Hadrah Nurul Fata

Awal munculnya hadrah Nurul Fata

Dibentuknya komunitas hadrah merupakan sebagai sarana dan wadah bakat dan minat santri terhadap musik. Sebab, musik merupakan sesuatu yang hampir tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Di Annuqayah, tak terkecuali daerah Lubangsa pun demikian; rata-rata santrinya senang terhadap musik. Terbukti dengan banyaknya santri yang belajar bermain musik dan olah vokal. Hingga, muncul sebuah komunitas seni musik berupa Jama’iyatul Hadrah yang dipelopori oleh K. Qusyairi dkk. yang dibentuk pada tahun 1987-1988. Akan tetapi, pada waktu itu masih sekedar berupa perkumpulan saja dan belum diresmikan oleh pengasuh.

Jam’iyatul Hadrah berdiri atas semangat pengurus pesantren yang mengurusi bidang kesenian serta dukungan pengurus lain yang mempunyai keinginan besar untuk membentuk komunitas hadrah di Lubangsa.

 

Perkembangan awal

Pada awal didirikannya, Jama’iyatul Hadrah sudah mendapatkan respon yang luar biasa dari santri. Hal itu terbukti dari sekian santri yang melai tertarik untuk bergabung dan mendaftarkan diri tiap tahunnya. Sehingga, proses penerimaan anggota baru ditetapkan sistem seleksi. Hal ini dilakukan untuk memilih anggota yang serius (dalam hal ini santri yang benar-benar berbakat) dan tidak hanya sekedar main-main.

Selang beberapa tahun kemudian, Jama’iyatul Hadrah ini mengalami perubahan nama, yaitu al-Mujawwirin. Perubahan ini dilakukan karena nama yang sebelumnya dirasa kurang begitu menarik, sehingga dianggap perlu diadakan perubahan nama. Namun, setelah akan rekaman, nama al-Mujawwirin kembali terjadi perubahan menjadi Nurul Fata (NUFA) dengan meminta izin terlebih dahulu kepada pengasuh. Nama Nurul Fata ini merupakan peninggalan di masa kepemimpinan Khairunnas Ibnu Waraid (Rasuka).

Dalam sejarahnya, NUFA juga pernah menorehkan prestasi yang membanggakan, salah-satunya adalah rekaman volume I pada tahun 2003 dan volume III pada tahun 2004 pada masa kepemimpinan Ali Muksir. Dengan prestasi tersebut membuat pengurus NUFA kebingungan menerima tawaran panggung.

Rutinitas Hadrah Nurul Fatah (NUFA) dilaksanakan satu kali dalam seminggu, yaitu malam Sabtu. Rutinitas formal ini diisi dengan kegiatan Azafin (Ruddat, Madura red), olah vokal, dan latihan musik. Sedangkan rutinitas non-formal biasanya dilakukan di pondok.

Hadrah Nurul Fata merupakan hadrah tertua di pesantren Annuqayah, yang terus melakukan berbagai kreativitas, meskipun di lain sisi, NUFA lemah dalam aspek fasilitas dan manajemen. Tapi perkembangan NUFA tiap tahunnya selalu hadir dengan sesuatu yang baru.

Pencapaian sempurna NUFA adalah tetap mempertahankan hadrah sebagai simbol dakwah pesantren. Dan memang hal inilah salah satu nilai plus bagi pesantren dalam menjawab tantangan zaman, sementara esensinya sebagai dakwah Islam.

 

Nurul Fata saat ini

Tujuan awal didirikannya hadrah Nurul Fata tiada lain adalah sebagai media dakwah kepada masyarakat serta salah satu wadah kreasi terhadap bakat dan minat santri dan wahana bershalawat kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Sehingga setelah keluar dari pesantren, santri juga memiliki pelbagai softskill yang dapat diterapkan di lingkungannya.

Semangat santri teradap Nurul Fata mulai berkobar kembali sejak alumnus Nurul Fata sukses di berbagai daerah, seperti Khairunnas Ibnu Warid (Rasuka), Masy’aril Haram, Lukman Mahbubi dan masih banyak lagi. Saat ini, Hadrah Nurul Fata masih eksis dalam mempertahankan kegiatan-kegiatan yang mengucu pada kaderisasi di bidang musik, oleh vokal dan zafin (Ruddat, Madura Red). >>