Madrasah Diniyah Baramij al-Tarbiyah wa al-Taklim

MD BTT

Pondok pesantren merupakan lembaga kegaamaan yang tetap memberikan pengaruh besar dalam membangun keilmuan bangsa. Hal itu tak bisa dilepaskan dengan materi-materi pembelajaran yang berbasis keagamaan, mulai dari kitab klasik sampai kitab-kitab kontemporer. Dalam hal ini, output dari beberapa pesantren di Indonesia telah banyak mengisi ruang publik dan birokrasi pemerintahan. Ini menandakan bahwa lulusan pesantren juga mampu bersaing dengan lainya.

Jika melihat keberadaan pondok pesantren di Madura, dapat dipastikan di dalamya terdapat lembaga pendidikan yang lebih menekankan pada pemahaman keagamaan, yakni Madrasah Diniyah (MD). Madrasah diniyah ini menjadi faktor pendukung kematangan dalam mempelajari ilmu agama bagi santri yang berdiam di dalamnya. Sebab, tidak dapat dipungkiri bahwa pembelajaran keagamaan yang sangat fokus hanya di Madrasah Diniyah ini.

Sementara itu, salah satu pondok pesantren yang masih eksis dalam pengembangan keagamaan bagi santrinya adalah Pondok Pesantren Annuqayah. Pondok pesantren ini merupakan lembaga keagamaan yang berdiri lebih dari satu abad yang lalu. Sedari dulu, pondok pesantren ini telah menjadi tumpuan beberapa santri yang datang dari berbagai penjuru di Madura, Jawa dan luar Jawa. Nah, berbicara masalah keberadaan MD, di pondok pesantren yang mempunyai sepuluh daerah ini, sangat banyak. Hampir seluruh daerah mempunyai MD. Salah satu MD yang ada adalah Madrasah Diniyah Baramij al-Tarbiyah wa al-Ta’lim (MD.BTT) yang berkembang di Pondok Pesantren Daerah Lubangsa.

Menelisik sejarah lahirnya MD.BTT di Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa tidak jelas kapan berdirinya. Sebab ada berbagai pendapat yang menyatakan soal awal berdirinya MD.BTT ini. Salah satu Alumnus Lubangsa asal Desa Beluk Kenek, Ambunten, K. Abdusshamat, menyatakan bahwa pada tahun 1980-an beliau berinisiatif mengadakan ajian lanjutan dari bimbingannya yang dikuti santri kalangan pantai utara, tetapi bukan ajian dari pengasuh langsung. Karena ajian tersebut hanya berkisar bagi santri yang dari Pantai Utara, beliau merasa tidak enak pada santri yang lain. Akhirnya, pada tahun 1985—ada yang menyebutkan tahun 1986—beliau mengajak bapak Ihsan Musthafa, salah satu santri yang menjabat di kepengurusan seksi Pengajaran dan Pendidikan (P2P), untuk melakukan kerjasama terkait dengan ajian di Lubangsa dengan beberapa daerah di Annuqayah. Kerjasama itu, sebagian ada yang mengamini dan sebagian tidak. Pondok Pesantren Annuqayah daerah Latee telah mendirikan diniyah lebih dulu dan enggan untuk bergabung dalam ajian yang diadakan Lubangsa. Salah satu lembaga pendidikan yang ikut bekerjasama kala itu adalah PP Annuqayah Nirmala dan PP Annuqayah Lubangsa Selatan. Namun, ajian kitab yang masih belum disebut diniyah itu , tidak berlangsung lama. Sebab ajian kitab tersebut masuk pada siang hari, banyak santri yang tidur dan tidak diwajibkan bagi santri. Dengan kendala tersebut, ajian kitab sempat vakum selama satu tahun.

Bergulirnya waktu­­, hari demi hari, Pengurus PP. Annuqayah Lubangsa tak menginginkan purna begitu saja. Beberapa tahun kemudian ajian itu aktif kembali dan masuk setelah Isya’, lalu dipindah lagi pada sore hari. Jumlah santri yang mengikuti kegiatan tersebut mengalami peningkatan. Ada sekitar 300 santri yang ikut ajian tersebut, yang kala itu ditempatkan di kantor Ma 1 Annuqayah, Sebelah Selatan Masjid Jamik Annuqayah, sebelum ditempati perpustakaan Annuqayah. Ajian tersebut berlangsung lama hingga bertahun-tahun.

Akan tetapi, sekalipun berlangsung bertahun-tahun, pengelolaan ajian  kitab yang diadakan oleh pengurus P2P yang bekerjasama dengan beberapa pengurus kesenian kala itu, tidak memiki manajemen pengelolaan secara formal. Sebab, setiap kali penanggung jawab sudah mengalami pergantian kantor yang selalu berpindah ke bilik yang terpilih menjadi penanggung jawab tersebut. Walaupun tampaknya lembaga tersebut terlihat sederhana dengan keterbatasan falisitas, pengurus dan santri tak pernah putus asa untuk melanjutkan dan mengembangkan kegiatan belajar-mengajar mengenai kitab-kitab tsurats, hingga mengalami perkembangan yang sangat pesat. >>