PEMUDA BUDDHA & SANTRI ANNUQAYAH LUBRI; BELAJAR TOLERANSI DI AULA ASY-SYARQAWI

0
180
Foto bersama santri Lubri dan Generasi Muda NSI di Aula Asy-Syarqawi, Sabtu, 06/07/2019

Sabtu, 06 Juli 2019 M./10.35-15.30 WIB

Toleransi beragama, bukan hanya soal mengakui keberagaman agama yang dianut oleh masing-masing “kita”. Toleransi berarti juga mampu menghargai, bersahabat dan bahagia, bersama mereka yang berbeda. Inilah pelajaran yang didapat santri Lubri di aula Asy-Syarqawi siang itu.

Kedatangan sekitar 170 generasi muda dari Parisadha Buddha Dharma Niciren Syosyu Indonesia (NSI), disambut dengan suasana hangat persahabatan. Suasana itu, mampu membangun hubungan emosional yang baik antar dua umat beragama.

Meski tidak mampu menghafal satu-persatu nama generasi muda NSI putri yang disalami, santri Lubri cukup mampu menunjukkan rasa hormat atas segala “perbedaan” itu dengan;

  • Senyum ramah tamah;
  • Sua foto bersama;
  • Berbagi keasyikan “nyantri” versi masing-masing “kita” dalam kemasan cerita yang sederhana;
  • Menyanyikan lagu masing-masing “kita”: Hymne Annuqayah oleh santri Annuqayah, dan Inspirasi Dunia oleh Generasi Muda NSI;
  • Mempersembahkan penampilan khas masing-masing “kita”: Nadzam silaturahmi oleh santri putri, shalawat versi al-Banjari oleh santri LPTQ, teater pesantren oleh santri putra tingkat MA Annuqayah, dan harmoni musik persatuan oleh NSI;
  • Hingga saling bertukar buku tentang masing-masing “kita”: Profil PP. Annuqayah (Lubangsa Putri) dan Buku Panduan TGM Parisadha Buddha Dharma NSI.

Hangat kebersamaan ini berangkat dari satu kesadaran bersama, yakni bahwa “kita” adalah generasi muda Indonesia.

Jalinan emosional yang berlangsung dalam kisaran waktu 5 jam itu, mampu mencipta kesan kerukunan antar sesama generasi muda Indonesia dengan kesadaran agama masing-masing. Harmoni kaum santri dan pemuda NSI yang terjalin dalam kisaran waktu itu, juga mampu membangunkan kesadaran yang mengendap dalam diri sebagian “kita”, bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Dan dalam menghadapinya tidak perlu ada kebencian, permusuhan, bahkan kerusuhan.

Merasa asing dan aneh saat pertama bersua, itu biasa. Sebagaimana yang tampak dari siratan wajah masing-masing “kita” siang itu. Namun keinginan untuk saling mengenal dan memahami atas apa yang dilihat berbeda, dapat menumbuhkan rasa simpati seiring berjalannya waktu.

Tersirat pesan yang mengapung di atas luas ruang aula Asy-Syarqawi, bahwa masing-masing “kita” memiliki jalannya sendiri. Dan dalam menempuhnya, kesadaran dan kesungguhan adalah dua hal yang harus benar-benar terkendali. Namun dua jalan yang berbeda itu, tidak sepenuhnya membuat masing-masing “kita” berbeda, sebab “kita” berangkat (dari) dan berlabuh (ke) arah pintu yang sama, TANAH AIR INDONESIA.

Salam persahabatan dan perdamaian dari kami, santri Lubri.

#HubbulWathanMinalIman#Islam#Rahmatallil’alamin

 


Fa_alJunadi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.