TADI MALAM 

0
302

(17 Juli 2019)

Bukan karena tidak ada bahan cerita yang lain, tapi cerita ini barangkali bisa menjadi narasi yang mampu meningkatkan kualitas syukur kita. Ya, ini masih tentang ia dengan inisial A.P, santri baru asal Bekasi di Annuqayah Lubangsa Putri.

Kamarin, ia mulai belajar di ruang kelas sebagai siswi baru diniyah Baramij al-Tarbiyah wa al-Ta’lim. Ia duduk di paling depan, dengan kitab dan alat tulis di tangannya. Entah apa yang tejadi saat proses pembelajaran berlangsung, tapi sepulang dari kelas diniyah ia langsung menghampiri kami dan meminta untuk diajarkan do’a belajar: “Anak-anak di kelas sebelum mulai belajar, berdoa, itu doa apa? saya ingin belajar”, tuturnya. Barangkali pembaca bertanya-tanya, doa apa yang ia maksud, hingga seperti begitu asing baginya. Doa itu tidak lain adalah doa “rabbi zidni ilma”.

Kami benar-benar tidak punya bayangan seperti apa proses belajar yang ia jalani sebelumnya, hingga doa yang sangat masyhur ini seperti tidak pernah ia dengar. Barangkali kehidupan yang ia jalani sebelumnya, benar-benar kehidupan metropolis yang sepi dan kosong dari ritual-ritual seperti yang ia bingungkan saat ini. Tapi tak apa, setidaknya hari ini dia bersama “kami” di Annuqayah, yang semoga mampu mengisi “kesepian” dan “kekosongannya”, tahap demi tahap.

Lanjut cerita, malamnya ia menangis. Tangis isak pertama setelah 8 hari ada di Lubangsa Putri. Saat ditanya, ia tidak kunjung menjawab. Sampai akhirnya, karena agak sedikit dipaksa, ia berujar bahwa: ia sedang sangat merindu adik (tiri)nya. Tangis isak ini tidak hanya karena ia berkilometer jauhnya dari sang adik, namun juga karena ia belum sempat berpamitan. Terlebih lagi ia tidak bisa berkomunikasi via telepon sebab tidak tahu nomor ponselnya. Dan entah kenapa, ia juga enggan untuk menghubungi orang-orang yang diperkirakan tahu nomor ponsel adiknya ini. Karena ranah privasi, jadi kami tidak melanjutkan percakapan di bagian itu.

Tak banyak yang bisa kami perbuat, hanya sekadar menghibur agar isaknya tidak kian larut. Salah satu dari kami memberikan usul agar isak rindunya ia tumpahkan dalam doa shalat tahajjud. Dalam isak yang masih dalam, ia mendongak dan terdiam sejenak, sebelum kemudian berkata: “shalat apa itu? kayaknya saya pernah mendengar namanya”. Kami saling tatap, hening sejenak, dan ia menunggu, menunggu jawaban. Hingga jawaban itu ia dapat dari orang yang berada tepat di sebelahnya, jawaban sederhana, yang mampu membuatnya ingin dibangunkan di sepertiga malam, untuk belajar shalat tahajjud.

03.00 WIB
Tiba waktunya ia dibangunkan, dan ia benar-benar bangun. Terlihat dari wajahnya, bahwa ia paham kenapa ia dibangunkan di dini hari yang masih lengang. Beranjak, berwudu, memakai mukena, duduk bersila, dan kemudian bertanya: “Bagaimana niat dan gerakannya?”. Ia pun menyimak dengan air wudu yang masih menetes di wajahnya. Sebagaimana dinarasikan dalam cerita sebelumnya, bahwa ia termasuk gadis yang cepat belajarnya, jadi mudah baginya untuk menghafal lafal niat meski dalam bahasa Indonesia. Tidak lama untuk membuatnya mengerti bagaimana gerak dan apa saja yang harus dibaca, sebab ia menyimak seperti penuh kebulatan dan kerendahan hati di suasana malam yang seperti segar baginya.

Ternyata, ia juga termasuk gadis yang kritis. Sebelum berdiri, ia punya satu pertanyaan lagi: “Apa bedanya dengan shalat shubuh? Apakah harus ada doa di tengah shalatnya juga?” (yang ia maksud doa di tengah shalat adalah qunut). Dengan sedikit penjelasan tambahan, ia mulai benar-benar mengerti. Malam masih hening, dan penjelasan kami sudah usai. Ia kemudian berdiri di belakang kami, dan memulainya dengan basmalah. Proses itu (saya) amati tanpa ia tahu. Subhanallah, hanya Tuhan yang bisa menilainya. Namun, do’a ini semoga terkabul untuknya.

“Ya Allah, barangkali gerakan dan bacaannya masih belum sempurna, bahkan jauh dari sempurna. Namun mohon, hitunglah kemauannya untuk belajar sebagai proses yang akan Engkau bimbing menuju kesempurnaan. Mohon hitunglah detik sujudnya sebagai gadis yang menghambda dan mendamba pertolongan-Mu. Mohon hitunglah tangis yang ia tumpahkan sebagai rasa rindu kepada-Mu, setelah sekian lama ia tabu bukan karena kelalaian diri, tapi karena berjalan di atas padang pasir yang tak kunjung berair”.

Proses itu usai, sepertinya ia mengantuk, tapi ia tidak tidur, ia menahannya dengan meniru orang-orang di sekelilingnya. Memutar tasbih, satu demi satu. Memutar tasbih berarti ada wirid yang ia ucapkan, (saya) menoleh dan bertanya tentang wirid apa yang ia ucap. “Saya membaca wirid yang saya ingat dari proses shalat jama’ah, astaghfirullāh dan al-hadulillah”.

Ternyata, ia meminta ampunan dan bersyukur, dalam arti yang sebenarnya, meski mungkin dalam kesadaran yang tidak sepenuhnya. Lā haula walā quwwata illā billāhi al-aliyyi al-adzīm…
Semoga proses ini bersama dekap doa kita semua.

Semoga bermanfaat.


Penulis: Faizatin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.