Puisi untuk Kyai

0
1419
Illustrator: Fa al-Junaid

Doa Kiai

; Drs. KH. Abdul Warits Ilyas

pukul tiga pagi

saat burung-burung masih tidur

di atas masjid

warna langit hitam-kelam

pendar cahaya lampu membentuk seamsal jalan

menuju negeri di atas awan

surga damai para kekasih

kubah masjid yang hijau

rekah dalam pekat

dari dalam jelaga

sebelum bunga-bunga mimpi bermekaran

ada yang lebih dulu bersunyi-sunyi

mengakrabi desir gelombang lautan doa

sajadah dan nasib seluruh dada dibasahi air mata

pukul sebelas malam

saat burung-burung telah tidur

ada yang masih duduk setia memutar biji-biji tasbih

merawat pohon istikamah di hatinya

agar tak layu bebunga iman

dan terus menerus ranum buah dawuh

yang jatuh dari sejuk bibirnya

sebentar lagi ayam pasti berkokok

membangunkan apa saja

selain doa kiai yang terus melambung di udara

Ibna Asnawi,

Annuqayah, September-Oktober 2018


Sabtu Bersama Duka

Seusai subuh mengetuk perantauanku

Mentari pucat tanpa hujan pagi ini

Izinkan aku kembali menyempurnakan diksiku

sebagai pengantar kopi hambar seusai telingaku miang pada ribuan doa

meski kembali dengan epilog sama, dan hari yang sama

sepanjang perantauan ini, masih belum kulunasi kealpaanku pada empat podasi ruang Tuhan tak bernada.

Sedangkan aku masih buta pada kitab peradaban yang telah lama mereka selami.

Dua bidang pipiku basah ketika tau takdir tak lagi selaras dengan Jalan Tuhan

Seratus, dua ratus  bahkan ribuan makhluk mengiringi kepulangan dua diantara mereka

Aku hanya dapat melantunkan ayat-ayat Tuhan setiap kali derap waktu ingin bicara

Dengan apalagi aku dapat memetik rindu kala sunyi lapuk pada setiap inci keilmuan,

Jikalau tidak dengan matra ketawadhuan mereka

Hingga akhirnya aku tau, hujan sabtu kali ini sebagai racikan duka dalam prosa umat.

 

Zakiyatul Miskiyah,

Annuqayah_LKC5, 30 Desember 2018


Kepulanganmu Sisakan Kenangan

                                  ; KH. A Warist Ilyas    

Pada Pebruari yang tertanggal

Bau dupa menjadi penghias lara

Ribuan dzikir terucap

Surat Yasiin tak henti-hentinya mengalun

Annuqayah hujan air mata

Sebab sang Empu telah sampai

Pada pusaran yang telah Allah gariskan

 

Pada Pebruari yang menanggalkan pilu

Masih terngiang jelas di benak

Akan kepulangan sosok karismatik K. H. A Warist Ilyas

Menghadap Sang Khaliq

Kiprahnya sebagai seorang pemimpin

Sekaligus pengasuh pondok pesantren Annuqayah

Telah mampu menggelarkan beliau

Sebagai salah satu panutan rakyat.

Kewibawaannya telah tersohor

Tak hanya di kalangan pulau madura

Tingkat nasionalpun mengenalnya

Sebagai sosok ulama di Sumenep.

Sosok beliau yang sopan dan santun

Tidak pernah over lappin

Kesan yang paling melekat di mata orang-orang terdekat.

Beliaulah yang mampu menjadi potret

Sosok yang penuh disiplin, baik dalam soal waktu

Dalam bersikap, maupun dalam bekerja.

Sederhana, penuh pengabdian dan istiqamah

Adalah motto hidup beliau.

 

Oh, beliau yang tegap dan beribawa

Guru dari ribuan santri

Yang disegani baik kawan maupun lawan

Kepulangannya telah meninggalkan

Sembilu di alam raya

Semoga Allah menempatkannya di surga-Nya

Hanya dzikir dan do’a

Yang mampu kami munajatkan pada Allah

Sebagai salam hormat untuk beliau

Dari kami yang menumpang diri.

                                                                                                         Helmiyah Marsya,                                                                          Annuqayah_LKC6, 30 Desember 2018 M.

                                   “Sudah menjadi cita-cita saya, bagaimana nanti masyarakat islami                                            benar-benar dapar terwujud” (K. H. A Warist Ilyas)


Permata Annuqayah

: KH. A. Warits Ilyas

Sebelum waktu memperkenalkanku

Pada samudera ilmu Annuqayah

Kabar kepergianmu telah sampai

Di bumiku seberang timur daya sana

 

Aku hanya menganga

Bulu kudukku bertanya-tanya

Benarkah Annuqayah telah kehilangan satu permata?

 

Semua orang pada berunding air mata

dan kesengsaraan yang menjajah hati mereka

perihal cinta yang hilang ditelan nyata

 

Aku diam mengatupkan

Kedua pelepah bibir

Lantaran ketidaktahuanku

Atas maut yang menjemputmu, Kiai

 

Kabar berkisah bahwa

Lazuardi berubah hitam

Mengucurkan air mata kala itu

Bukan hanya perasaan dan emosi

Yang tak merelakan panjhenengan pergi

Melainkan semua makhluknya

Sang Khalik ikut bermaktub

Memujamu untuk kembali

 

Kiai,

Pada saat takdir menyeretku masuk

Ke taman indah Annuqayah

Hanya bekas jejakmu yang menyambut

Jiwa dan akalku yang kosong

Aku meramu niat

Menajuknya dalam kesetiaan

Setia mengabdi dan

Setia berunding hati dengan kondisi

 

Kiai,

Dengan kelancangan

Karena tanpa pertemuan

Abdhina mohon ridhamu

Atas ilmu yang membelai lembut kalbu

 

Erliyana Muhsi, Annuqayah LKC5, 30 Desember 2018


Semalam Menghibur Diri

 Kami sengaja membendung hati

Membiarkan cerita kami dinikmati oleh langit, dinikmati oleh bumi

Tentang waktu berduka yang terulang di hari ini

 

Maghrib Annuqayah

Pelan-pelan kami mulai membuang resah

Pada plastik makanan atau belukar di halaman

Barangkali maghrib ini benar-benar dirindukan

Sebagai bentuk ketabahan dan penghormatan untuk Kiai yang tak terlupakan

 

Di malam bertabur yasin dan wiridan

Keringat kami seperti hujan

Menumbuhkan bulu kuduk dan ingatan

Tentang tingkah laku kewibawaan atau nuansa pilu air mata kepergian

 

Meski di waktu itu kami adalah bocah ingusan

Yang belum pernah saling berpapasan

Tapi ayah dan guru-guru kami

Akan tetap mengenang luapan cinta keadilan

Yang sejak dulu telah tumbuh menjadi keyakinan

Bahwa kami kelak juga akan menjadi santri Kiai kebanggan

 

Cahaya bohlam dan gemintang ikut berderu

Ketika pekik suara burung seperti menabuh hati

Berputar-putar mengitari kubah masjid

Kemudian diulang beberapa kali

 

Di sisi lain kami hanya bisa menyelami kata hati

Berbicara setabah-tabahnya nurani

Kami yang mengunci ingin rapat-rapat

Mengemban amanah menjadi santri

atau menjadi sayap burung yang bergegas pergi

Kembali ke tempat asalnya dengan membawa janji dan mimpi kami

 

Doa kami disaksikan langit dan bumi

“Semoga kami bersamamu di surga nanti”

 

Ratna Wulandari, Annuqayah LKC5 30 Desember 2018

Persembahan di Haul

KH. A. Warits Ilyas yang kami cintai

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.