Geliat Santri Membaca Koran

0
416

Membaca bagi santri Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa sudah menjadi aktivitas dalam setiap harinya. Hal ini terbukti, ketika Kru Koran Lubangsa mendatangi bilik- bilik santri.

Ada tiga Koran yang sering dikonsumsi oleh santri; Koran Radar Madura, Jawa Pos, dan Kompas. Ketiganya menjadi rebutan santri untuk membaca saat penjajal koran datang.

Bagi Khairil Fatah, Ketua Kamar C-1 memaparkan bahwa dikamarnya berlangganan koran sejak tahun 2016.“Kami sengaja langganan koran, agar kami bisa mengakses informasi sebanyak-banyaknya, lebih-lebih sebagai penambah pengetahuanlah,” Ujarnya.

Berlangganan koran bagi santri yang berada di kamar pertama deretan mahasiswa itu tidak cukup membaca informasi yang muncul kepermukaan, tetapi dalam setiap malamnya informasi-informasi yang dimuat dalam Koran Kompas tersebut dikaji secara mendalam.

“Kami sering mengajak senior mahasiswa untuk mendiskusikan informasi-informasi yang mencuat kepermukaan, dan yang paling sering kami diskusikan adalah opini yang dimuat dalam koran (Koran Kompas, Red) tersebut,”Ungkap Ahmad Faisol, Anggota Kamar C-1 itu.

Tidak hanya para mahasiswa yang punya geliat untuk membaca, santri yang yang berdomisili kawasan Blok A (Tingkat MTs) pun punya geliat untuk membaca informasi, yakni  Kamar A-23, yang posisinya dilantai dua itu.

Wali Bilik, Ach. Zamroni Arifin, memaparkan bahwa inisiatif untuk berlangganan koran didasarkan minat anggota kamar yang setiap harinya mengunjungi lumbung koran yang dipajang di halaman blok B Kawasan SLTA itu. Sehingga, pihaknya menawarkan kepada anggota kamarnya berlangganan koran supaya tidak jauh untuk membaca informasi yang disediakan oleh pesantren.

“Anak-anak kami sangat antusias membaca koran, terutama membaca informasi bola, ini terbukti ketika mereka (Anggota Kamar, Red) selesai mengikuti ajian kitab setelah subuh, merela langsung membaca koran (Koran Jawa Pos, Red),” ungkap Roni (sapaan akrab Ach, Zamroni Arifin) itu.

Dirinya sebagai wali bilik sangat bangga atas anggota kamarnya, karena geliat untuk membaca sudah mucul sejak dini. Sementara, untuk dana yang dikeluarkan untuk membayar koran setiap bulannya, ia memakai sistem iuran atau sumbangan kamar, sebesar 10.000 per bulannya.

Tidak hanya di bilik-bilik santri yang antusias untuk berlangganan koran. Di lembanga unit Biro Pengembangan Bahasa Asing (BPBA) Bahasa Inggris, yang tiap harinya mengkonsumsi koran untuk mengakses informasi. Koran yang menjadi bahan bacaan unit ini adalah Koran Kompas.

Menurut Ach. Muhlis, Pengurus Senior BPBA, menyatakan bahwa berlangganan koran ia maksudkan agar anggota BPBA dapat mengakses informasi. “Kami sengaja langganan, agar teman-teman bisa melihat sesuatu yang ada diluar pesantren ini, dan saban ada program speeach contest bisa mengambil tema yang terjadi itu,” ungkapnya.

Sementara koran yang terpajang di halaman Blok B (kawasan Siswa SLTA) tidak dibuat sepi pengunjung dengan adanya koran yang masuk ke bilik-bilik santri. Melainkan santri yang tidak belangganan dikamarnya, saban harinya memadati 3 lumbung koran yang memuat koran Jawa Pos dan Radar Madura itu.

Misbahul Munir, Ketua Seksi Kepustakaan, Penerbitan dan Pers (KP2) yang menangani penerbitan di Lumbung Koran tersebut mengaku  sangat apresiatif terhadap geliat santri dalam mengakses informasi. Sehingga, pihaknya membari kebebasan tentang santri yang hendak berlangganan koran.

“Kalau santri sudah punya geliat untuk membaca, seperti di kawasan Blok A (Kawasan MTs, Red) ini jangan dihalang-halangi. Pengetahuan itu kan bisa di dapat dengan membaca, tepat sekali sikap kita dengan ajaran Islam, iqro’ itu, ” Paparnya santri asal Pasongsongan itu.


Penulis : Misbahul Munir

Editor    : Saifil Mu’iz

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak