Iksbar

Sejarah

Organisasi Ikatan Keluarga Santri Bragung (IKSBAR) merupakan sebuah organisasi yang ada di bawah naungan Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa Seksi Penerangan dan Pembinaan Organisasi (P2O). Organisasi yang berdiri sejak tahun 1984 ini merupakan wadah  sekaligus pranata bagi tercapainya visi dan misi dalam rangka tidak hanya untuk menanamkan nilai-nilai keislaman, tetapi juga melatih anggota IKSBAR untuk bertanggung jawab, kritis, kreatif, inovatif dan populis serta agamis––seperti yang tercantum dalam visi-misi Organisasi IKSBAR.

Asal-muasal terbentuknya Organisasi Ikatan Keluarga Santri Bragung (IKSBAR) terbagi menjadi 2 fase, yakni; fase komunitas, sebagai deskripsi kondisi sebelum terbentuknya Organisasi IKSBAR dan;  fase Organisasi, sebagai deskripsi kondisi setelah terbentuknya Organisasi IKSBAR. Di mana, pada dua pembahasan tersebut setidaknya akan diceritakan proses terbentuknya IKSBAR bagaimana kemudian menjadi sebuah Organisasi yang mempunyai visi-misi dan berbagai kegiatan yang ada di dalamnya.

  1. Fase Komunitas

Sebelum menginjak tahun 1984, ada sebuah kelompok belajar. Kelompok belajar ini terdiri dari anggota santri yang berasal dari Dusun Angsanah Desa Bragung. Pada waktu itu, kelompok belajar ini didirikan oleh Muhammad Baihaki dan Abdissalam. Kedua pendiri kelompok belajar ini sama-sama berasal dari dusun Angsanah, sehingga mereka anggap perlu untuk mendirikan sebuah komunitas yang di dalamnya diisi dengan kegiatan belajar bersama. Sebab, dengan adanya komunitas belajar mereka akan menganggap bahwa kegiatan belajar akan lebih kondusif dan efektif dalam hal memahami suatu materi ajar.

Kegiatan yang ada dalam komunitas ini salah satunya adalah ajian Kitab bersama dan kursus materi Nahwu dan Sharraf. Dengan adanya dua kegiatan ini jelas bahwa komunitas belajar––yang didirikan oleh bapak Baihaki dan Abdissalam ini––adalah untuk memperdalam ilmu pengetahuan di bidang keagamaan. Mungkin inilah yang menjadi dasar dan acuan bagaimana para anggota komunitas itu sehingga menjadi santri yang paham di bidang ilmu keagamaan.

Suatu kali, K. Qusyairi bermaksud mendatangi tempat santri Angsanah. Akan tetapi, semua santri Angsanah tidak ada karena ada kegiatan kursus Nahwu Sharraf. Ketika itulah, terbesit di benak K. Qusyairi untuk untuk membentuk komunitas seperti santri Angsanah, yang meliputi santri dari dusun Lengkong dan Parebba’an. Terjadilah kesepakatan untuk juga membentuk komunitas belajar santri Lengkong dan Parebba’an.

Selang beberapa waktu, K. Qusyairi mengadakan musyawarah dengan komunitasnya, yang salah satu isi dari musyawarah ini adalah berinisiatif untuk menggabung komunitas belajar dengan santri daerah Angsanah. Terjadilah semacam musyawarah yang melibatkan santri dari tiga dusun, yakni Angsanah, Lengkong dan Parebba’an. Dua dusun komunitas itu (komunitas santri Angsanah dan komunitas santri Lengkong Parebba’an) yang sama-sama dari Bragung, akhirnya bergabung menjadi satu komunitas belajar. Kegiatannya masih tetap sama, yakni Ajian Kitab bersama dan Kursus Nahwu Sharraf.