Puisi-Puisi Silvana Farhani dan Dee Kayisna

0
175

Puisi-Puisi Silvana Farhani

(Dimuat di portal daring Nusantaranews)

Puisi di Kening Ibu
:Helly Astutik

ibu,
ketika matamu merekah
kudapati bait puisi di keningmu
berjejeran rapi menghiasi wajah cantikmu

tiga menit menatapmu
sembari kubaca bait itu
barisan sajak rindu pada kembang melatimu

selanjutnya,
aku semakin paham,
bahwa kau ingin menyisir rambutku setiap pagi
lalu berbisik; kau cantik, sayang

Hilang

tahun ini,
di lembar terakhir buku tulisku
tak ada lagi pahatan pena bertuliskan nama
dengan hiasan hati beterbangan di sampingnya

betapa hatiku hujan
tertindih pohon tumbang
dirobohkan angin topan
sebab kau telah pergi bersama senja
dan melangkah tanpa suara

untuk yang kesekian kau mencoba menyuruhku
merintih di pojok kamar
memutar kebahagiaan
yang sejatinya adalah prolog dari kesedihan

Annuqayah, 2019

Cintaku Purnama

Wan,
mungkin sebentar lagi hujan akan datang
memarahiku, memukuliku, dan menyuruhku
mengulang hal yang sama
namun, aku selalu ingat bahwa:
laut cemburu ketika
kusebut kau cinta

ombak membawa pergi namamu
ketika kutulis di bibir pantai
tapi apa peduliku pada laut
dia pernah menenggelamkanku
di kedalaman terdalam
membiarkanku menangis

Annuqayah, 2019

 

ini rasa
entah pantas atau tidak
sebab serumpun puisi yang kuanyam telah usai
lalu menyisakan rasa yang mungkin akan sengsara
ini rasa
yang tanpa sengaja kuteguk setelah pahit
tak peduli jika nantinya akan berdarah-darah
lantaran aku yang berani merasa tanpa aba-aba
sekali lagi ini rasa
yang entah sampai kapan akan berhenti
sedang puisi selalu mengajakku
menyebut namamu di setiap bait rinduku

Annuqayah, 2019

 

 

Kado kepada Imroa

Im, selamat berbahagia dan mengingat sejarah
merayakan hari yang membuat umurmu bertambah
rangkailah harap yang akan mengubur gelisah
orang-orang di sekitarmu juga ikut berdoa
agar lengkung di bibirmu selalu terlukis indah
rasanya ingin sekali paketkan kado termahal
namun puisi memintaku untuk segera melabuhkannya
menjadikan hadiah bagi umurmu yang tak lagi muda
Im, semoga kalender ke sembilan di putaran tanggal ke empat
adalah awal dari segala hal yang akan mengantarkanmu
pada tangga teratas

Annuqayah, 2019

Puisi Dee Kayisna

(Terantologi dalam “Sajak Arti Merdeka”, Medan)

Tumpah Darah Indonesia

Merdeka tak merdeka

Merdeka seruan Indonesia

Tak ada yang lebih merdeka

Dari tikus berdasi yang tak

Lagi korupsi

 

Tak ada yang lebih merdeka

Dari pemuda bangsa

Yang seharusnya ia turut

Memajukan bangsa

Namun malah ikut merusaknya

 

Nasib bangsa ada

Di ujung tombak masa

Penjajah tak lagi menggunakan

Dentuman mematikan

Melainkan kosmetik kecantikan

 

Merdeka tak merdeka

Kita sebagai generasi

Muda Indonesia

Marilah berjuang untuk

Menjadikan Indonesia

Sebagai negeri maju dan bermoral

 

Tumpah darah Indonesia

Berada di tangan pemuda

 

Annuqayah, 20 Agustus 2019

Dee Kayisna. Saat ini bermukim di Frasa. Puisi ini terantologi dalam lomba Sajak Arti Merdeka, Medan 2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.