Yang Unik dari Binasaba 2019

0
177
Barisan gayung milik santri baru dalam kegiatan praktik tata cara bersuci. Foto: Inayah Awf.

Riuh suara peserta Binasaba mulai hilang ditelan waktu. Penutupan yang diselenggarakan pada Ahad malam (1/9)  menjadi penanda berakhirnya seluruh rangkaian orientasi santri baru tahun ini. Harapan dari awal mula kegiatan ini dicanangkan, membimbing santri baru menjadi benar-benar santri yang sesuai dengan visi-misi pondok pesantren Annuqayah, semoga dapat diamalkan bersama usainya Binasaba tersebut.

Binasaba tahun ini tidak berbeda secara substansial dengan Binasaba pada 5 tahun terakhir. Mengulang sejarah 6 tahun silam, Binasaba kali ini, kembali menghidupkan “tradisi” yang telah lama hilang dari pusaran peradaban santri Lubangsa Putri. Sebuah “tradisi” sederhana dan “remeh”, namun dampaknya dapat dirasakan hingga kemudian hari.

“Tradisi dimaksud itu ya praktik tata cara bersuci. Ya wudhu’, mandi, dan seluruh kegiatan bersuci lainnya. Memang kedengarannya tabu, tapi ini urgen bagi santri. Sebab (ber)suci merupakan syarat ibadah.” Tutur Faizatin, ketua pengurus PP. Annuqayah Lubangsa Putri.

Di bawah arahan dan pengawasan pengurus PPA. Lubri, praktik tata cara bersuci itu dilaksanakan pada Jumat (30/09) secara serentak. “Banyak santri baru yang memang belum tahu tata cara wudhu’ atau mandi yang benar. Mandi yang benar maksudnya mandi yang “tidak belepotan”, yang meskipun sudah mandi, tapi tetap najis di sana sini.” ujar Siti Nur Jannah, Koordinator Pengurus Bimbingan dan Pengembangan Keislaman (BPK). Pihaknya mengharapkan “tradisi” ini tetap dilestarikan hingga tahun-tahun mendatang.

Nur Fauqa Nur Nafila Dars, salah satu peserta Binasaba mengatakan, “saya suka dengan adanya praktik tata cara besuci ini. Yang saya suka juga dari Binasaba yaitu ketika ziyarah maqbarah para masyayikh. Dengan itu, saya tahu cara bersuci yang benar dan juga saya menjadi tahu lokasi maqbarah para masyayikh Annuqayah.”

Kesungguh-sungguhan dan kesabaran dalam membimbing santri baru merupakan dua kata kunci yang mesti dimiliki oleh pengurus. Tanpa kedua hal itu, orientasi ataupun bimbingan dan pembinaan terhadap santri baru hanya merupakan formalitas belaka, tanpa gaung keilmuan di dalamnya.


Penulis: Nur Fadiah Anisah

Editor: Nuri Kh. Nafisah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.