Hari Ke-2 Peserta Opsaba Mendapat Pemahaman Sejarah PP. Annuqayah Lubangsa

2
579

Lubangsa_Pelaksanaan kegiatan Orientasi Penerimaan Santri Baru (Opsaba) pada hari kedua, Rabu (11/10) kemarin, mendapatkan pemahaman tentang sejarah Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa yang diisi langsung oleh K. Syafi’ie Ansori.

Pengasuh PP. Annuqayah daerah Assyafi’ie itu menjelaskan bahwa sejarah Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa tak bisa dipisahkan dengan sajarah berdirinya Pondok Pesantren Annuqayah.

Pondok Pesantren Annuqayah yang berlokasi di Desa Guluk-guluk, Sumenep didirikan oleh K. Syarqawi yang berasal dari Kudus (1887).

Lebih lanjut, Kiai yang berstatus sebagai Kepala Sekolah Madrasah Aliyah Tahfidz Annuqayah (MATA) itu memaparkan bahwa latar belakang Kiai Syarqawi menetap Sumenep Madura tak lain bermula saat K. Syarqawi hendak menuntut ilmu ke Negeri Hijaz, yang dalam perjalanannya dipertemukan dengan saudagar dari Prenduan, Sumenep, Syaikh Abuddin alias Kiai Gema yang mau menuaikan ibadah haji bersama istrinya Ny. Khadijah.

Persahabatan kedua lelaki itu cukup erat sejak dalam perjalanan menuju Makkah. K. Gema yang sering sakit, pendapat perawatan dari sahabatnya K. Syarqawi. Bahkan K. Gema sempat berpesan kepada K. Syarqawi bila dirinya meninggal dunia, K. Syarqawi diminta untuk sudi menikahi Istrinya. Tak lama, K. Gema benar-benar wafat, wasiat itu akhirnya dilaksanakan oleh K. Syarqawi.

Kepulangan K. Syarqawi dan Ny. Khadijah tahun 1886 dari Mekkah ke Dusun Pesisir, desa Preduan., mendapat sambutan yang positif oleh masyarakat. Di tempat itu, ia menjalankan aktivitasnya mependidik para santri dengan ajaran agama Islam Ahlussunnah wa al-Jama’ah.

Selang beberapa tahun, K. Syarqawi ingin pindah tempat mencari suasana yang lebih besahabat. Sebelum pindah istrinya berpesan agar beliau beristri lagi bernama Ny. Mariyah (Putri Kiai Idris Petapan, Guluk-guluk) dengan alasan agar ada generasi penerusnya kelak. Akhirnya, atas bantuan mertuanya, ia menemukan tempat di depan Masjid Jamik Annuqayah. Pada tahun 1887 ia resmi pindah ke Guluk-guluk.

 “Dalam pencarian lokasi yang bersahabat itu, K. Syarqawi hampir mau pindah ke daerah Prancak, Pasongsongan. Tetapi, akhirnya memilih di Desa Guluk-Guluk,” Kata K. Syafi’ie Ansori.

Dari hasil perkawinannya dengan Ny. Mariyah K. Syarqawi dikaruni keturunan yaitu: K. Ilyas, K. Muhammad Yasin, K. Abdullah Siraj, K. Abdullah Sajjad, K. Abdul Malik, Ny. ‘Aisyah,  dan Ny. Na’imah. Setelah pernikahannya dengan Ny. Mariyah, dijelaskan bahwa K. Syarqawi masih beristri lagi sebanyak dua orang, yakni Ny. Sarbati dan Ny. Nurani. Atas dasar saran Ny. Khadijah.

Di Desa Guluk-Guluk inilah K. Syarqawi, kembali melanjutkan misinya berdakwah dan mengajari masyarakat selama 23 tahun. Tahun 1910 K. Syarqawi meninggal dunia. Dan misinya dilanjutkan oleh K. Moh. Idris, K. Bukhari (putra dari istri Ny. Khadijah), dan K. Imam (menantu K. Syarqawi dari Karay, Ganding).

Sepulangnya K. Ilyas dari Makkah tahun 1917, yang sebelunya juga pernah nyantri ke K. Hasyim Asy’ari dan K. Kholil Bangkalan, ia langsung mengantikan kepeminpinan pesantren dengan pendekatan pengembangan pendidikan yang berbeda dengan sebelumnya, baik pendekatan dengan masyarakat, sistem pendidikan dan hubungan dengan pemerintah.

Sementara pada tahun 1923 sepulangnya menuntut ilmu Kiai Abdullah Sajjad dari Tebuireng, Bangkalan, dan Pandji Sidoarjo mendirikan pesantren sendiri di daerah Latee.

Atas dasar keinginan K. Khazin putra K. Ilyas yang masih nyantri di Tebuireng Tahun 1933, ia menggagas sistem pendidikan 5 tahun. (Dua tahun pertama disebut siffir awwal dan siffir tsany) dan tiga tahun berikutnya disebut kelas 1, 2, dan 3. Yang kemudian oleh K. Ilyas Madrasah tersebut diberi nama Annuqayah dengan kurikulum terdiri dari materi Tauhid, Fiqih, Tasawuf, Tajwid, Ilmu Alat, dan Ilmu Hitung. Pada tahun 1945 K. Ilyas menggunakan bahasa Melayu untuk pengantar pengajian kitab. Dalam usia 70 tahun  K. Ilyas wafat (w. 1959).

Setelah wafatnya K. Ilyas kepemimpinan daerah Lubangsa diganti oleh K. Amir Ilyas. Setelah K. Amir Ilyas pindah ke daerah Sumber Dhaduwi (sekarang PP. Annuqayah daerah al-Amir) Lubangsa diganti K. Ishomudin Syarqawi. Setelah K. Warits Ilyas boyong dari Tebuireng K. Ishomuddin pindah ke daerah Lubangsa Selatan dan K. Warits  Ilyas meminpin Lubangsa sampai tahun 2014., dan kepemimpinan selanjutnya dipegang oleh K. Muhammad Ali Fikri sampai sekarang.


Penulis : Misbahul Munir

Editor  : Jamalul Muttaqin

2 KOMENTAR

  1. Secara Umum kepemimpinan Pondok Pesantren Annuqayah sejak wafatnya KH. Ilyas (w. 1959) dalam usia 85 tahun (bukan 70 tahun), diasuh oleh KH. Moh. Amir Ilyas (W. 1996) dalam usia 71 tahun. Beliau mengasuh sekaligus pendiri Madrasah Tsanawiyah, penggagas berdirinya Pramuka, Perguruan Tinggi Annuqayah dan inisiator dalam pengembangan desa Guluk-Guluk sebagai desa bersih dan hijau, yang penanganannya dilakukan oleh KH. Tsabit Khozin dan Kh. Abd. Basith AS. Dari inisiatip beliau, maka Anuqayah mendapat penghargaan Kalpataru dari Menteri Lingkungan Hidup; Emil Salim pada tahun 1980 yang diserahkan di halaman Madrasah Tasnawiyah ketika itu. KH. Moh. Amir dikenal sebagai kyai dan pengasuh yang istiqomah, disiplin dan tegas dalam memutuskan berbagai masalah keagamaan dan pendidikan. Almarhum adalah simbol ke-istiqomahan yang hingga saat ini belum tergantikan. Kuburan beliau terletak di Maqbaroh Lempong, barat laut TK Annuqayah, tanah beliau sendiri yang beliau beli dari KH. Mahfudz Husaini. Tanh tersebut hanya bisa ditempati famili alamrhum, setelah mendapat izin dari putera-puteri alamrahum. Demikian salah satu wasiat almarhum kepada putera-puterinya, begitu kata KH. moh. Muhsin Amir Semoga generasi berikutnya bisa meniru jejaknya.

  2. Secara Umum kepemimpinan Pondok Pesantren Annuqayah sejak wafatnya KH. Ilyas (w. 1959) dalam usia 85 tahun (bukan 70 tahun), diasuh oleh KH. Moh. Amir Ilyas (W. 1996) dalam usia 71 tahun. Beliau mengasuh sekaligus pendiri Madrasah Tsanawiyah, penggagas berdirinya Pramuka, Perguruan Tinggi Annuqayah dan inisiator dalam pengembangan desa Guluk-Guluk sebagai desa bersih dan hijau, yang penanganannya dilakukan oleh KH. Tsabit Khozin dan Kh. Abd. Basith AS. Dari inisiatip beliau, maka Anuqayah mendapat penghargaan Kalpataru dari Menteri Lingkungan Hidup; Emil Salim pada tahun 1980 yang diserahkan di halaman Madrasah Tasnawiyah ketika itu. KH. Moh. Amir dikenal sebagai kyai dan pengasuh yang istiqomah, disiplin dan tegas dalam memutuskan berbagai masalah keagamaan dan pendidikan. Almarhum adalah simbol ke-istiqomahan yang hingga saat ini belum tergantikan. Kuburan beliau terletak di Maqbaroh Lempong, barat laut TK Annuqayah, tanah beliau sendiri yang beliau beli dari KH. Mahfudz Husaini. Tanh tersebut hanya bisa ditempati famili alamrhum, setelah mendapat izin dari putera-puteri alamrahum. Demikian salah satu wasiat almarhum kepada putera-puterinya, begitu kata KH. moh. Muhsin Amir Semoga generasi berikutnya bisa meniru jejaknya. Amin ya robbal ‘Alamien !

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak