22 Oktober 2017, “Spirit Santri Meneguhkan NKRI” Gegap Gembita Peringatan Hari Santri Nasional

0
472

 Ponpes Nurul Jadid, Paiton Probolinggo

Laporan: Jamalul Muttaqin*

(Wartawan Koran Lubangsa.org)

Memasuki bulan Oktober 2017 memasuki bulan penuh kegembiraan bagi kaum santri, bulan kemenangan sekaligus bulan kemerdekaan Indonesia menurut jejak historis perjuangan kaum santri—di mana Revolusi Jihad—pernah digenderangkan oleh KH. Hasyim As’yari untuk melawan tentara sekutu yang bertandang di Surabaya.

Kemarin, tepatnya pada bulan September (30/09), adalah hari berkabung bagi santri, hari penuh luka dan menyedihkan. Tidak hanya para pahlawan revolusi kemerdekaan dan para TNI-AL yang berduka, akan tetapi santri juga merasakan romantisme luka lama yang tersobek-sobek oleh penghiantan G30S/PKI. Banyak para kiai dibunuh, banyak para santri dikubur hidup-hidup, pesantren-pesantren diserang dan dibakar, sungguh perlakuan yang sangat biadab dan tragis.

Syahdah, hari September yang kelabu berganti dengan hari Oktober yang cerah; seakan masa depan ada di tangan-tangan para santri yang memiliki semangat nasionalisme membela bangsa, semangat cinta tanah air yang menyulut jihad fi sabillah, semangat yang menurut K. Wahab Chasbulla “hubbul watan minal al-iman” tertancap kokoh di dalam dada para santri.

Sudah tiga tahun berlalu saat Keputusan Presiden Indonesia (Kepres) Nomer 22 Tahun 2015, saat tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional (HSN) oleh Presiden Jokowi, seakan masih beberapa hari yang lalu perintah Jihad melawan para kolonialisme diserukan oleh K. Hasyim Asy’ari. Dari fatwah jihad itu, banyak kegiatan yang digelar untuk memperingati HSN di berbagai kota dan pesantren dengan kegiatan-kegiatan serimonial yang meriah bagai meletusnya kembang api. Tidak lain, semua kegiatan adalah bentuk syukur atas kemenangan para santri sebagai pemimpin revolusi pada Hari Pahlawan, 10 November saat melawan tentara sekutu di Surabaya.

Berkungjung Ke Ponpes Nurul Jadid, Paiton;

Temukan Pengalaman Spirit Nasionalisme dengan Semarak Kegiatan HSN.

Kemarin (20/10) saya mendapat undangan khusus dari Panitia Penyelengara Hari Santri Nasional (HSN), di Pondok Pesantren, Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo Jawa Timur. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh IPNU Jatim, Student Crisis Center, dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang berkerja sama dengan Ponpes Nurul Jadid, Paiton serta Gerakan #Ayo Mondok.

Pada pagi yang cerah sekitar pukul 07. 00 Wib, saya naik Bus Damri dari Terminal Probolinggo ke Painton (sebelumnya dari Prenduan-Probolinggo), sekitar satu jam kaki saya sudah menapaki pintu gerbang Ponpes Nurul Jadid, Paiton. Mas Nadjib, panitia HSN menelpon saya untuk menunggu penjemputan, tak lama ada mobil Avanza hitam menghampiri saya, ternyata panitia. Tanpa basa-basi, saya masuk ke dalam mobil. Panitianya sangat ramah. Berbincang-bincang berbagai hal di dalam mobil sampai pada asal mondok, identitas, dan tentu bukan soal tunangan. Wkwkwk..

Masuk ke dalam area kompleks Nurul Jadid, saya langsung disambut oleh Mas Nadjib yang beberapa hari lalu menelpon saya untuk menghadiri kegiatan HSN di Paiton. Layaknya seorang tamu istimewa, saya diberi fasilitas, yang menurut saya, sudah lebih dari cukup. Sebuah wisma di lantai dua dan sebuah kamar mandi, serta makan yang diatur dengan berbagai menu yang berbeda-beda. “Selamat di Pesantren Nurul Jadid, maaf jika fasilitas kami tidak memadahi,” katanya rendah hati. Meski saya pikir ini jauh berbeda dengan kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan di Ponpes Annuqayah. Ya, taruhlah dari segi fasilitas dan suguhan. Saya hanya tersenyum simpul.

Setelah ditunjukkan sebuah kamar, Mas Nadjib meninggalkan saya untuk istirahat. Saya mengunakan waktu istirahat dengan maksimal sebelum waktu kegiatan HSN dimulai. Di wisma, sudah ada sepuluh teman saya yang menunggu, baik dari UGM Yogyakarta, Mas Vowas, Uin Semarang (saya lupa), dan dari Jombang, Mas Yasin, serta ada lima orang peserta putri dari berbagai kampus bergengsi, dari Universitas Negeri Surabaya (UINSA), UNISMA, UNIJ, dan terakhir saya lupa juga. Ehek. Ehek…Untunglah, di sana saya ditemani seorang mahasiswa dari IAI Nurul Jadid, Painton (tuan rumah, Red). Namanya, Dzull Fikar, nama yang langsung dapat saya ingat sebuah nama yang dilagukan oleh Bang Haji Roma Irama.  

Menurut Mas Dzul sapaan Dzul Fikar, kegiatan HSN diselenggarakan untuk memeriahkan hari santri nasional, ya HSN. Sudah lima  hari kegiatan tersebut berjalan (18-22/10), mulai dari lomba, mimbar santri, seminar umum, upacara, kirab, makan bersama ala santri hingga formasi mozaik dengan beribu santri. “Tiap harinya kegaitan ini diisi dengan belbagai kegiatan skala nasional, baik seminar ataupun lomba,” katanya.

Berbagai narasumber seminar yang sudah hadir di antaranya, ada: Prof. Dr. H. Nur Syam, Sekjen Kemenag RI, Direktur Pontren Kemenag RI, Dr. H. A. Umar, MA, Direktur KSKK Madrasah Kemenag RI, Dr. Saiful Rachman, MM, M.Pd, Kadisdik Provinsi Jatim. Semua yang hadir dalam rangkaian kegiatan yang berbeda beda.

Mencetak Rekor Muri,

Makan Nasi “Tabhek” 10.000 Santri Ala Nurul Jadid

Pada hari itu, saya oleh Mas Dzul diajak berkeliling Ponpes, santri yang kebetulan pengurus Lembaga Pengembangan Bahasa Asing (LPBA) itu ternyata juga fasih berbahasa Madura. “Saya orang Bondowoso, Mas. Jadi pakek bahasa Madura ngak apa-apa,” katanya. Sebab itu, saya makin akrab saja dan seakan berbincang-bincang dengan teman sendiri di Annuqayah.

Untuk sementara, layaknya seorang tamu, Mas Dzul juga tinggal di Wisma tamu selama dua hari untuk menemani saya dan teman-teman yang lain. Saya banyak berbicara dan bertanya ini itu, Mas Dzul hanya melayani beberapa saja yang dikira penting untuk dijawab. Menurut Mas Dzul, setiap gang (di Annuqayah disebut kompleks) ada ketua pengurus masing-masing, kebetulan dirinya menjadi ketua pengurus untuk gang MTs, yang bagi saya hampir sama jumlahnya dengan santri Lubangsa. Lain lagi gang MA/SMA yang terbagi menajdi dua gang, dan gang untuk Mahasiswa yang agak bebas. Bahkan, pesantren yang dipimpin oleh KH. Moh. Zuhri Zaini, sekarang sudah memiliki IAI Nurul Jadid, STT Nurul Jadid, dan STIKes Nurul Jadid.

Singkat cerita, sehabis saya jalan-jalan dengan Mas Dzul, ia juga bercerita perihal penutupan HSN. Saya melihat malam puncak kegiatan HSN. Seperti sebuah pameran di tengan kota-kota besar, ada gemerap dan pernak-pernik cahaya di lapangan kampus Terpadu. Malam itu, diiringi alunan musik banjari santriwan santriwati berkerumun memadati lapangan untuk kegiatan malam puncak, sedang keesokan harinya digelar makan nasi “Tabhek” bersama 10.000 santri hingga cuci tangan pakai sabun 10.000 santri.

Namun, sebelum pagi hari, 22 Oktober. Malamya, sehabis menyaksikan kirab santri sepanjang jalan. Saya pamit ke Mas Dzul untuk pemit pulang, sekitar pukul 19. 00 Wib saya meninggalkan Ponpes Nurul Jadid, Paiton Probolinggo.   

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak