Ikstida

IkstidaSejarah

Sejarah Ikatan Keluarga Santri Timur Daya (Ikstida) begitu kompleks. Pada awalnya, berdirinya Ikstida itu tidak resmi seperti organisasi pada umumnya. Gagasan untuk merintis Ikstida itu hanya dari mulut ke mulut yang muncul dari beberapa orang yang di antaranya, K. Thabrani (Jember), K. Shanhaji (Gapura), K. Farasdaq (Gapura), Mukhtar (Gapura), Hisyam, dan Rokib (Gapura). Mereka bermusyawarah untuk membentuk organisasi Mor Dhaja.

Pada musyawarah tersebut muncul keinginan yang sangat muluk untuk membentuk organisasi santri yang tidak hanya ada di Pondok Pesantren Annuqayah, tapi berkeinginan untuk mengajak santri dari seluruh pesantren se-Mor Dhaja untuk bergabung ke organisasi tersebut. Tapi hal itu tidak bisa terwujud karena mendapat tantangan dari berbagai pihak, terutama dari berbagai pondok pesantren yang tidak merespon dengan baik terhadap gagasan ini.

Walaupun begitu, gagasan untuk membentuk wadah berupa organisasi tetap ada. Hal itu terbukti dengan hasil dari perkumpulan para santri waktu itu yang melahirkan sebuah kesepakatan untuk mendirikan organisasi. Organisasi tersebut itulah yang kemudian dikenal dengan nama Ikatan Keluarga Santri Timur Daya (Ikstida).

Banyak hal yang melatarbelakangi pendirian Ikatan Keluarga Santri Timur Daya (Ikstida). Salah satunya adalah semangat untuk mengumpulkan para santri yang berasal dari Mor Dhaja, yakni yang berasal dari 4 Kecamatan: Gapura, Batang-Batang, Batuputih, dan Dungkek. Hal itu dilakukan dalam rangka untuk meminimalisir perkelahian yang sering terjadi antargrup.

Pada waktu dulu, terdapat banyak grup yang bermunculan di PP. Annuqayah dan biasanya sering berkelahi antar anggotanya. Salah satu group yang ada waktu itu adalah Grup Setan. Grup Setan ini digawangi oleh santri yang berasal dari Mor Dhaja, sehingga ketika grup ini bubar, ada kecenderungan untuk membentuk organisasi atau semacam perkumpulan santri. Setelah Grup Setan ini bubar, muncul usulan untuk membentuk wadah yang formal dalam rangka mewadahi para santri.

Beruntung, Ikstida mampu menyatukan semua kalangan santri dari Mor Dhaja, sehingga bisa saling mengingatkan antara satu dengan yang lainnya, terutama ketika berkumpul. Hal itu bisa dilakukan karena sudah tercipta kebersamaan dengan mengenal karakter satu sama lain.

Ada juga hal lain yang melatarbelakangi pendirian Ikstida ini, yakni adanya marjinalisasi kaum santri di masa itu. Dalam artian kaum santri pada saat itu cenderung dikucilkan dan dianggap remeh oleh kalangan Kaum Celana (PGA) dan semacamnya. Karena itulah, untuk meneguhkan eksistensi santri di mata masyarakat dan di hadapan kalangan kaum bercelana, maka pada waktu itu, dibutuhkan sebuah organisasi yang mampu mewadahi para santri itu. Akhirnya, dibentuklah organisasi, yang hingga hari ini dikenal dengan nama Ikstida.

Munculnya nama Ikstida itu hanya sebatas meraba-raba, bukan hasil istikharah. Itu hanya dirangkai dari beberapa suku kata kemudian disingkat menjadi Ikstida. Pada saat itu pengetahuan tentang bahasa memang sangat rendah. Jangankan kurikulum, ruang kelas pun yang ada hanya di sebelah Utaranya masjid.

Kemunculan Ikstida ini memang tidak ada informasi yang pasti kapan berdiri. Hanya saja, berbagai sumber menyebutkan bahwa Ikstida merupakan organisasi pertama yang ada di PP. Annuqayah. Untuk tahun berdirinya, K. Shanhaji menegaskan bahwa Ikstida lahir pada bulan Desember 1984 M.

Untuk mendeklarasikan bahwa Ikstida itu ada, maka para perintis ingin memperkenalkannya dengan cara mengadakan acara pengajian umum yang ditempatkan di Pendopo Gapura dengan mengundang siapa saja yang berstatus “santri”, yang berdomisili di Sumenep bagian Mor Dhaja, dari pondok pesantren manapun, se-Indonesia, tidak hanya dari PP. Annuqayah. Oleh karenanya, di lambang Ikstida tidak tertulis “PP. ANNUQAYAH GULUK-GULUK SUMENEP”, tapi “KAB. SUMENEP”.

Di antara perwakilan pondok pesantren selain Annuqayah adalah PP. Nasy’atul Muta’allimin Gapura yang diwakili oleh Syahid Munawar, PP. Nurul Jadid Paiton Probolinggo yang diwakili oleh Mulyono, PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo diwakili oleh Haris, dan dari PP. Al-Is’af Kalabaan, Guluk-Guluk Sumenep diwakili oleh Sugiono.

Pada acara pengajian umum tersebut, Ikstida mengundang K. Shidqi Mudhar sebagai penceramah pada acara tersebut. Acara tersebut diketuai langsung oleh K. Thabrani, setelah melalui musyawarah mufakat. Dari acara itulah kemudian, K. Thabrani ditahbiskan sebagai ketua pertama Ikatan Keluarga Santri Timur Daya (Ikstida).

Acara tersebut merupakan acara yang mampu mengangkat harkat dan martabat santri di hadapan anak-anak PGA. Acara yang tidak menghabiskan dana sepeserpun itu menegaskan bahwa santri mampu bergerak dan melakukan hal yang lebih daripada anak-anak PGA yang pada awalnya selalu memarjinalkan para santri. Acara tersebut mampu mengangkat harkat dan martabat santri karena mampu menempati tempat yang sangat mulia pada waktu itu, yakni Pendopo Gapura. Padahal, di saat yang sama, anak-anak PGA berkeinginan untuk melaksanakan acara di tempat tersebut, tapi tidak diperkenankan oleh Camat setempat. >>