Anak Rantau_M. Hidayat

0
220
Diambil dari: https://www.google.com/search?q=merantau&tbm=isch&ved=2ahUKEwjerKvQv_TtAhXhK7cAHaavCswQ2-cCegQIABAA&oq=merantau&gs_lcp=CgNpbWcQAzIECCMQJzIECAAQQzICCAAyAggAMgIIADICCAAyAggAMgIIADICCAAyAggAOgYIABAHEB5Q98cBWPTIAWDMygFoAHAAeACAAT-IAXySAQEymAEAoAEBqgELZ3dzLXdpei1pbWfAAQE&sclient=img&ei=OtDrX96nB-HX3LUPpt-q4Aw&bih=637&biw=1326&client=opera&hs=F0n&safe=strict#imgrc=PKXsaJsM9A--zM&imgdii=zdAkDOjjlNGU7M

“Parno! Kenapa kamu masih mau pulang ke Indonesia padahal di sini kehidupanmu sudah tercukupi semua,” ucap Pak Michael, seorang guru pembimbing Parno.

Parno tersentak akan perkataan Michael, namun ia tetap tak mengurungkan niat untuk memberikan sumbangsih pada tanah air tercintanya walau akhirnya negaranya tidak bisa memberikan kecukupan seperti apa yang selama ini ia rasakan di negara Amerika tempat ia menuntut pendidikan srata satu.

“Terima kasih pak atas apa yang bapak tawarkan padaku, namun aku tetap bertekad kuat untuk menyumbang keahlianku selama ini pada negaraku yang sedang berkembang” Parno berucap serasa tegas akan pertanyaan pak Michael.

Maka iapun terus tetap berkemas untuk melanjutkan jadwal penerbangannya ke Indonesia.

***

Dikala mentari kentara memandang alam, makhluk hiduppun ikut bergumam, Angin yang terus bercanda tawa, menggelitiki sela-sela telinga manusia, Hewan-hewan menyapa diri seakan-akan kegirangan melihat sang idola, dan bumi terus bergulir mengejar waktu.

Suasana sejuk desa Panarukan yang terletak di pesisir pulau Madura sedang diselimuti oleh bulir-bulir tetesan air hujan yang sempat melanda penjuru desa tadi malam. Dan di masa yang silam dua insan pak Rahmat dan ibu Maisaroh telah diberkahi seorang dede’ bayi yang begitu tampan dengan menempuh waktu yang panjang dan jauh.

“Bapak, aku berharap anak kita bisa menjadi pendobrak masa depan negara kita” ibu Maisaroh sambil berharap anaknya bisa bermanfaat sesamanya tidak hanya berruang lingkup keluarga namun lintas dunia.

“Ya bu, saya teringat pada suatu ibarat Khairu an-Nas an-fauhum li an-Nasi” si bapak turut menyetujui doa ibu.

“Saya mau beri nama anak kita khairus sabab” sebuah nama yang di impi-impikan oleh ibu Maisaroh.

Jam terus menggeretakkan mesin waktu, bumi terus memadupadankan mentari dan rembulan, jarum terus bergulir selaksa mencari angka yang dituju namun tetap tak ketemu.

Enam tahun Parno menjajaki kehidupannya hingga harus baginya menuntut ilmu pengetahuan agar kelak menjadi manusia yang bisa bermanfaat bagi yang lain. Ia mulai mencicipi bangku sekolahan dengan riang dan bahagia sebab tuhan telah menakdirkan padanya kekuatan daya otak yang begitu tinggi melebihi rata-rata anak seumurannya. Setiap lembaran buku yang ia baca sekejap mata memandang ia langsung mengetahuinya secara utuh seperti apa yang ada dalam lembaran buku tersebut. Namun, ia memiliki suatu kekurangan alat untuk manusia berjalan (kaki), ia hanya bermodalkan dua tongkat yang ia selalu bawa untuk menahan berat tubuh yang ia bawa setiap harinya.

Sebab kepandaiannya ia selalu diutus dari sekolahannya untuk berpartispasi dalam berbagai ajang lomba baik regional maupun internasional iapun juga selalu mengharumkan nama sekolahannya dengan menyabet juara 1.

***

 Enam tahun ia tinggal di suatu pulau yang jauh dari peradaban zaman, saat itu air mata mulai bergelimang di pelupuk pulau yang harus merelakan kepergian si anak emas. Entah tangis kesedihan ataukah tangis kebahagiaan yang sedang melanda perasaan pulau panarukan.

 Mobil-mobil bertengger tanda siap mengantarkan penumpangnya, sekitar lima mobil yang rela senantiasa mengantarkan Parno pergi dari pulau tercintanya untuk terus menuntut ilmu pengetahuan di salah satu pondok yang berada di jawa. Sekejap mata gepulan asap yang berasal dari kendaraan mulai membubung tinggi ke cakrawala impian si anak emas.

“Selamat tinggal pulauku tercinta” sepatah kata terakhir Parno teruntuk pulau tercinta.

Air mata terus deras mengucur membasahi pipi Parno, dan alam begitu tidak rela akan perpindahan yang dilakukan olehnya dengan ditandai hujan yang deras mengguyur jalan raya yang sedang dilintasi Parno dan rombongannya.

Sekitar lima menit perjalanan yang mereka tempuh dan sampailah di pondok Tebu Ireng Jombang, gerbang yang berdiri gagah mempersilahkan seluruh tamu untuk menikmati suasana pondok pesantren yang asri dan belum terjajah oleh penyakit mental sebagaimana halayak di luar pondok.

Sekitar lima menit Parno melakukan tes sebelum ia mondok sebagai pedoman di tingkatan berapa ia akan menjalani dan menuntut ilmu pengetahuan. Tak heran bagi Parno dengan mudahnya menjalani tes baca kitab Fathul Qarib dan Fathul Mu’in. Karena kemampuan lebih yang Tuhan berikan kepada Parno ia cukup membuka kitab tersebut dan langsung memperoleh pemahaman di dalamnya walaupun ia belum merasakan mengaji kitab seperti itu.

 Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Bertahun-tahun ia jalani akan pahit manisnya penjara suci para santriwan dan santriwati. Menginjak angka genap enam tahun ia harus boyong mencari tempat lain untuk ia menuntut ilmu pengetahuan.

***

Setelah kurang lebih enam tahun ia merantau ke lautan ilmu pengetahuan yang terletak di pulau yang bernama pondok pesantren. Ketika ia menginjakkan kakinya di atas tanah kelahirannya ia merasa gugup tak karuan seakan-akan pulau yang ia pijaki terasa asing namun pernah ia melihat akan pulau yang terletak dibenaknya entah itu mimpi ataukah kenyataan.

“Selamat datang anak emas pulau kami tercinta” sambut seorang Kepala Desa Panarukan.

“Terima kasih bapak” dengan perasaan heran ia menjawab akan pertanyaan orang yang mungkin sebelumnya belum ia kenal.

Sekitar setengah jam mereka berbincang-bincang tentang Parno yang baru saja datang dari rantaunya. Kemudian keduanya pergi beristirahat sambil bincang-bincang di rumah Parno.

“Setelah ini kamu akan meneruskan pendidikanmu dimana nak?” tanya kepala desa.

“Mungkin aku mau cari dana dulu pak untuk membiayai pendidikanku kedepan sebab aku tak mau merepotkan orang tua saya”.

“pikir baik-baik nak dan jangan sia-siakan pendidikan yang sedang kamu miliki” sebuah nasihat yang dilontarkan kepala desa “Ibarat Madura mengatakan san misan becca mandi sakale”.

Parno tergugah akan sepatah nasihat tadi dan membuatnya semakin tekad untuk mencari ilmu bagaikan singa yang sedang kehausan mangsa untuk ia makan. Tak lama Tuhan memberikan hal yang misteri pada setiap hambanya dikala hamba tersebut didera ombang-ambing dalam arus gelombang yang menerjang berlawanan arah.

 “Mungkin dari desa ini membutuhkan anak seperti kamu jadi, saya berharap agar nak Parno bisa menggunakan sebaik mungkin dana yang kami berikan untuk nak Parno melanjutkan studinya di luar sana” Kepala Desa membagikan sebuah amplop tebal berisikan uang untuk biaya sekolah Parno.

Tak perlu lama ia tinggal di tanah tercintanya cukup mencurahkan rindu pada orang tua dan tanah kelahirannya ia langsung berangkat mencari kampus yang bisa menerima Mahasiswa dengan biaya murah.

Parno terus mencari situs khusus penerimaan Mahasiswa baru yang sedang buka saat itu, Handphonenya pun terus digosok hingga batre yang tersisa hanya 20% yang kemungkinan tak cukup untuk ia berlama-lama mencari kabar yang ia harapkan, dan tak terasa se-jam ia menatap layar hingga matanya keriput dan memerah, dan terlihat kampus yang kebetulan buka apalagi dibuka sistem beasiswa.

“Apakah aku mampu melalui jalur ini” ia tidak percaya diri sebab jauhnya kampus tersebut.

Namun ia tetap bertekad untuk menjalani apa yang akan terjadi di kemudian hari dengan pertimbangan yang sangat matang.

Setelah ia lakukan pengisian formulir yang tercantumkan di internet secara sempurna maka ia langsung melakukan tes tulis yang terlampir di link tersebut. Satu minggu ia menunggu pengumuman kelulusan dan hasilnya ia diterima secara lulus mutlak sistem beasiswa, sebab apa yang dites sudah ia jalani selama menuntut ilmu di pondok pesntren.

Tinggal menghitung jari pemberangkatan akan ia tempuh menuju negri tetangga sana. Ia terus bersiap-siap membenahi akan apa yang harus ia persiapkan tuk dibawa ke Amerika.

***

Angin berdesir menghembuskan debu-debu yang bergeletakan di atas jalan raya, cuaca yang sangat berbeda dengan negri tercintanya begitu merepotkan kepadanya takutnya ia tidak bisa beradaptasi dengan tempat yang sementara akan ia tinggali.

Keesokan harinya setelah kedatangannya di Amerika kampus Harvad University langsung masuk sebagaimana biasanya dan hal tersebut membuatnya tersontak kaget hingga tidak kerasan. Namun api yang terus membara dalam dirinya terus menyemangatkan tuk memenuhi akan kewajibannya sebagai pelajar.

Empat tahun ia menjalaninya ternyata ia mampu mendapatkan gelar pertamanya di strata satu. Dan haruslah ia pulang meninggalkan akan kenikmatan yang selama ini ia terima dari kampus.

*M. Hidayat adalah Mahasswa Institut Ilmu Keislman Annuqayah (Instika) jurusan Ekonomi Syari’ah semester V.


Keterangan: Cerpen ini di muat di Koran Radar Madura Senin, 21 Desember 2020.

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak