PUISI UNTUK KIAI #Part2

0
539
Ilusrator: Fa_aljunaid

22.02.2019#KENANG

Februariku dalam malam,
Doaku sunyi tak pernah diam.
.
Malam dingin,
Sedingin munajatku yang tak banyak ingin,
Sediam doaku yang tak lagi seriuh angin.
.
Februariku dalam kenang,
Menepi pada bayang 6 tahun silam,
Saat sua masih dini,
Disini, di Lubangsa Putri.
———–
Perjalanan Oktober-Februari
.
Sua pertama, duduk di depan-mu,
Barangkali tak hanya karena serbaputih pakaianmu kala itu,
Tapi sungguh, cerah auramu menyejukkan,
Di bawah pengap terop ungu lembayung dan gemuruh tak kerasan.
.
Kau sebut itu, BINASABA,
Seraya berdiri, kau lepas balon karet itu ke udara,
Senyummu riang mengiringi,
Menambah teduh pikiran gersang yang mengumpat sedari tadi.
.
Kiai, bisik tetua kala itu.
———–
Perjalanan Oktober-Februari
.
Lekat sosokmu di kursi hijau selasa pagi,
Meski berkalang bantal dan tanpa secangkir kopi,
Tetap jelas ku dengar, makna kitab Ihya’ Ulumuddini,
Entahlah, mengapa selalu berbalut koran nan rapi.
.
Barangkali dirimu tahu, betapa ngantuk selalu menggoda diri,
Karenya, humor sufimu menjadi jeda sesekali,
Tawa ringan-pun mengalir di serambi,
Bersamamu, kiai, di selasa pagi.
———–
Perjalanan Oktober-Februari
.
Syahdu fatihahmu tak pernah meliburkan diri,
Terbuai alun, memandu amin para santri,
Betapa sangat waktu mengacakmu,
Namun masjid, tetap menjadi rumah yang kau rindu,
.
Lima waktumu tak penah meremang,
Meski tapakmu, mulai tampak gemetar,
Merdu adzan selalu memandumu dari arah selatan menuju gerbang,
Sebab ia tahu, ada seribu harap, menunggu sosokmu datang.

Lima waktumu tak pernah meluntur,
Meski melelah di senja usia, istiqamahmu tak pernah berlumpur,
Boleh jadi, kau abdikan diri pada tamu-tamu tak berwaktu,
Atau, pada undangan tak terhitung jarak, tuk sekadar merekam waktu bersamamu,
Namun bersama-Nya, adalah jamuan wajib tiada jemu.
———–
Masih di Oktober-Februari
.
Tak ada apa sebagai tanda,
Pun, tak ada alpa di harimu, masih seperti biasa,
Meski sekali waktu, kudapati jemarimu meraba tembok, perlahan, sesekali berjeda.
.
Elegi pagi 22 Februari
.
Menahan hujan dan menjadikannya gerimis, mengubah terik menjadi tatapan teduh,
Patrikor sabtu pagi, berbaur aroma dupa di tengah teriak yang gaduh,
Baitku luruh, runtuh.

(Annuqayah#Fa)


22.02.2019#RINDU

Langit yang hitam menjatuhkan jutaan pensil padaku, apa yang akan digambar di kertasku? Apakah rindu yang meluncur dari angin malamku?
.
Apalagi selain menggambar rindu, hanya ada pensil hitam dan bayangmu.
.
Pada pekat kabut kugambar garis partitur, barangkali akan terdengar olehmu, bait-bait doa rindu.
.
Telah kubisikkan namamu pada angin, semoga saja hujan mendengar dan lahir sungai abadi dari rintiknya, mengikis batu-batu dan seribu prasasti tercipta untukmu.
.
Dadaku bergetar kedinginan karena membawa seluruh rindu, maka kusibukkan diri menyalakan api, berharap menjelma bayangmu.
.
Mengingatmu dengan tanpa satu pun kata, menjadi puisi yang mengapung di udara, sekalipun tak menjelma kupu-kupu, siapa tahu akan sampai padamu.
.
Seperti rerumputan, rinduku pasti tumbuh, di gersang ingatan sekalipun, di gurun kenangan apapun.
.
Meski ada yang redup setelah senja, saat kau baringkan tubuhmu pada waktu.
.
Tak ada beda, detik, menit ataupun jam,
Tak ada beda, matahari terbit atau tenggelam,
Tak ada beda, bila semua berganti,
Karena tetap sama, kau tak disini.
.
Saat malam terlalu sunyi,
Kuredupkan cahaya di ujung menara sebelum pagi,
Bersama sepasang burung, akhirnya ku gambar rindu pada bait puisi, padamu, kiai.

di Februari-ku,
yang masih kelu.

(Annuqayah#Fa)


Persembahan di 22 Februari 2019, kepada KH. Abd. Warits Iyas (alm), di tanggal ini beliau berpulang, teriring doa seluruh santri PP. Annuqayah Lubanggsa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.