Apa itu Yudisium?

0
538

Serba putih pemandangan di aula asy-Syarqawi kemarin, 31 Oktober 2019. Itulah warna kerudung dan baju calon wisudawati INSTIKA 2019 yang berjumlah kurang lebih 300 sekian mahasiswi, dengan jas al-mamater gagah dikenakan. Adakah yang tidak serba putih? ada, pakaian rektorat dan panitia wisuda 2019, atau serba merah-hitam, PSM Putih Al-Mamater INSTIKA. Di Kamis kemarin, semua unsur ini berkumpul dalam rangka mengikuti agenda yang masih perdana dilaksanakan, YUDISIUM.

Apa itu Yudisium? Adalah pertanyaan yang ramai terlontar di kalangan mahasiswi, tak hanya oleh mahasiswi semester akhir, namun juga mahasiswi dari ragam semester. Maklum, sebab moment ini, sekali lagi, masih perdana di sini, di INSTIKA. Bagi sebagian mahasiswi, kosa kata ini bisa jadi masuk “fenomena langka” dalam kamus mereka. Meski begitu, ternyata “keasingan” terhadap istilah ini tidaklah “menimpa” seluruhnya, sebab sebagian (kecil) sudah berpacu dalam mesin pencarian, baik melalui media nyata maupun maya, untuk mencari tahu arti Yudisium sebelum hari H pelaksanaan, atau secara tidak sengaja pernah ter-save di memori, dalam sebuah percakapan. Jadi, saat kosa kata ini terdengar lagi, ia sibuk melakukan proses “finding” dalam otak, dan akhirnya, “ketemu” meski definisi konsepnya masih “abu-abu”.

Kisaran pukul 09.54, pertanyaan itu terjawab secara seremonial melalui sambutan Rektor INSTIKA, KH. Abbadi Ishomuddin, “yang saya banggakan, mahasiswi, calon wisudawati INSTIKA 2019, yang beberapa terlihat hadir berdua bersama anaknya, baik anak yang sudah di luar maupun yang masih di dalam (di dalam kandungan)”. Pengantar sambutan bergendre humor yang sedikit melebur suasana panas ruang, di Kamis yang terang dan terik .

Apa itu Yudisium? Yudisium adalah salah satu ritual pra wisuda untuk mengumumkan nilai mahasiswa semester akhir, setelah mengikuti seluruh rangkaian proses akademik di perguruan tinggi INSTIKA. Dengan kata lain, Yudisium adalah hari diumumkan lulus tidaknya mahasiswa semester akhir, di mana, yang dinyatakan lulus, akan dikukuhkan di kemudian hari, dalam kegitan sakral bernama, WISUDA. Jadi kesimpulannya, Yudisium adalah hari kelulusan, sedangkan Wisuda adalah hari pengukuhan. Begitulah kira-kira penjelasan bapak Rektor dalam sambutan multi topik itu.

Kenapa multi topik? Sebab selain topik definitif tentang Yudisium, beliau juga menyelipkan topik tentang pendidikan di era 4.0, “Kurikulum pendidikan sudah seharusnya selalu dievaluasi, agar lulusannya mampu beradaptasi”, tegas beliau. Selain itu, di keniscayaan era kecanggihan teknologi ini, beliau juga memberikan ketegasan statement bahwa “potensi dibidang Computer Science (ilmu komputer) mutlak dibutuhkan”. Hal ini disampaikan sebagai isyarat, bahwa perguruan tinggi INSTIKA terus mengupayakan proses pendidikan terbaik untuk seluruh mahasiswa nya, melalui hasil evaluasi yang dilakukan dari tahun ke tahun, dari era ke era.

Tidak hanya Yudisium yang digelar perdana, teknik baru dalam pelaksanaan wisuda pun diberlakukan tahun ini, yakni memisah prosesi wisuda putra dan putri di dua hari yang berbeda. Hari Ahad, 03 Nopember untuk wisuda putra, Senin, 04 Nopember untuk wisuda putri. Ini, perdana. Alasannya? Pertama, mendukung regulasi perguruan tinggi INSTIKA yang menjunjung tinggi nilai-nilai kepesantrenan, yaitu pemisahan antara putra dan putri, baik dalam proses akademik, adminstrasi, dan kini, prosesi wisuda. Kedua, kapasitas ruang aula yang terbatas. Jumlah seluruh calon wisuda yang diperkirakan mencapai 600 lebih, ditambah wali putri (Ibu) dan ditambah lagi wali putra (Bapak) berbanding dengan diameter ruang aula, diperkirakan tidak akan mampu menampung seluruhnya, atau bisa jadi, namun harus dipaksanakan, dan akan membuat pelaksanaan yang sakral itu tidak kondusif. Sebab sesak, panas, pengap, dan ketidaknyamanan lainnya. Oleh karena itu, memisah pelaksaan wisuda putra dan putri dianggap solutif dan cukup beralasan. Hal ini pula yang disampaikan bapak Rektor, di Kamis kemarin.

Ada pesan akademik yang disampaikan beliau kepada seluruh calon wisudawati INSTIKA 2019 sebelum pungkas sambutannya di Yudisium perdana ini, yakni bahwa “gelar sarjana, bukanlah titik akhir perjalanan pendidikan seorang mahasiswa. Maka dari itu, lanjutkan, hingga titik paling akhir kehidupan”, inilah barangkali, pesan aplikatif dari “utlubu al-ilma min al-mahdi ilâ al-lahdi”. Sekian.


Penulis: Faizatin

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak