Ibadah Haji Bukan Simbol Tapi Pengorbanan

0
523

Oleh: Jamalul Muttaqin*

Berita kematian warga yang dikeroyok massa di desa Taman Sare, Dungkek Sumenep, membuat setiap orang yang menyaksikan merinding bulu kuduknya, ngeri sekaligus histeris. Kejadiannya sangat tragis sekali, warga tersebut diikat di bawah pohon dengan tubuh telanjang, dan kepalanya dilempar dengan batu bertubi-tubi, darah berkucuran di sekujur tubuhnya, kemudian dibakar ramai-ramai, tak ada polisi yang berani mencegah massa karena takut dikeroyok pula. Parahnya, sebagian masyarakat bersuka cita, sedang sebagian kecil berduka cita. Tidak lama kemudian, berita kematian warga yang dikeroyok massa itu, menyebar di media sosial (medsod). Setelah ditelusuri, ternyata warga tersebut adalah salah satu kepala suku komplotan pencuri yang paling mbeling. Anehnya, ia baru selesai menunaikan ibadah haji, menurut selentingan masyarakat, uang yang disetorkan adalah hasil mencuri. Naudzubillah min dzalik. Tak usah menyebutkan nama.

Di masyarakat pedesaan, terutama di pelosok desa yang paling endeso sekali, ibadah haji merupakan impian bahkan kebanggaan. Ada sebagian masyarakat beranggapan bahwa kekayaan diukur dengan seberapa banyak ia berangkat haji ke baitullah. Meski ibadah ini bukan menjadi sebuah kewajiban bagi yang tidak mampu, tapi menjadi sebuah titik keharusan bagi masyarakat dengan cara apapun, agar dikata dirinya sudah kaya, agar dikata dirinya sudah lengkap imannya, bahkan parahnya di bebera desa yang saya huni, masyarakat lebih hormat kepada Pak Haji dari pada ke kiai yang tak haji. Akhirnya, banyak kiai yang belum haji pakek peci putih biar bergengsi.  

Jadi, itulah alasannya membeberkan kejadian pencuri di atas, sebagai pelajaran sekaligus hikmah bagi masyarakat yang belum mampu melaksanakan ibadah haji, terutama bagi masyarakat yang nyolnyolan pingen haji, mereka pikir segampang dalam film “Tukang Bubur Naik Haji”, kemudian mereka dengan bringasatan cepat-cepat kelar naik haji dalam kondisi tidak cukup syarat.

Mumpung bulan ini moment haji, memasuki bulan Dzulhijjah menjadi sangat autentik jika terlebih dahulu masyarakat mau mengaji arti di balik ibadah haji yang sesungguhnya. Sebenarnya, dalam bulan Dzulhijjah ini, ada sepuluh keutamaan amalan ibadah yang utama untuk dikerjakan oleh orang muslim. Meski itu membuat masyarakat fakir miskin gigit jari karena tidak mampu menunaikan kewajiban berhaji. Toh, pada kenyataanya mereka bukan mencari pahala sebagaimana yang Allah janjinkan, diriwayatkan dalam hadits HR. Bukhari: 1683, Muslim: 1349, “…..dan haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga”.

Tentu kalimat “mabrur” bagi orang-orang yang benar-benar tersbebas dari dosa, ada sterilisasi keikhlasan dengan bentuk pengabdian kepada Allah Swt. Sebab itu, perihal kejadian di muka menjadi contoh paling penting, bahwa harta yang digunakan berhaji menurut Nabi Muhammad harus terbebas dari sesuatu yang haram, “Innallah Thayyibun, la yakbalu illah thayyiban,” yang menunjukkan bahwa Allah baik (mulia) dan tidak menerima kecuali dari yang baik. Alangkah baiknya, perkataan Ibnu Abdil Barr dalam kitabnya al-Tamhid, menurutnya haji mabrur, yaitu haji yang tiada riya’ dan sum’ah di dalamnya, tiada kefasikan, dan dari harta yang halal. Jika dengan muluk-muluk masyarakat bersikeras tetap ingin menunaikan ibadah haji dengan harta yang haram, itu sama halnya, dengan membersihkan najis dengan air kencing, bukan menghilangkan najis malah sebaliknya menambah najis berlipat-lipat, cerita ini membuat saya teringat dengan kisah Sunan Kali Jaga yang sering membegal harta para birokrat yang kaya raya, dan mensadaqahkanya kepada orang faqir miskin, akan tetapi dikemudian hari Sunan Kali Jaga ditegur oleh gurunya hingga akhirnya bertaubat. Konklusinya, tak ada sesuatu yang kotor dapat mensucikan yang kotor, maka yang kotor hanya akan menambah kotoran, hanya sesuatu yang suci yang dapat menghapus kotoran yang melekat di tubuh manusia, ia berupa kebaikan-kebaikan dari amal ibadah yang diterima oleh Allah Swt.

Bagi yang tidak memiliki harta, Allah Swt masih menjanjikan pahala dengan kognisi amalan-amalan yang lain di bulan Dzulhijjah, barangkali di sinilah, kadang saya berfikir bahwa Allah Swt tidak pernah membeda-bedakan satu amalan dengan amalan yang lain selagi dikerjakan dengan penuh keikhlasan, tak ada yang paling diistimewakan. Allah Swt., hanya mengistimewakan moment dan waktu pelaksanaannya. Salah satunya, amalan lain di bulan Dzulhijjah adalah berkurban, karena nabi pernah mengatakan bahwa bulan Dzulhijjah adalah bulan kurban untuk menghormati kisah pengorbanan nabi Ibrahim dan Ismail sewaktu menguji imannya dengan perintah yang sangat memberatkan sekali—menyembeli putranya Ismail. Maka, dalam Islam dikenal dengan Idul Adha atau hari raya kurban, tepat pada tanggal 10 Dzulhijjah.

Sebab itu, semua ibadah tidak lain memiliki maksud dan tujuan sebagai bentuk pengorbanan, begitulah Nabi Ibrahim berkorban demi Allah Swt. Begitupun ibadah haji, tidak lain mensucikan diri dengan melaksanakan ibadah haji adalah bentuk pengorbanan dengan meteri atau dengan harta, ia memiliki subtansi yang sama dengan ibadah kurban, yaitu menyerahkan harta kita kepada Sang Pemiliknya. Sebagaimana Allah Swt., berfirman dalam QS. Al-Kautsar: 2, “maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berkorbanlah.” Secara implisit, berkorban adalah bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya, dengan mengalirkan darah hewan qurban termasuk pula mengalirkan rasa bersyukur dan ketaatan dengan satu bentuk taqarrub yang khusus. Benar memang jika manusia mengaku cinta kepada Allah Swt., di situlah ada pengorbanan, cinta adalah berkorban untuk kekasihnya.

Akan tetapi, bagi manusia yang tidak memiliki harta, hidup sebatang kara, kadang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari sangat sulit, tidak usahlah bersedih. Ya, bersedih karena kemiskinan yang menjerat bukan orang mukmin namanya, karena orang mukmin akan lebih memilih hidup dengan keadaan serba kekurangan. Maka, manusia yang tidak memiliki harta, Allah Swt menjanjikan pahala dengan mengerjakan amalan-amalan yang lain di bulan Dzulhijjah, berupa puasa, tahlil, takbir, tahmid, dan yang lainnya. Maka pada bulan itu, sesuai dengan Hadist Nabi Muhammad Saw., menjanjikan, barang siapa yang berpuasa di hari Arafah, melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya.

Sekali lagi saya tegaskan, bahwa di balik ibadah haji ada nilai subtansi berupa pengorbanan, di balik pengorbanan ada upaya transformasi untuk mensucikan diri yang berupa amalan-amalan sesuai dengan tingkat kemampuan manusia untuk menggapainya. Ibadah haji bukan simbol melainkan pengorbanan dan ketaatan.

  

*Penulis adalah calon sarjana Ushuluddin Instika, suka mengembala kambing dan sapi. Sayang, sekarang masih nyantri di PP. Annuqayah daerah Lubangsa. Jadi, nggak ngembala kambing sendiri. Wkwk…

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak