Sejarah

Kiai Syarqawi merupakan keturunan Ulama (muballigh) dari Kudus. Beliau melanjutkan pendidikan ke Mekkah, setelah istri beliau wafat. Di sana, beliau punya sahabat orang Madura (Prenduan Sumenep), namanya Kiai Gema. Beliau begitu akrab dengan sahabatnya itu (Kiai Gema). Sementara itu, Kiai Gema ke Mekkah bersama istrinya. Namun, takdir berkata lain, Kiai Gema ternyata dipanggil ke hadirat Allah terlebih dahulu. Dan konon, saking akrab dan percayanya Kiai Gema kepada Kiai Syarqawi, sebelum meninggal Kiai Gema berwasiat agar Kiai Syarqawi berkenan mengawini istrinya setelah beliau tiada. Maka, setelah habis masa iddah, Kiai Syarqawi mengawininya dan ikut ke Madura. Sementara itu, sebelum meninggalkan Kudus, Kiai Syarqawi sudah mempunyai putra dari istri pertama beliau bernama Kiai Muhammad As’ad.

Lubangsa merupakan cikal bakal lahirnya Pondok Pesantren Annuqayah yang sejak awal diasuh oleh Kiai Syarqawi, yang saat ini telah memiliki 11 daerah, termasuk daerah Lubangsa.. Pada masa Kiai Syarqawi al-Kuddusi, Lubangsa adalah Annuqayah; Annuqayah adalah Lubangsa. Kemudian pada generasi selanjutnya, barulah Lubangsa menjadi sebuah daerah pondok pesantren yang ada di bawah naungan Annuqayah. Hal ini dikarenakan berpindahnya putra-putri Kiai Syarqawi ke daerah lain, yakni KH. Abdullah Sajjad berpindah ke sebelah Timur Lubangsa (saat ini Latee); Ny. Aisyah pindah ke Sawajarin, Timur Laut Lubangsa (saat ini Al-Furqan); dan Kiai Ilyas sendiri menetap di Lubangsa.

Awalnya, Kiai Syarqawi hanya bermodalkan sebuah gubuk kecil. Kiai Syarqawi pun mulai berdakwah mengajar Al-Qur’an dan dasar-dasar ilmu agama kepada masyarakat. Tidak seberapa lama, banyak santri yang datang dari berbagai daerah ke tempat beliau (Lubangsa) untuk belajar. Di antara santri beliau adalah RKH. As’ad Syamsul Arifin (Sukorejo Situbondo).

Setelah 23 tahun lamanya, Kiai Syarqawi memimpin pesantren “Luk-Guluk”, begitulah masyarakat mengenalnya, akhirnya beliau wafat pada bulan Januari tahun 1911 M. Selanjutnya, pesantren dipimpin oleh putra beliau dari istri pertama, yaitu Kiai Bukhari, dibantu oleh Kiai Moh. Imam (Karay Ganding Sumenep).

Sejak tahun 1917, kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh salah satu putra Kiai Syarqawi yang lain, yaitu Kiai Ilyas Syarqawi. Pada masa Kiai Ilyas Syarqawi inilah pesantren Annuqayah mengalami banyak perkembangan. Setelah Kiai Ilyas wafat, pada tanggal 29 Desember 1959, kepemimpinan digantikan oleh Kiai Amir Ilyas (putra Kiai Ilyas Syarqawi). Namun, tidak begitu lama memimpin Lubangsa, beliau pindah ke Sumber Dadduwi (Barat Laut Lubangsa) yang merupakan pemberian masyarakat, sehingga kepemimpinan Lubangsa diganti oleh Kiai Ishomuddin (menantu Kiai Ilyas Syarqawi, Suami Ny. Nadliratun Ilyas). Sekitar tahun 1973, Kiai Ishomuddin pindah ke Selatan Lubangsa (sekarang Lubangsa Selatan) dan pada tahun itu pula Kiai. Warits Ilyas kembali ke Guluk-Guluk setelah mengenyam pendidikan di Jember untuk menggantikan Kiai Ishamuddin menjadi pengasuh PP. Annuqayah daerah Lubangsa. Setelah 41 tahun memimpin Lubangsa, akhirnya pada tanggal 22 Februari 2014 M., beliau wafat yang kemudian kepemimpinan pesantren digantikan oleh putra kedua beliau dari 8 bersaudara, yaitu Kiai Muhammad 'Ali Fikri. Kepemimpinan tersebut berjalan sampai saat ini.