Setelah Jatuh

0
240
Sumber: Pinterest

Oleh: Ulfade*

Umurku tujuh belas tahun, aku menggenapinya satu minggu yang lalu dengan perayaan sederhana di rumah bersama Ibuku. Berdua saja, jangan tanyakan Ayahku kemana, sebab aku mengenal dunia tanpa sosok Ayah di sampingku. Ibu bilang di usia tujuh bulan di perutnya Ayah pamit berangkat bekerja ke negeri seberang dan sampai saat ini belum juga kembali.

Dan dua malam setelah hari ulang tahunku, Ibu menerima tamu seorang lelaki yang berumur tak jauh dibawah umur Ibu, ia memberiku kado yang sepertinya tidak murah. Sebuah gelang kecil berlian. Aku terkejut karena tidak pernah melihat lelaki itu sebelumnya, namun Ibu begitu antusias menerima kado yang lelaki itu sodorkan kepadaku. Dari keakraban yang kulihat, aku menyimpulkan mereka saling mengenal jauh-jauh hari.

“Ar..” suara Ibu dari luar kamar mengembalikan pikiranku yang sedari tadi melayang.

“Ya, Bu. Masuklah pintunya tak kukunci.”

Ibu masuk dan duduk di tepian tempat tidur, menatapku dengan sorot mata teduhnya.

“Boleh Ibu bicara?” aku menangkap nada yang serius dari ucapannya, aku mengangguk dan menghadapkan tubuhku pada Ibu.

“Ibu meminta restumu, Ar. Untuk menghadirkan sosok Ayah di hidupmu. Karena menurut Ibu, sudah tak ada gunanya menunggu kepulangan Ayahmu.” Aku tertegun, segera memahami maksud semua ucapan Ibu, seketika kepalaku dipenuhi dengan kisah-kisah di televisi yang menggambarkan sosok Ayah tiri yang hanya baik pada anaknya di hadapan Ibu.

“Bagaimana menurutmu, Ar? Ibu menunggu persetujuanmu, kalau kamu keberatan, Ibu tidak akan memaksa.” Ibu membuyarkan pikiranku seketika, aku menghela napas panjang.

“Ara tidak bisa menjawab sekarang, Bu,” Ibu hanya tersenyum sekilas, mengangguk, lalu beranjak keluar meninggalkanku sendiri.

-de-

Ibu tidak sedang di rumah ketika lelaki itu datang bertamu. Aku menerima dan mempersilakannya duduk di kursi teras.

“Ara, apa kabar?” ia memulai percakapan.

“Baik,” aku menjawan terbata, canggung. Sekilas aku menangkap matanya tak lepas memperhatikanku, aku menunduk dalam-dalam. Tak banyak yang dibicarakan ia lalu pamit pulang dan berpesan, tak perlu memberitahu Ibu bahwa ia datang. Aku mengangguk dan mengantarkannya sampai pagar depan.

-de-

Lelaki itu semakin sering datang bertamu, tak jarang ia membawakanku sesuatu. Entah itu makanan, atau barang yang kubutuhkan dan ia selalu mengingatkanku agar tidak memberitahukannya pada Ibu. Entah apa maksudnya, namun aku tetap mengiyakan tanpa bertanya.

Hari ini kali ke sebelas ia datang berkunjung. Membawa kotak kecil di tangannya, seperti biasa aku mempersilakan ia duduk di kursi teras.

“Hari ini apa kabar, Ar?”

“Baik, seperti yang kau lihat,” jawabku tersenyum. Entah kenapa akhir-akhir ini aku  mengharap kedatangannya. Dan merasa nyaman setiap ia berada di dekatku.

“Aku membawakanmu sesuatu, lihatlah!” ia menyodorkan kotak yang sedari tadi ia pegang. Ragu aku mengambil kotak kecil dan membukanya perlahan. Mataku terbelalak begitu melihat isi kotak yang kini ada ditanganku. Seuntai kalung dengan liontin huruf A.

“Untukku?” aku ungguh tidak percaya. Ia tersenyum jenaka, lalu tangannya bergerak mengambil kalung di tanganku dan mendekatkan tubuhnya padaku, memasangkan kalung tersebut pada leherku. Aku menghirup aroma maskulin drai tubuhny yang kini hanya tinggal sejengkal dari hidungku.

“Cantik,” gumamnya pelan begitu kalungnya melingkar manis di leherku, aku terenyum menatapnya, ia membalas tatapanku. Dadakuy berdesir, sorot matanya meneduhkan, tanpa kusadari kedua tangannya menggenggam tanganku erat.

“Aku menyayangimu, Ar,” aku tergagap, segera menariktanganku dan beringsut menjauh. Wajahku memanas. Aku melihatnya melakukan hal yang sama.

“Maaf. Aku pamit pulang saja, sepertinya hari sudah sore. Semoga suka pada kalungnya.” Setelah berkata demikian, ia berdiri lalu mengecup keningku cepat. Ake terhenyak dan terpaku di tempat, tidak mengantarnya sampai di pgar depan. Dadaku berdetak cepat dan sesak dengan perasaan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Tiba-tiba bibirku membentuk senyum.

-de-

 Setelah beberapa waktu Ibu mengutarakan niatnya untuk bersuami, Ibu sama sekali tidak membahasnya lagi, dan hari ini telah kusampaikan bahwa aku merestuinya sebab Ibu berhak bahagia.

“Nanti malam kita makan malam di luar, Ibu akan mengajak calon Ayahmu untuk menyampaikan kabar bahagia ini,” ucap Ibu dengan wajah berbinar. Aku mengangguk mengiyakan. Aku harap ini benar bahagia.

Malam harinya, tepat pukul 21:00, aku bersama Ibu sudah tiba dan segera mengambil tempat duduk tak jauh dari pintu di salah satu restoran. Wajah Ibu tak henti mengukir senyum.

“Selamat malam, apakah belum terlambat?” Suara yang tidak asing, aku segera mendongakkan kepalaku yang semula menunduk. Lelaki itu…

Ia duduk di sebelah Ibu tepat di hadapanku. Seketika ruang restoran ini terasa menyempit, dadaku sesak. Aku paham sekarang.

“Tidak, kami belum lama sampai,” sahut Ibuku. Ia lalu menatapku, sorot matanya tak dapat kumengerti. Aku menunduk. Ini kali pertama aku jatuh cinta dan ia calon suami Ibuku.

Annuqayah, 2019.


 *Cerpen ini dimuat di portal daring kawaca.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.