Kemunafikan, Reinkarnasi Manusia yang Bertopeng

0
508

Oleh: Jamalul Muttaqin*

Diceritakan dalam sebuah al-Qur’an, tentang seseorang yang tidak bisa memfungsikan semua organ tubuhnya, telinganya tuli, matanya buta, mulutnya bisu. Ia tidak bisa menangkap cahaya kebenaran, ia tidak bisa mendengar sepatah katapun dari orang-orang di dekatnya, ia tidak bisa berbicara kebenaran untuk orang-orang yang membutuhkannya, tak ada potensi untuk bisa menerima keimanan walau hanya sececap. Saat ada gemuruh halilintar ia menyumbat kuping-kupingnya dengan seluruh jari-jarinya, seakan-akan ia hampir disambar dengan kilatan-likatan petir. Seorang tadi tidak lain adalah orang-orang yang sangat berbahaya kepada siapa saja. Ia seorang yang bebal dan sangat bodoh sekali (dalam surat al-Baqarah: 17-23).  

Cerita tadi menjadi pengantar hangar saat ajian tafsir al-Qur’an yang diampuh kiai Muhammad Shalahuddin, M. Hum, berlangsung, sejenak penulis mulai merenung dan menggambarkan bagaimana miniatur yang tepat untuk mereka. Ya, mereka adalah al-munafikun, golongan orang-orang yang munafik, adalah golongan orang-orang yang sulit sekali ditebak karena ia (baca: orang munafik) bermain di atas dunia hitam dan putih, sekali ia bisa menjadi hitam (setan) sekali ia bisa menjadi putih (malaikat). “Mereka itu, adalah orang yang bahkan tidak percaya terhadap dirinya sendiri, ia tidak percaya terhadap apa yang diucapkan oleh dirinya,” kata Ra Mamak, sapaan calon doktor muda di UGM itu.

Jika digambarkan, orang munafik itu ibarat sebuah rumah yang tidak ada lampu penerangnya, sebab lampu penerang itu dicabut oleh sang empunya rumah. Sang empu sadar bahwa lampu itu bukan rusak, memang sengaja tak diberi lampu penerang, lampu adalah sebuah tamsil keimanan, sedang rumah adalah sebuah wujud dari manusia itu sendiri. Sebab itu, bagi Ra Mamak tak mungkin untuk dihidupkan atau disembuhkan akan keimanan itu kecuali atas izin Allah. Sebab, hati mereka sudah dijangkit penyakit yang sedimikian parah.  

Ma hua syifa’? Lalu, apa penangannanya perihal hati yang sakit itu? Maka, lanjut Ra Mamak, tidak lain adalah dengan cara mengembalikan keimanan, yaitu dengan keimanan yang sejati dan dengan keimanan  yang benar-benar tulus, al-iman al-hakiki assodiq. Sebuah kegelapan rumah tadi, memang kerena ketiadaan cahaya maka untuk menerangi sebuah rumah yang gelap gulita adalah dengan menghidupkan kembali lampu yang telah mati. Sebab kegelapan itu pada kenyataannya memang tidak ada, kegelapan adalah ketiadaan cahaya sebagaimana Syuhrawardi  mengatakan, bahwa semua penciptaan di dunia adalah dengan cahaya-Nya. Pada kenyataannya kegelapan itu tidak ada. Bagi orang menafik ketiadaan cahaya artinya ketiadaan iman, tak ada ruang dalam hatinya untuk menerima secercah keimanan  yang dimaksud dalam al-Qur’an tadi.

Di sinilah, penulis berfikir tentang bagiamana orang-orang munafik tadi terjerumus dalam kubangan kegelapan, kendati demikian, kadang kebenaran yang ia katakan akhirnya menjadi sebuah fragmen fiktif atau kebohongan-kebohongan untuk menutupi dari kebohongan-kebohongan yang mereka buat sendiri, “mereka berkata benar hanya untuk menutupi dari kebohongan tadi,”. Maka, semakin ia berbohong semakin bertambah pula penyakitnya, sehingga otomatis ia sangat lemah untuk menerima keimanan, sebab semakin bertumpuknya kebohongan.

Cerita di atas tadi, berbeda dengan kekufuran, orang yang kafir memang tidak percaya terhadap Allah, sedang orang munafik tidak percaya kepada siapapun, bahkan kepada dirinya sendiri ia tidak percaya apalagi kepada Allah. Entahlah, itu sangat mengerikan sekali, parahnya kemunafikan bisa hinggap kepada siapa saja, karena sifatnya yang lunak dan fleksibel, ia bisa hinggap kepada orang mukmin dan kepada orang kafir, ia bisa mengancam kepada siapa saja, karena pada ruas-ruas tertentu “kemunafikan” bisa mendatangkan kenikmatan dan sekaligus bisa mendatangkan penderitaan, pasalnya, Allah menempatkan mereka di dasar neraka yang paling dalam (fi asfali al-annar).

Logikanya: kemunafikan bisa menyergap atau menyerang dengan wajah-wajah yang berbeda, penulis sering menjumpai orang-orang yang demikian, bisa mereka berwajah sebagai seorang kekasih yang pura-pura tulus mencintai; padahal sebatas harapan palsu penuh alibi, bisa ia berupa seorang sahabat dan menjadi lawan karena persoalan politik dan beda ideologi, bisa saja ia menjadi guru kita yang kadang-kadang ia ingin mendapatkan kehormatan atas jasa dan dedikasi yang diberikan dengan rupiah dan materi. Norak sekali. Maka berbanding terbalik dengan orang kafir yang secara objektif mereka adalah orang-orang kesatria yang tidak menerima keimanan, begitupun dengan orang mukmin yang pada hakikatnya mereka menerima keimanan itu sendiri.

Dalam konteks yang lebih fokus lagi, bicara soal orang munafik adalah bicara manusia yang bertopeng. Tak jarang penulis terperangkap dengan kehidupan-kehidupan orang munafik tadi, paling banter mereka mengobral janji yang pura-pura dipoles dengan ketulusan, memang sudah tak kepalang saat terserang kasmaran, penulis sangat susah move one, misalnya: “aku janji setia kepadamu, aku janji akan mendapingimu, aku janji akan menjaga hubungan kita, aku janji-janji,” wkwk… Janji seorang kekasih bisa sepadan dengan janji sorang politisi saat kampanye pemilihan, seakan nyata padahal dusta, seakan cinta padahal murka.   

Maka setidaknya, dimensi kemunafikan itu dapat dirasakan dengan sikap yang ditunjukkan tadi. Kalau ia mau membuka topengnya, kalau saja ia tidak mau sebaliknya ia sulit untuk ditebak, kesulitan kesulitan itu dicecar oleh Rasulullah karena tiga tipologi sifat orang munafik. Tipologi tersebut sangat membahayakan, pertama, ketika berbicara ia selalu bohong, picik, dan berdusta. Kedua, jika melakukan perjanjian selalu melanggar, selalu tak tepat waktu, selalu ada alasan untuk melanggar perjanjian, taruhlah contoh di sini kasus Muawiyah dengan Ali bin Abi Thalib, karena Muawiyah melanggar arbitrase perdamaian maka kalahlah Ali. Ketiga, jika dipercaya ia khianat, ia tidak bisa diberi tanggung jawab, apalagi tanggung jawab untuk memimpin sebuah negeri, bisa hancur negara ini.

*Untuk kali ini, penulis adalah santri yang susah Move One dari masa lalu.

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak