Carok_Cerpen Ahmad Tadi N.

0
155
Info gambar: https://kabarmadura.id/sungai-patemmon/

Lelaki itu tampak beringas. Ia berlari meningalkan istri dan rumahnya. Matanya terbelalak seolah melihat sesuatu yang sangat ia benci. Wajahnya merah padam. Nafasnya tersengal-sengal. Tangannya mengepal erat, urat-uratnya tampak bak cacing yang menggeliat. Derap langkahnya laksana petir yang menggelegar, membuat getir orang-orang yang mendengar.

Dalam hati, lelaki itu berujar menahan dendam, “Awas kau Parman, kutebas lehermu!”

Baginya ditelanjangi ketika perlombaan, sama halnya menginjak harga dirinya. Lelaki itu semakin tidak terima, sebab selain kambingnya dinyatakan kalah pada saat perlombaan, istirnya yang telah melahirkan satu keturunan kerap diganggu oleh Parman. Menurutnya, secara akal sehat kambingnya menang dalam perlombaan antar kampung tempo hari lalu. Namun saat pengumuman juara, kambingnya kalah dari kambing Parman? Ada kenjanggalan yang mengucek tempurung kepalanya.

Jantungnya berdetak kencang, benda-benda mati yang ia temui bergetar akibat langkah kakinya. Bahkan, kerikil-kerikil yang ia pijak satu-persatu terlempar laksana di hempas angin. Kemarahannya tak bisa ia bendung, karena dalam tradisi keluarganya, harga diri tidak bisa ditawar-tawar,  bila nyawa harus di balas nyawa.

Dikampungnya, lelaki itu di panggil Rakmin, mungkin selaras dengan badan yang kerontang. Dan ia tidak terkenal congkak sekali pun musuhnya bajing kelas kakap. Singkat kata, Rakmin tak pernah membedakan atau memilah musuh, sebab dalam matanya ia tak pernah pandang bulu. Karena rasa takut yang ia punya hanya kepada Tuhan semata.

Keseharian Rakmin mengembala kambing di bukit sejuk penuh rerumput hijau. Beberapa bukit—juga ia datangi—yang tak jauh dari kampungnya. Suatu waktu, ia pernah tenggelam dalam ciptaan Tuhan, hanyut dan lupa pada dirinya sendiri. Di sisi lain ia juga meminta pada Pencipta, ia meminta keselamatan dalam menghadapi cobaanNya. Saat sampai di halaman rumah Parman. Rakmin berteriak lantang.

 “Kalau kau berani kita tumpahkan darah di halaman ini!”ucap Rakmin seakan urat lehernya hendak putus.

Parman yang mendengarnya hanya menghisap rokok dan sesekali menyeruput kopi yang masih mengepul. Matahari terus merangkak di bukit Tongguh, satu bukit yang setiap pagi menghalangi sinar mentari.

“Parman! Kau dengar ucapku?”tanya Rakmin lantang. Parman berdiri, melangkah ke dalam rumah.

“Kau pengecut Parman!”tambah Rakmin meihat Parman yang masuk ke rumahnya.

Parman bukan pengecut, ia ke dalam hanya mengambil celurit yang menggantung di balik pintu kamar tidur yang setiap malamnya Parman bacakan mantra-mantra. Tak lama Parman keluar dengan tatapan tajam, ia memakai kaos lurik puti-merah dan sodak yang menggulung mengikat  kepalanya.

Rakmin tak ciut nyali, ia semakin membusungkan dada, meski tubuhnya ringkih dan nafasnya mulai tak teratur. Celurit yang Rakmin pengang semakin erat  ia genggam dengan kuat sampai tampak bergetar pelan. Kebencian yang ia pendam mengalir ke celuritnya.

Di kampung itu pula, Parman sudah punya nama, daripada Rakmin yang memang bukan apa-apa. Parman terkenal bajing karena keturunan bajing kakap. Dari dulu keluarganya terkenal bengis-bengis, tak melihat musuh. Ketika bertarung Parman kerap ingat pesan kakeknya. Bunuhlah sampai terputus lehernya. Begitu pesan kakeknya semasih hidup.

Celurit yang Parman pegang adalah celurit warisan dari kakeknya. Konon, kata bapaknya, celurit itu terlalau banyak menebas leher, bau anyir tetap menyelimuti celurit warisan itu. Jeritan orang yang tertebas itu terkadang terdengar setiap malam Jumat. Rakmin tidak tahu kalau celurit yang Parman pegang adalah celurit warisan, ia tak ciut nyali sedikit pun.

Sambil tersenyum sinis Parman berucap, “Apa kau kesini hanya ingin meyerahkan nyawamu saja?” tawa menggelegar mengundang kobar dalam dada Rakmin.

Rakmin tidak merasa takut sedikit pun. Justru ia semakin geram dan kalimat yang Parman lontarkan memantik semangatnya untuk lebih cepat membunuh bajingan itu.

 “Tentu tidak, aku hanya ingin memajang wajahmu di beranda rumahmu, Parman! Bajing tengik!”Rakmin tidak mau kalah dengan gelak tawa Parman.

Seumur hidup, Rakmin tidak pernah carok, lelaku yang kerap memakai peci itu lahir dari keluarga agamis. Jarang sekali ia menemukan kegaduhan. Bahkan dalam riwayat hidupnya, Rakmin pernah nyantri kurang lebih enam tahunan.

Selama menjadi santri Rakmin belajar ilmu kanuraga, meski tidak mahir. Dari kepribadiannya itulah banyak yang berangapan bahwa Rakmin alim dan murah senyum. Tutur bicara yang halus nan lembut, menjadikannya disegani. Apalagi ketika berpapsan dengan orang, ia takkan sungkan menarik senyum atau menyapa sekadar basa-basi.

Parman mendelik, “Apa kau bilang, dasar anak kencur!” wajah Parman semakin beringas, tatapannya semakin tajam mengarah ke leher Rakmin. “Apa kau mau memajang kepalaku, jangan mimpi kau terlalu kerontang, Rakmin?”.

“Aku hanya ingin membalas kelisikanmu di perlombaan balap kambing tempo hari,”ujar Rakmin dengan suara berat.

“Kau tidak mau mengakui, hah!”

“Justru sebaliknya. Kau takut martabatmu terinjak-injak, Buka,”kaki kiri Rakmin bergerak sedikit ke depan.

“Apa kau tidak lihat waktu itu ada wasit?”

“ Iya.”

“Lalu?”

 “Kau menghasut wasit itu untuk memutuskan bahwa kambing kau yang menang.”

“Maksudmu? Kau semakin tak masuk akal,”Parman mengecoh pembahasan.

“Bajing tengik, selalu bersilat lidah untuk bersembunyi demi melindungi martabat keluargamu, supaya tidak ternodai, sungguh naif kau Parman,”Rakmin tak ingin mendistorsi kejadia tempo hari.

Sewaktu perlombaan, ia melihat ada yang janggal. Ia merasa ketika perlomba belum dimulai. Rakmin melihat Parman berbicara berdua dengan wasit. Sempat ia melihat Parman dan wasit itu menampakkan mimik serius dan gestur tubuh yang seolah dipaksa. Ia melihat mereka di samping panggung yang berduaan dengan Parman. Tetapi waktu itu Rakmin hanya menganggap hal itu biasa saja. Karena sesuai ajaran yang telah ia dapat sewaktu mondok, tidak boleh berprasangka buruk terhadap siapapun, meski itu musuh sekalipun.

Benar saja, ketika semua kambing hampir sampai di garis finis yang waktu itu kambing Rakmin berada paling depan, dan tak lama kambing parman menyusul gari finis tampak bersama-sama; melewatinya. Kambing Parman yang jaraknya tidak jauh hanya  mengekori. Semua orang yang melihat menafsiri kambing Rakmin yang menang.

Senyum mengembang di bibir Rakmin waktu  itu. Wajahnya berseri seperti wajah istrinya yang ia lamar. Tapi, ketika pengumuman pemenang, kambing Rakmin dinyatakan kalah oleh wasit dan kambing Parman sebaliknya. Keluar sebagai pemenang.

Rakmin mendatangi wasit dan menanyakan hal itu. Semua jawabannya ngalur-ngidul tak jelas. Mimiknya penuh kecemasan.

 “Kambingmu melanggar etika perlombaan,”ucap wasit yang tak lain saudara tiga pupu Parman. Rakmin tidak percaya dengan alasan yang diberikan.

Percakapan di halaman rumah Parman semakin panas dan mengalir. Saling memojokkan menjadi kalimat yang berhenti terlontar.

“Atau semua buyutmu adalah bajingan tengik!”

“Kurang ajar, kutebas lehermu!”ucap Parman.

Parman berlari dengan celurit yang ia acungkan ke udara. Mulutnya berteriak kencang. Rakmin tak bergerak sedikitpun, ia hanya menatap gerak Parman sambil memasang kuda-kuda. Siap menyebat serangan Parman bila mengarah ke tubuhnya.

Tak lama bunyi besi yang beradu terngiang ke udara, membuat bising pagi itu. Seolah menjadi irama kematian yang tak lama akan bertandang. Burung-burung yang sedari tadi bersiul, kini lenyap, diam dan menikmati kematian yang akan segera bertandang. Angin berhenti mendesir, pengap teramat menyelimuti pagi yang biasanya dingin.

Pertarungan semakin sengit. Secepat kilat, lengan Rakmin terkena sebetan. Rakmin mengerang kesakitan. Rakmin tidak terima, ia ingin mempercepat gerakan meski lengan kirinya terasa sakit. Satu sebetan mengenai dada Parman. Rakmin tersenyum,

“Hanya itu?” ucap Parman. 

Rakmin kembali mengayunkan celuritnya. Dan satu sebetan menegnai dada bidang Parman lagi. Sekali lagi Parman hanya tersenyum. Tubuh Parman tampak bebal dengan besi yang runcing itu.

“Celuritmu tumpul anak kencur!” Ejeknya menahan sakit.

Darah berceceran membentuk titik-titik di halaman yang gersang. Panas mulai terasa, menyengat kulit yang juga terbakar oleh api cemburudan kebencian.

Rakmin menggerang panjang. Perut dan dada Rakmin terkena sabetan. Parman tertawa menggelegar. Tawanya membuat burung-burung terbang longgar, melintasi cakrawala. Matanya terkena sinar silau celurit Parman. Rakmin mencoba menebas. Tapi naas, silau itu malah membuat celurit yang ia pegang terpental karena tidak kuat menahan serangan Parman dan terbang melayang, tergeletak di bawah pohon siwalan.

Parman tidak menyiakan kesempatan, ia kembali menebas leher Rakmin. Tapi secepat tupai melompat Rakmin bisa menghindar. Apesnya celurit yang Parman pengang mampu direbut tangan kanan Rakmin dan tanpa pikir panjang, ia balik menyerang, karena tidak konsentrasi leher Parman malah tertebas, tak lama Parman terkulai, tarkapar di kaki Rakmin dengan bersimbah darah.

Celurit warisan telah menjalakan tradisinya sebagai pemenggal leher manusia. Ia tak memiliki rasa dan mata, tak memilih leher siapa yang ia tebas. Sebenarnya ada pesan bapaknya yang lupa disampaikan pada Parman. Dimana sebelum keturunannya genap 7 turunan, celurit itu akan menebas dan memutus leher pemiliknya.

Dari jauh terdengar suara perempuan menangis. Rakmin yang beristigfar berkali-kali tak memperdulikan  suara itu. Rasa bencinya terasa terbayar sudah.

Dari balik pintu, istri Parman menjerit histeris, melihat suaminya terkapar dengan cucuran darah di lehernya, menghancurkan cinta gila pada dunia. Kehilangan menjadi pesta terahir di rumah itu. Rakmin berkata pada Parman yang sedang tak ada nyawa. Kau terlalu congkak Parman. Ucapnya sambil menahan sakit di lengannya

Rakmin melirik istri Parman dengan tatapan tajam. Celurit warisan di tangannya bergetar seolah berpesan ingin membasmi keluarga itu. Ia mengatur nafasnya dan melangkah pelan.

Annuqayah, Oktober 2019

*Penulis adalah Sekretaris Umum Perpustakan Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa dan Mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah. Pemangku di beberapa Komunitas nulis, diantaranya, di Komunitas Penulis Kreatif (KPK)-Iksaj, Komunitas Cinta Nulis (KCN)-Lubsel dan Lesehan Pojok Sastra (LPS)-Lubangsa.


Keterangan: Cerpen ini tayang di media online Lensa Rakyat.id 25 November 2020

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak