikan bahagia di balik lesung pipi

Ratap tangis menerpa pintu kalbuku

 

Annuqayah, 05 Dzulhijjah 1440

Dhiah Joe, Lahir di Pamekasan. Menempuh pendidikan di Madarasah Aliyah Annuqayah Putri dan mengaji di PP. Annuqayah Daerah Lubangsa Putri Guluk-guluk Sumenep Madura. Dapat dikontak melalui [email protected]

Kepergianmu

 

Langit dipenuhi awan gelap

Tak ada bintang

Pun rembulan enggan menampakkan dirinya, segalanya terlihat sedih

 

Tanaman di halamanku melayu

Padahal awan sedang memuntahkan isinya

Burung gagak berbunyi seram dan nyaring

Dan semuanya napak tak seperti biasannya

Macam tanda kepergian seorang ulama besar

 

Lalu aku berdiri mematung

Sendiri, sepi dan ketakutan

Rupanya tanda itu benar adanya

Bahkan kini kabar itu membuatku pilu

Kabur bahwa engkau tak lagi hidup di naungan yang sama

 

Engkau yang teramat segalanya

Diselamatkan Tuhan dari dunia fana

Hidupmu mulia, kepergianmu mulia

Di tanah impian, Makkah namanya

 

Semoga amal ibadahmu diterimaNya

Dan aku akan sellau mendoakanmu pula

Dee Kayisna. Santri aktif Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Putri Guluk-guluk Sumenep Madura asal Jember. Berproses di Lembaga Kepenulisan Lubangsa Putri. Masih menjadi siswa MA 1 Annuqayah Putri.

Selepas Kepergianmu Kiai

I

Selepas kepergianmu Kiai

Air mata mulai mengalir

Pun hati telah rapuh

II

Di pagi itu setelah kau sucikan hati dan jiwa

Kau tinggalkan lusuh di wajah kami

Tetes demi tetes telah membanjir

Seperti penghormatan di pagi hari

III

Enam Agustus telah tiba

Menghadirkan duka dalam sanubari

Sembilan puluh tahun kau habiskan dengan kebajikan

IV

Berbahagialah Kiai

Di alam yang kekal itu

Doa dan cinta kami tak pernah lekang untukmu

V

Kau tinggalkan kenang di hati kami

Engkau yang amat segalanya

Kini telah berpulang pada pelukan Tuhan

Mila Ming, Lahir di Sumenep. Menempuh pendidikan di Madarasah Aliyah Annuqayah Putri dan mengaji di PP. Annuqayah Daerah Lubangsa Putri Guluk-guluk Sumenep Madura.

Namamu Adalah Doa Kami

;KH. Maimun Zubair

 

Usia tak mungkin abadi

Pada cintamu dan ketulusanmu

Meski kami tak pernah jumpai

Kami cukup mengenang

Dalam saksi kami mata yang luruh telah berhujan

Di sepanjang doa malam

Yang tak pernah menikmati pertemuan bersamamu

Kami telah cukup berduka untuk saat ini

Tak puas kami membuang air mata kesedihan

Mengingatmu yang berjuang tanpa henti

Tak bisakah kami mengantar kepulanganmu

Cukup kami menyebut namamu di putaran tasbih

Kami hanya bisa menangis sesak yang ingin pergi meneruskan perjuangan

Cukuplah duka tak pernah bisa dihilangkan

Di antara beribu orang yang berdoa

Saksikan bahwa kami sellau mengenangmu

 

Dhee Fhamaa, lahir di Grujugan Gapura Sumenep. Siswi IPS MA 1 Annuqayah Putri Guluk-guluk. Sedang nyantri di PP. Annuqayah Lubangsa Putri. Bergiat di Lembaga Kepenulisan Frasa.

Andai Engkau Mbahku

; KH. Maimoen Zoebair

 

Andai engkau mbahku

Pucuk-pucuk dawuhmu telah ku seduh bersama air hikmahmu

Untuk kemudian ku teguk agar genamu yang menyekujuriku

Andai engkau mbahku

Langgar peteng di dekat kediamanmu akan menjadi saksi bisu ketelatenanmu dalam mendidikku

Andai engkau mbahku

Kiai, hafalan nadam serasa mimba yang kau cekoki kerelung santri terasa nikmat sehabis sahur sebagai penutup hidangan sorogan Turatsiyah

Dan aku, cucumu, andai, duduk di kananmu

Andai engkau mbahku

Tangan kananmu yang ditinggikan dari kepala santri yang menunduk menguncup merangkum matan dan syarah yang kau gelar di langgar untuk alas tidur mereka yang memimpikan nabi setiap malam

Sedang aku, cucumu, andai, sudah lebih dulu berbedong ilmu warisan Nabimu

Andai engkau mbahku

Andai aku cucumu

Sayang seribu sayang, menikmati sejukmu tak ada aku

Lalu tiadamu memeras air kawah mataku

Yang berpindah ke sabit bibir yang memamah bacaan Yasin

Kini suci Makkah mendekapmu dalam tanahnya

Qunut subuh menghusnulkhatimahkan hidupmu dalam harapnya

Semoga segala pecut meredam kalut

Segala keramat menikam keparat

 

غفرالله ذنوبه ونورضريحه وجعل الجنة مأواه الفاتحة

 

Qoiro Basyir, menjadi santri di PP. Annuqayah Lubangsa Putri Guluk-guluk Sumenep.  Sedang berproses di Lembaga kepenulisan PP. Annuqayah Lubangsa Putri. Mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA)

 

Mengenang Hari Wafatmu

: KH. Maimun Zubair

 

Pada tanggal 6 Agustus 2019

Kami menatap langit yang tertutup awan

Subuh pagi peristiwa yang snagat menyedihkan bagi kami

Kepergian engkau membuat kami kehilangan harapan

Jiwa-jiwa kami seakan runtuh berantakan

Jejak perjalanan engkau kami simpan dalam-dalam

Agar kami juga dapat hikmah di hadapan lentera suci

Kabar bergemuruh menancap dalam tubuh

Sayup deraian petir menghambar cakrawala

Badai menghantam panorama yang mengerut pada tubuh kami

Kami sumbang seakan kehilangan beribu harapan

Bumi hampa menyisakan tangis karena kepergianmu

Kami hanya bisa mengenang dengan doa-doa dan perjuangamu

Setangkai cinta yang akan jadi buah rindu kepadamu

Perjuanganmu akan ku reguk dalam-dalam

 

Tha Dita, Lahir di Pamekasan. Menempuh pendidikan di Madarasah Aliyah 1 Annuqayah Putri dan mengaji di PP. Annuqayah Daerah Lubangsa Putri Guluk-guluk Sumenep Madura.

 

Jiwamu Abadi Mbah Moen

 

Di penghujung jalan

Wajahmu melekat tenteram dimataku

Sayuyp-sayup wajahmu masih ada dibinar mataku

Mbah Moen

Diumur yang kesembilan puluh ini

Kau lahirkan kesedihan

Kau hadirkan sayap keabadian

Lalu menceritakan peradaban

Mbah Moen

Getaran jiwaku selalu ingin menyebut namamu yang mengutuk hatiku menjadi batu

Kau telah kembali pada peraduan sang maha cipta

Mbah Moen

Butiran-butiran kecil mengalir dari pelupuk mataku

Dan menejrit dalam ragaku

Jiwamu abadi Mbah Moen,

Abadi dalam ketenanganku

 

Lee LF, nama pena dari Lailiyatul Fitriyah. Lahir di desa Bungbaruh Kadur Pamekasan. Anak asuk Sanggar al-Zalzalah dan LK Frasa Lubangsa Putri.

 

Mbah Moen…

Perjuanganmu tak pernah pudar di kalangan kami

Janggut putihmu masih menari-nari di otakku

Keriput wajahmu masih membayang di mataku

 

Mbah Moen…

Tangisku pecah mendengarmu telah berpulang

Ke alam barzah

Cairan bening juga membasahi pipi

Mereka yang telah ditinggalkanmu

Aku kembali mengingat, tentang pengorbanan

Yang kau lakukan pada bangsa ini

Fanielho, bernama asli Fajriyatur Rahmah. Menempuh pendidikan di Madarasah Tasanawiyah Putri Annuqayah dan mengaji di PP. Annuqayah Daerah Lubangsa Putri Guluk-guluk Sumenep Madura.

 

1 KOMENTAR

  1. Alhamdulillah, bisa menikmati secangkir teh disamping sumur Lubangsa Raya. Dan sumurnya tidak pernah kering walau airnya telah menjelma selaksa sastra. Dulu disini ada pendekar sastra “Maut” yang selalu minum dari sumur ini. Dan akan tumbuh lagi pendekar-pendekar lainya yang selalu minum dan mandi di sumur ini.

Tinggalkan Balasan ke Abdul Wafi Batal balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.