Mental Tangguh Menekuni Literasi Sejak Dini

0
96
Bukti terbit Pemuatan Resensi Santri Lubangsa di Koran Radar Madura, Edisi Sabtu 25 Juli 2020.

Judul                  : Buya Hamka (Setangkai Pena Di Taman Pujangga)

Pengarang          : Akmal  Nasery  Basral 

ISBN                   : 978-623-745-544-9

Tahun terbit        : Febuari, 2020

Tebal halaman    : 328 halaman

Penerbit              : Republika 

 

Semua kalangan  pasti mengenal Prof. Dr Haji Abdul Karim Amrullah atau yang  biasa  akrab dipanggil sebagai Buya Hamka. Sosok yang sangat mulltidimesi sekaligus  sangat disegani   di tengah-tengah masyarakat  karena  karyanya  dalam beberapa disiplin ilmu. Beragam profesi seakan  terhimpun di  dalam  dirinya: sastrawan,  ulama’, mufasssir  (tidak semua ulama  mampu  menulis tafsir Alquran),   jurnalis, politisi,  budayawan,  guru dan sederet atribut lainnya. Beberapa gelar yang  disandangnya  tentu  tidak lepas dari  sejarah dan  kisah masa muda  yang  dibenturkan  dengan kondisi  kehidupan yang  telah dilaluinya.

Dunia anak-anak hari ini sangat rentan dengan berbagai persoalan-persoalan  yang dihidangkan dunia dengan berbagai kebinalan-kebinalan. Banyak sekali orang tua di lingkungan sekitar yang abai terhadap kondisi anak-anaknya. Pengawasan yang tidak maksimal terhadap anak-anak akan mengakibatkan  kesalahan fatal dan  menjerumuskan mereka terhadap masa depan yang suram. Akan tetapi, hal tersebut tidak berlaku bagi tokoh Malik (nama samaran Hamka) dalam  novel biografi ini. Hamka sejak kecil telah mencicipi kerasnya kehidupan, terutama soal prinsipnya menjadi seorang pujangga dalam memperjuangkan   dunia literasi sejak dini. “satu hari terlewat tanpa membaca satu buku baru sangat menyiksa bagi  Malik sehingga dia memutar otak untuk menemukan cara agar bisa terus membaca tanpa mengeluarkan uang sewa (hal.84)”. Bahkan, dirinya rela  menjadi kuli di sebuah bibliotek, tempat persewaan buku demi bisa membaca koleksi buku di sana.

Buku  yang berjudul Buya Hamka : Setangkai  Pena di  Taman Pujangga merupakan salah satu buku dwilogi tentang kehidupan Hamka  sampai usianya berumur 30 tahun. Sedangkan,   buku  kedua berjudul Serangkai Makna Di Mihrab Ulama—sebagaimana diakui oleh penulisnya, Akmal  Nasery  Basral—mengisahkan kehidupan Hamka dari umur 30 tahun hingga wafat. Dalam buku yang pertama ini  sejarah kehidupan Buya Hamka sangat berliku sekali. Bahkan, Buya Hamka sudah pernah menyaksikan sendiri bagaimana kondisi  psikologis seorang anak ketika keluarganya berada dalam kondisi  broken home. “Malik menenggelamkan diri dalam samudera bacaan bukan semata karena bosan dengan pelajaran  sekolah.  Menjadikan buku sebagai telaga sejuk untuk mendinginkan pikiran dari pertentangan keluarga ayah dan ibu yang semakin memanas (hal.87).”

Tekanan- tekanan batin tentu telah dirasakan oleh Buya Hamka sejak masih kecil. Bukan hanya tentang kehidupan rumah tangga ayah dan ibunya yang berantakan  tetapi prinsip hidupnya dalam menekuni bacaan dan literasi sejak dini telah ditanamkan  dalam dirinya sejak masih  usia belia. Ayahnya sangat ingin menjadikan Hamka  sebagai alim ulama’ dalam meneruskan jejak perjuangannya. Tetapi, Hamka dengan prinsipnya malah memilih jalan lain yaitu dengan sembunyi-sembunyi membaca buku dan membaca roman percintaan sehingga  dirinya mahir dalam menulis surat cinta kepada perempuan yang menjadi tambatan hatinnya. Bahkan,  surat-surat tersebut  kepergok dan dibaca oleh ayahnya sendiri.

Novel biografi  masa muda Hamka ini menjadi saksi tentang perdebatan dalam  konflik kekeluargaan yang sangat kentara. Pertentangan adat yang semakin memanas di antara ayah dan ibu Hamka menjadi rekaman masa silam yang bedampak  terhadap perkembangan kedewasaan Hamka  dalam hidupnya. “Pengalaman sebagai anak jalanan selama setahun lebih  sejak perceraian kedua orang tuanya, membuat  Malik memiliki kemampuan  yang lebih tinggi  dibandingkan anak-anak  rumahan dalam hal menjalin pertemanan dengan murid dari berbagai usia. (hal.93)”.

Perjuangan  dan kegigihan Hamka dalam memperjuangkan literasi  akhirnya berbuah nyata  dan diberikan kepercayaan oleh pembaca dengan tulisan-tulisannya yang dibaca  para penggemarnya di koran sampai dirinya bisa menangani sendiri menjadi  pemimpin redaksi di sebuah   koran. Bahkan,  tidak jarang  dirinya juga saling mengadu argumentasi dengan penulis lainnya. Buku ini sangat baik dibaca bagi kalangan pemuda yang ingin mengembangkan literasi sejak dini. Di tengah  tekanan batin,  buku ini memberikan sumbu semangat bagi mereka yang sedang dilanda permasalahan dalam kekeluargaan. Hamka telah menjadikan menulis  dan membaca pengalihan isu dari segala bentuk masalah kehidupan.

 

Abdul Warits, Santri-Mahasiswa di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, Fakultas Usluhuddin.

NB : Resensi ini dimuat di Koran Radar Madura Edisi Sabtu, 25 Juli 2020 M.  

 

 

 

           

         

         

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak