Berkenalan Lebih Dekat ; Mengais-Ngais Atmosfer Perkembangan Sastra Pesantren di Annuqayah

0
603

Oleh: Jamalul Muttaqin*

Sastra dan pesantren bagai dua term yang saling berkelindan, bermesraan bagai dua mempelai di pelaminan, bagai sepasang kekasih yang dimabuk asmara. Keduanya beriringan berjalan dalam satu tempo atau waktu yang tak terbatas memasuki labirin pengetahuan kesusastraan yang pada abad ke-17 sudah pesat menjadi satu sarana dakwah yang dibangun oleh para ulama di Nusantara.

Sebenarnya, meminjam apa yang dikatakan Baso, bukan hanya terbatas pada perkembangan kesusastraan pesantren sebagai lumbung pengetahuan seni bersastra, lebih jauh menyingkap khazanah keilmuan pesantren ini, kita akan mendapatkan lagi pengetahuan tentang peninggalan-peninggalan yang lebih menarik; ia berupa kesenian, berupa tradisi, berupa sejarah atau historis super panjang ketika diulas secara lebih detail, semuanya juga masuk dalam dunia kesusastraan, ya rasanya hidup itu bagai bersastra.

Taruhlah disini, Baso menyebutnya seperti kisah kelahiran-kelahiran pujangga kraton, ada Yasadipura I, Yasadipura II, dan Ranggawarsita, sudah melek sastra meski dulu sih kita kenal sastra ya berupa kakawin, serat dan babad. Barangkali, benar Baso bahwa pesantren masih tak dapat menghapus ingatan pada romantisme kerajaan Hindu, Budha, yang menjadi kepanjangan tangan dari perkembangan bersastra oleh para ulama’ Wali Sanga. Di sini yang, bagi penulis sendiri, pesantren bukan sebatas menulis inspirasi-inspirasi dari kitab gundul atau kitab kuning klasik, melainkan ia menyerap budaya dan tradisi nenek moyang kita semenjak dua abad lebih yang lalu.

Kraton Surakarta adalah tempatnya, seperti Yasadipura I sudah menghabiskan bacaan-bacaan dari naskah-naskah Jawa Kuno, Serat Dewaruci hingga Suluk Malang Sumirang. Tentu untuk mengatakan sastra pesantren miskin pengetahuan dan kaku dalam cara-cara bersastra kita terlalu picik.

Sampai di generasi melineal, hidup bersastra bukan barang baru lagi. Dalam kehidupan yang lebih mafhum, pesantren mencatat bahwa akar rumput historis munculnya sastra pesantren secara genealogis berkelindan dengan perjuangan para ulama yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa dan Madura. Utamanya, mereka menyebarkan lewat transmisi budaya dan sastra tadi—di masa-masa kerajaan.

Komunitas Sastra Pesantren;

Memupuk Pengetahuan Bersastra di Annuqayah

Jika dimuka, penulis telah menceritakan bagaimana perlahan sastra itu berkembang dengan satu kondisi masa yang jauh dengan kita. Sekarang, penulis ingin lebih akrab menghadirkan ruh sastra pesantren dengan sebuah essai yang sangat terbatas dan sederhana. Barangkali karena permintaannya terlalu mendesak, dan bersifat tunjuk-an sih.

Apa yang religi? Begitulah pertanyaan Gus Dur tentang seorang Djamil Suherman—penyair dari pesantren—sedang karyanya belakangan menjadi babon sastra bagi para pecinta sastra. Bararangkali Djamil Suherman, adalah satu di antara seribu penulis yang lahir di tengah-tengah atmosfer perkembangan sastra pesantren tahun 50-an yang harus disebutkan namanya disini. Karena belakangan menyebut sastra “pesantren” penulis sekadar menyebut nama-nama penyairnya bukan karyanya.

Ya, sebenarnya sastra yang religius bagi Acem Zamzam Noor bukan ia seorang agamawan, akan tetapi ia berupa karya. Sayang, belakangan ketika—entah siapa pun—ketika menulis pemahaman sastra pesantren mereka cukup bangga (hanya) dengan menyebut sebuah nama, seperti mengutip: Mustofa Bisri (Gus Mus) yang begitu menonjol dengan karya sufistik-religi (Keislaman) melalui puisi dan cerpen-cerpennya, Acep Zamzam Noor, Jamal D. Rahman, Ahmad Tohari, Alm. Zainal Arifin Thoha, tentu juga D. Zawawi Imron tak ketinggalan seseorang yang karya sastranya melonjak tak terhalang oleh ruang dan waktu. Lalu apa menariknya menyebutkan nama-nama penyair tersebut? Jika mereka—yang menulis—tak pernah tau apa ide-ide yang paling menarik untuk disumbangkan bagi perkembangan sastra pesantren? Untuk apa mereka dikutip-kutip dalam penulisan sastra pesantren.

Sudahlah. Kita lupakan saja itu. Seorang kritikus sastra sekaliber Abdul Hadi WM, pernah mengatakan bahwa tradisi ber-“sastra” di pesantren adalah tradisi yang dipelajari yang mendapat bimbingan langsung lewat kehidupan-kehidupan yang religius sehari-hari. Sebab itu, penulis essai-essai tentang Hamza Fansuri ini, setali dengan apa yang disampaikan oleh Agus Noor bahwa saat membaca sastra. Ia menempatkan segala aspek adalah sastra di pesantren, baik dari literasi yang dibaca, sebut syair atau nadzam seperti kitab Imrithi, Alfiyah Ibn Malik, Nadzam al-Maqsud, dan semacamnya menjadi faktor utama terbentuknya seorang santri menjadi penyair.

Dalam kehidupan pesantren bagi seorang santri dan pecinta karya sastra, mereka tidak bisa dipisahkan dengan yang namanya aktifitas mengaji kitab-kitab klasik (baca: kitab kuning) yang ditulis dengan nadzam tersebut, salah satu pesantren yang dimaksud tak lain adalah Annuqayah. Dari kurun waktu sepuluh tahun terakhir (akhir-akhir ini), Annuqayah menjadi bagian dari perkembangan sastra yang ada di Nusantara, khususnya di Madura. Sehingga tak heran apabila pesantren Annuqayah seringkali muncul dalam jagat kesusastraan, mengisi media-media sastra, mengisi kegiatan-kegiatan sastra dari kegiatan yang bersifat lokal, regional hingga yang nasional atau bahkan internasional.

Perjalanan itulah yang menentukan napak tilas pesantren Annuqayah melaju pada arah yang semakin nampak ke permukaan, sehingga tidak jarang bermunculan komunitas-komunitas sastra di bumi terjal dan ngarai itu. Penting kiranya kita melihat dimana sebenarnya sumber utama yang paling sentral dalam mengembangkan kultur kesusastraan di Annuqayah. Salah satunya tradisi kesusastraan di Annuqayah ditandai dengan munculnya komunitas-komunitas, barangkali yang paling senior ya komunitas Lesehan Sastra Annuqayah (LSA), yang kemudian diikuti oleh komunitas-komunitas sastra yang lain seperti komunitas Penyisir Sastra Iksabad (Persi).

Melihat dari perkembangan lembaga-lembaga sastra yang terus bermunculan, kegiatan-kegiatan sastra, seperti menerbitkan buku antologi sastra, baca puisi, bedah karya sastra, dsb. Menandakan pesantren Annuqayah adalah pesantren yang berbasis pengembangan kesusastraan, di sinilah bibit-bibit penyair bermunculan.

Berkenaan dengan hal itu, telah meletakkan pesantren Annuqayah menjadi salah satu sumber mata air yang tak henti-hentinya mengalirkan tentang perkembangan kesusastraan, penting kiranya kita melihat dimana sebenarnya sumber utama yang paling sentral air itu mengalir? Di sini kita harus berani membicarakan peran dan sumbangsih serta bagaimana sejarah berdirinya komunitas-komunitas tersebut, katakanlah komunitas Persi yang baru berusia empat tahun bergerak. Sampai di sini, dan pada tulisan ini pula saya belum bisa menyelesaikan pertanyaan tadi. Wallahua’lam….


*Mantan Ketua Komunitas Persi 2014 M.

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak