Kenduri Rindu dan Rintih Petani

Kenduri Rindu dan Rintih Petani

0
103

Puisi Zen KR. Halil*

Kenduri Rindu

 (Juara III Lomba cipta Puisi Penerbit Yumna Publisher)

Tak ada bunyi lebih bising

Ketimbang rindu yang melengking nyaring dalam diriku

Ketika malam harus takluk tunduk pada kesepian yang tabu.

 

Serupa pesta ramai berdawai dalam kepala

Suara-suara trompet bersahutan

Menyuarakan kenangan masa silam.

Lalu, sederet kisah seketika berdesakan

Menari-nari di mataku

Menostalgia cemas yang terkupas tuntas dalam pelukmu

Atau manakala kita merangkai canda begitu candu

Hingga tawa membuncah ruah

Menindih benih letih

Yang tumbuh dari keluh dan resah.

 

O, betapa rindu adalah Nil memanjang di hatiku

Mengalirkan ingin sepanjang angan

Dan tak akan pernah bermuara

Selain ke hatimu saja.

 

Maka, sungguh ingin sekali cepat-cepat kulipat jarak

Agar sepimu dan sepiku

Segera bersulang riang

Di sebuah ruang impian bernamakan pertemuan.

2019


*Zen KR. Halil  adalah santri PP. Annuqayah daerah Lubangsa asal Batang-batang, Sumenep Madura. Yang menyukai puisi sejak aktif di Komunitas PERSI. Sejumlah puisinya pernah dimuat di berbagai media. Tercatat sebagai Mahasiswa Instika Jurusan Tasawuf dan Psikoterapi.


Sajak-Sajak  Rizqi Mahbubi*                                            

 (Dimuat di Buletin Sidogiri edisi Muharram 1441)

Rintih Petani

Tak lagi kutahu

Adakah almanak kelak

Masih merangkai musim silih berganti

Sedang jemari orang,

Cuma sibuk menghitung hutang

Kening berkerut, tentang sengkarut harga pasar

 

Adakah tangan petani

Setia mendekap hangat ladang-ladang

Sedang tiang-tiang menjadi pohonan

Tembok tinggi memperkecil jarak pandang

Padahal angin desember

Masih ingin menggiring mendung

Ke teduh caping mereka

 

Tapi, sekian lama sudah

Baskara dan purnama

Jadi bayang semu;

Terlalu jemu dipandang

Bintang tinggal tenggelam

Dalam kelap-kelip diskotik

 

Tak lagi kutahu

Adakah lidah

Masih kuasa menyayikan madah

Dari celah tanah, reranting, dan angin

Memanggil rintik-rintik hujan

Mengusir rintih- rintih kemarau.

Lubangsa, 2019

Surat Kecil Buat Ibu

Barangkali, aku sulit mencatat kerut di tanganmu

yang dahulu setia menepuk pundak

agar tetap tegak menjaga nyala di dada.

Namun Insyaallah di nanti,

aku bakal mengalir

sebening doamu.

memelukmu sembari berderai air mata

Walau tidak sejernih jannah di telapak kakimu.

 

Annuqayah, 2019

 

Nyala Nostalgia

 

Lilin yang kami nyalakan menghangatkan kembali almanak masa kanak-kanak;

Temaram saban malam diakrabi. Sungguh tanpa keluh

Segala desah luruh pada lenguh sapi di kandang.

 

Api yang bergoyang di ujung sumbu, serupa goyang daun tembakau,

Jagung, juga cabe jamu dihalaman; setia pada kami bermain kelereng dan jograng.

 

Lelehannya sebening sungai tempat membasuk luka.

Mancing ikan pada riciknya yang kami sebut kegembiraan.

 

Pendar cahayanya seperti meruncing kembali lidi

Kami pegang mengeja ayat suci. Wajah ustad-ustazah selalu kami madahkan.

Di langgar yang menyimpan alir zikir.

 

Tapi, bagaimanapun kami harus tetap tabah;

Pohon ditumbangkan, merata menjelma pabrik

Mencipta bising pada kuping yang mendamba tenang.

 

Hanya nyala sebatang lilin mampu melukiskan

Duka kami seperti sabar tubuhnya terbakar.

 

2019


 

Rizqi Mahbubillah

Lahir di Pakandangan sangra, Bluto, Sumenep. Sekarang santri aktif PP. Annuqayah daerah lubangsa. Juga tercatat sebagai siswa kelas IX MTs 1 Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Jawa Timur. Puisinya pernah dimuat di Radar Madura, juga dalam antologi Puisi untuk Presiden (zenawa 2019). Bergiat di sanggar AIDS IKSAPUTRA , Aliansi Jurnalis Muda IKSAPUTRA [AJMI], dan KoPOG. Tinggal di Sumenep.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.