Bahagia dalam Segala Situasi

0
220

Judul            : Semua Bisa Bahagia; The Secrets Of The Good Life

Penulis         : Mahdi Elmosawi       

Penerjemah  : Solihin Rosyidi              

Penerbit        : PT Qaf Media Kreativa          

Tahun Terbit : 2020, cet. Ke-1

ISBN              : 978-602-5547-67-6

Peresensi        : Moh. Tsabit Husain*

 

Dalam bukunya, Tasawuf Modern, Buya Hamka memulai dengan cerita tiga orang yang berjalan melewati lorong-lorong saat senja. Di sekitar lorong itu berjejal rumah-rumah mewah. Para penghuninya terlihat sejahtera. Seorang ayah tengah membaca koran sembari meminum teh. Si ibu tengah menyulam sembari memerhatikan anaknya bermain di halaman rumput hijau. Namun, pertanyaan muncul kemudian terkait apa yang dilihat ketiga orang tersebut adalah, adakah mereka—penghuni rumah—benar-benar bahagia?

 Entah, apakah makna bahagia yang sebenarnya. Seorang nelayan akan bahagia jika hasil tangkapan ikannya banyak. Seorang pedangang akan bahagia ketika jualannya laris manis. Orang miskin bahagia jika kaya, orang lapar bahagia jika kenyang, dan orang sakit bahagia jika sembuh. Lantas, dimanakah letak bahagia sebenarnya? Bisa jadi, penghuni rumah yang dilihat oleh ketiga orang dalam buku Tasawuf Modern itu tidak bahagia pada hakikatnya karena memikirkan kredit, hutang, dan harta benda. Sayyidina Ali ibn Abi Thalib mengungkapakan bahwa baginya, setiap hari adalah hari raya jika dilalui tanpa dosa. Itulah mengapa beliau memakai pakaian biasa ketika hari raya tiba dan itu merupakan kebahagiaan bagi beliau. Jadi, apakah bahagia itu relatif?

Ketika bahagia menjadi pertanyaan tentunya bagi setiap orang ada ukurannya masing-masing alias bagaimana orang tersebut memaknainya. Namun, terlepas dari apakah bahagia relatif atau tidak, alangkah senangnya ketika ada yang memberi tahu cara-cara mudah untuk bahagia. Dialah Mahdi Elmosawi, pengasuh teknik The Good Life Coaching dan anggota The Alternative Medicines Research Institute (AMRI). Dalam bukunya, Semua Bisa Bahagia; The Secrets Of The Good Life, Mahdi memberikan langkah-langkah mudah untuk meraih kebahagiaan melalui petuah bijak, kisah-kisah, dan besar kemungkinan pengalaman beliau sendiri. Menariknya, buku ini memandang kebagiaan dalam sudut pandang hidup orang modern.

Bahkan, beliau tetap memadukan petuah-petuah bijak ulama klasik secara implisit dan dengan petuah-petuah tokoh modern. Kisah-kisahnya pun ada yang diambil dari kisah tokoh barat seperti Viktor E. Frankl yang menjadi salah satu tawanan di kamp konsentrasi Austwitz pada Perang Dunia Kedua. Ketika Victor berada di sana, dia mempelajari banyak hal tentang makna kehidupan melalui pola-pola kemelaratan yang dilihatnya. Namun dia bersyukur karena masih bisa menghirup udara segar di tengah tumpukaan mayat-mayat penghuni kamp lainnya. Artinya, dalam keadaan terpuruk pun bisa bahagia. (hal 100-102)

Lantas, jika dalam kesempitan seperti yang dihadapi oleh Victor, apakah dalam tawa dan senyuman itu terdapat kepedihan, sakit, dan kegundahan yang diasembunyikan? Semisal para pelawak? Untuk hal ini, Mahdi Elmosawi memberikan arahan bahagia melalui pola pikir. Jika sukses dan sukses yang terus dipikirkan maka itu yang akan tercapai. Mungkin itulah sebabnya mengapa pelawak sering tertawa—menertawakan keadaan atau diri sendiri—sekalipun banyak masalah membebani kepala. Karena, dengan tertawa, kondisi tubuh dan pikiran lebih plong. Itulah alasan penulis buku ini memberi judul Semua Bisa Bahagia dengan emoticon tertawa.

Hanya saja, dalam menyikapi masalah jangan sikapi secara tendensius. Ketika ada yang bermuka masam dan menatap sinis, anggaplah semua itu sebagai bentuk koreksi untuk memperbaiki diri kita. Atau ketika kehilangan kekasih mau bunuh diri dan semacamnya, itu berarti cinta yang diberikan sejak awal bukan cinta yang tulus yang dapat menjadi sebab ketidak bahagiaan diri sendiri.

Ketika kita lihat pula dalam buku Rovering To Success karya Baden Powell (BP), hal serupa diungkapkan dalam bentuk analogi ketika mengendarai kano—sejenis perahu dayung—untuk menantang badai sama seperti menghadapi masalah-masalah dalam kehidupan. Tak tanggung-tanggung, BP juga mengutip dari buku The Forest karya Stewart E. White, dia menjelaskan dengan lengkap dan detail cara menaklukkan laut. Dia menceritakan, “Setelah empat jam melintasi teluk yang terbuka, kalian akan berjumpa dengan lebih dari seribu gelombang. Tidak ada dua gelombang serupa. Dan setiap gelombang bisa menelan kalian dengan begitu mudahnya, jika kalian tidak dapat mengahadapinya.” Seperti itulah kiranya dalam menghadapi masalah. Dan hal ini senada dengan buku yang baru ditulis oleh Mahdi Elmosawi saat kedua buku tersebut telah berumur satu abad lebih.

Selain itu, Kata-kata yang diganakan dalam buku ini pun seperti kitab-kitab nasihat ulama klasik, indah, mudah dicerna, dan pada beberapa bagian nampak puitis. Mahdi turut memberikan berbagai macam cara manusia dalam mencari kebahagiaan. Ada yang mencari kebahagiaan dari duduk di depan televisi sembari nonton drama Korea, mengantar anak kesekolah, mengantre ketika berbelanja, memainkan gitar, membasahi sajadah dengan air mata, atau piknik bersama keluarga. Jadi, buku ini memberikan gambaran yang luas tentang bagaimana cara meraih kebahagiaan sekalipun dengan cara terkecil; melontar senyuman kepada siapa saja.

Keterangan: Resensi ini terbit di Koran Radar Madura Rabu, 03 Maret 2021 


*Mahasiswa INSTIKA dan pengurus Perpustakaan Lubangsa serta pengurus PPI IKSAPUTRA 2020/2021

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak