Ismil A’dzom

0
120
Foto: Tirto.id

Di dalam baju kurasakan keringat dingin mengucur, semua tatapan tertuju padaku. Pandangan sulit kuluruskan ke hadapan mereka, aku banyak menunduk. Tapi aku harus selesaikan ini, dalam hati genderang bismillah mulai kutabuh pelan.

“Kesal aku dikata-katain lagi oleh teman-teman sendiri. Aku pulang dari surau dengan gusar, tak seperti kata pak Ustaz kalau kita sudah salat atau beribadah semacamnya, apalagi baca Quran hati akan adem dan tak akan ada kebencian ataupun niatan mau bermaksiat.

Tapi aku melewati jalan setapak yang hanya bercahayakan remang bulan di kejauhan dengan perasaan hati yang tak kalah gelap. Aku kesal sama Andre—satu-satunya temanku yang memakai arloji yang katanya mahal—yang selalu membanding-bandingkan namanya yang katanya kebarat-baratan dengan namaku yang dianggapnya sama sekali tak relevan dengan zaman kini. Aku juga tak suka dengan Kholili yang selalu nyinyir padaku bahwa kalau mau buat nama itu yang islami sebagai salah satu bentuk cinta kepada agama, katanya berkali-kali dan menyuruhku memberitahukannya kepada Ibu. Trenggiling! Teriaknya di kejauhan yang tak mungkin kukejar kecuali akan lepas kaitan peniti di bawah paut jempol sandal. Juga tak jauh beda dengan teman-temanku yang lain. Aku sebal bila membahasnya satu-satu.

Sebagai seorang lelaki, aku tak ingin menanggapi itu semua hanya dengan perasaan saja, maka aku mencoba berfikir, apa nama Trenggono benar-benar jelek dan tak punya makna sebagaimana yang mereka ejekkan?

Aku hingga kini tak mempunyai jawaban untuk itu sementara teman-temanku—jika mereka tidak lupa—selalu mengejek namaku entah di surau, sekolah, jalan, sungai, di mana-mana. Aku seolah terisolasi dari kebahagiaan yang biasa aku tuai di tengah-tengah mereka sebelum empat bulan lalu, kala pak Ustaz memberi materi tentang keutamaan nama bagi diri seseorang. Semua teman-temanku mempunyai dalih kala dicecar apa arti dari namanya, seperti halnya Andre, tapi aku bungkam di sudut ruangan. Maka sejak itulah (nam)aku dijadikan bahan olok-olok. Aku tak pernah menyalahkan pak Ustaz dengan materinya, juga awalnya aku menyalahkan teman-teman karena menyalahgunakan materi yang sebenarnya bermanfaat menjadi tak menyenangkan bagiku, namun pada akhirnya aku harus tunduk dengan guyonan menjengkelkan mereka.

Sekarang Ibu tahu siapa yang aku salahkan? Ya, Ibu sendiri. Mengapa Ibu menamaiku demikian, mengapa tidak Al-Aziz, mengapa bukan Ar-Rasyid seperti yang pak Ustaz beritahukan, Bu?”

“Itu adalah nama yang kakek berikan sebelum meninggalnya, setelah ibu ia ketahui sedang hamil. Ibu juga tidak mengerti mengapa kakek menghendaki nama itu. Hanya saja ibu tetap menyematkannya padamu atas dasar menjaga wasiat dari kakek. Jadi terimalah, jangan dengarkan omongan teman-temanmu, cari sisi baiknya saja.” Tanggap Ibu setelah saya ceritakan semua. Mengapa seenteng itu Ibu menyikapi. Seenteng pandangannya ke langit malam.

“Tapi Bu, Ibu tak tahu rasanya yang bertubi-tubi menghujamku saban hari. Aku tak mau terus-terusan malu seperti ini. Ibu juga tahu apa yang aku cita-citakan bukan? Ibu lihat di kamarku, telah banyak kugambar tentara sang penyelamat negara. Apa Ibu mau nanti aku yang mendapat gelar perwira, sersan atau kapten tapi namanya mirip hewan trenggiling. Akan dijuluki apa aku nanti, Bu?”

“Kamu mengapa menghubung-hubungkannya dengan cita-citamu. Sebegitu hinakah nama itu sehingga kamu berfikir sampai ke sana?”

“Benar tidak sebegitu hina, Bu. Tapi begitu menyakitkan hati, apalagi cemooh tak kunjung reda berhari-hari. Semua itu akan terus mengingatkanku pada cita-cita yang telah bulat ‘kan kugapai. Harusnya Ibu mengerti apa yang terjadi padaku.”

“Dan kamu juga harus mengerti, Nak, mengapa setiap keluar rumah ibu suruh kamu membaca bismillahi tawakkaltu ‘alallaah…

“Tidak, Bu, tidak. Dua tahun aku sudah jarang ayan kecuali bulan nampak purna, itupun jikalau. Ibu jangan membuat ciut tekadku. Apa Ibu tidak bahagia kalau kugapai cita-cita muliaku?Atau Ibu memang tidak setuju tidak merestui? Ah, aku paling bosan berbicara dengan Ibu!”

“Sama sekali ibu tak begitu.”

“Lalu kenapa?”

“Kita hanya hidup berdua, Nak. Bapakmu lama sudah tidak pulang. Kita hanya punya tiga ekor kambing dan satu lahan sempit yang ditanami kopi. Sementara kamu mau daftar jadi tentara. Dinding gedek rumah kita sudah banyak rumah rayapnya, untuk uang sekolahmu saja Ibu harus nyicil.”

“Iya, Bu. Aku mengerti. Tapi ini adalah keinginanku, aku tidak akan memberi beban kepada orang lain dalam urusan ini. Ibu lihat potensi yang ada padaku ini. Tubuhku adalah tubuh bapak yang tinggi semampai. Hampir setiap hari aku keluar masuk hutan cari kayu bakar, kukuasai benar medan gunung. Lihat saja tubuhku yang kekar ini. Lalu apalagi dariku yang mesti Ibu ragukan?”

“Situasi, situasi nista kita, nak. Kita berada cukup pelosok dari kota, kita ada di kaki gunung. Bahkan kamu pun tak pernah tahu seperti apa alun-alun dan seragam juru parkir.”

“Akan kutanggung semua, Bu. Ibu tak usahlah kuatir, percaya saja padaku karena yang kubutuhkan hanya satu yaitu percayamu. Teguhkanlah hati Ibu, kuberi Ibu waktu seiring aku mencari uang untuk pergi ke Pencatatan Sipil di kota. Karena itu yang teramat penting bagiku terlebih dahulu. Aku sudah muak dengan nama yang Ibu beri.”

“Kamu banyak mewarisi sifat bapakmu, Nak.”

“Aku memang demikian.”

“Butuh tiga bulan kamu harus mencari kayu bakar sebagian untuk dapur dan sebagian lagi kamu jual untuk bisa pergi atau juga mengangkat batu dari sungai.”

“Sejauh itukah letak kota, Bu, sehingga butuh waktu tiga bulan?”

“Bukannya sudah Ibu bilang tadi. Untuk ke kota, kita harus melewati beberapa kecamatan, lalu masih ke arah barat laut. Jauh.”

“Di kecamatan apa tak bisa?”

Ibu diam sejenak, menimbang-nimbang dengan raut yang aneh. Apa Ibu akan membohongi saya karena saya tak pernah tahu tentang kantor-kantor. Ucapnya kemudian, tidak ada, tidak bisa. Kamu harus ke kota.

Perdebatan itu melahirkan malam yang panjang, tak ada dingin.

Maka saya terus memompa giat mencari uang karena bulan terakhir waktu saya mencari uang bersamaan dengan serangkaian ujian kelas akhir SMK. Ini akan jadi kebetulan jika saya rencanakan setelah mengubah nama, saya akan langsung pergi ke markas tentara.

Saban hari lepas sekolah saya berjalan kurang-lebih setengah kilo meter ke selatan. Melewati jalan setapak yang akan mengantarkan saya ke hutan gunung. Kalau sempat, sebelum lereng saya mampir ke sawah pak Sirri ke tenggara untuk memanjat beberapa pohon kelapa peninggalan kakek yang sawahnya telah ia jual kepada tetangga saya itu, tapi tidak untuk pohon kelapa-kelapa  di pematangnya. Atau jika malas naik gunung, tak jauh di timur ada sungai. Saya pergi ke sana membawa serok dan pikulan dua keranjang batu bersama tetangga lain.

Tak hanya kayu bakar dan batu yang saya cari. Saya juga lebih masuk ke hutan mengikuti seekor lebah yang pulang ke sarang, kadang juga paku-pakuan di tebing kecil saya bawa, menebas rotan, cari sambiloto, pala, naik pohon kelapa ibu seperti yang sudah saya katakan, mencari rempah, dan apapun itu yang sekiranya bisa bernilai jual saat nanti saya bawa ke pasar tak jauh dari rumah di utara. Tak peduli pada binatang buas, medan cadas, dingin air, tak juga lilitan tanaman berduri dan seserangga.

 Semakin ada banyak aral menghalau. Semakin tak saya hirau, saya terus meringsek masuk, menebas apa saja dengan belati tanggung dan sebilah arit yang sering saya asah pada waktu pagi. Di sungai juga begitu penuh gairah. Itu juga semakin memacu semangat dan andrenalin di samping saya anggap sebagai latihan untuk menjadi tentara.

Pada serangkaian ujian yang harus saya laksanakan, Ibu menyuruh saya mengurangi masuk ke hutan karena Ibu khawatir pada keselamatan saya kepada segala sesuatu hutan yang bisa membuat saya tidak pergi ke sekolah.

Dengan berat saya turuti sebab saya baru mendapat uang seratus ribu baru dua dan uang pecahan seribu sebanyak enam belas. Maka setelah ujian usai dan pasti saya akan dinyatakan lulus bersama sebelas teman menyebalkan lain saya bilang kepada Ibu bahwa uang yang saya punya masih belum cukup seperti yang ia minta.

Ibu selalu menanggapi semua hal dengan santai, lantas pada keesokan harinya Ibu mengajak saya pergi ke lahan kopi. Katanya di jalan, sebagian kopinya sudah bisa dipetik sehingga nanti bisa buat menambal uang yang saya butuhkan. Selelah panen kopi berdua, Ibu dengan kerudung handuknya yang sudah basah yang tampak bengong sebentar di bawah pohon dadap akhirnya berteriak dari kejauhan, No, sepertinya besok kita juga harus menjual anak kambing itu!

Pagi-pagi sekali saat itu saya bersama Ibu berangkat ke pasar.Dalam gamitan tangan kiri saya tampar merah muda tipis melilit leher anak kambing yang baru lahir bersamaan ketika saya beranjak ke kelas akhir. Ibu membawa saya ke stan hewan ternak. Hingga matahari setinggi tombak setelah lama berkutat dengan tawar-menawar dengan pembeli akhirnya seorang bapak gempal berkenan membeli dagangan saya dan Ibu dengan harga yang telah disepakati.

Sesampai di rumah Ibu tak henti menimang-nimang dengan beberapa uang ratusan ribu yang ia punya di meja makan—itu belum termasuk uang saya, akankah uang itu telah cukup atau tidak? Seperti itu kurang lebih bahasa yang saya baca dari rautnya. Saya yang menemani letih juga hanya melihat Ibu diam-diam saja seperti itu. Akhirnya saya bertanya, butuh sebanyak itukah uang untuk ke kota sekaligus biaya di Pencatatan Sipil nanti? Ibu hanya menjawab dengan anggukan.

Uh, perasaan saya langsung tak nyaman ego saya langsung runtuh perlahan. Haruskah, hanya untuk mengubah nama, tak bisakah saya bersabar sedikit lagi dengan kata-kata menyinggung teman-teman, begitu saya membatin. Tapi tak tahu dari sudut hati yang mana bagian hati saya yang lain kemudian menimpali, sudahlah, Ibu sudah telanjur berjuang banyak, apa salahnya menyelesaikan? Tak baik jadi plintat-plintut. Akhirnya saya urung berkata tidak jadi.

Saya berangkat hari selasa siang karena pertimbangan dari Ibu bahwa kami akan sampai pada hari rabu, hari diciptakannya nur, hari yang paling baik untuk mengubah nama. Saya hanya mengangguk lugu. Setelah pamit secukupnya saya pun berangkat dibawa pikap bersama orang-orang yang sarat bawaan macam saya, pengangkut bakul pisang, kentang, kubis, bawang perei dan sayur-mayur lainnya. Sepasang tupai yang kejar-kejaran di dedahan dan kicauan murai batu di kejauhan seolah tak ingin melepaskan saya pergi dan menyampaikan sayonara dengan berat hati.

Ini yang janggal dari Ibu, Ibu membawa serta sebagian besar pakaian saya. Ingin saya tanyai ia namun saya juga lelah dengan jawaban bahwa kota itu jauh. Jadilah sepanjang perjalanan saya mengunci mulut. Memilih mendengarkan celoteh dan gelak tawa ibu-ibu dan deru mesin dan desir angin. Dalam bayang tak lepas pujian-pujian yang akan tertuju pada saya setelah saya pulang dengan nama baru. Nama baru. Eh bodoh! saya sampai lupa nama apa yang akan Ibu ganti pada saya, selama ini saya lupa menanyakan karena sibuk mencari uang. Ingin saya buka mulut untuk kesekian kali akan tetapi beberapa kecamatan sudah lewat dan suara sikatan di antara rimbun bambu sudah sayup saya dengar petanda matahari kian condong ke barat.

Mana kota yang Ibu janjikan? setelah membuka mata pertanyaan itu yang membuat saya bingung. Mana? Tolah kanan, toleh kiri. Hanya sesekali kampung, sawah, sungai, gapura perbatasan, perumahan dan gedung-gedung tinggi melebihi pohon kelapa. Saya mulai gundah, capek sendiri, membenarkan duduk dan merapatkan jaket. Sedari jalan, Ibu jarang menghadap pada saya, tatapannya selalu saja ke depan kecuali saat menawari saya telur rebus tadi malam atau sepintas untuk mengecek.

Ibu mengetuk pintu pikap agak keras, menyuruh berhenti. Mengagetkan saya yang suntuk melihat kedua tangan yang bermain ujung jaket. Di mana ini? Mulut saya sepat sebab masih terkatup sejak semalam. Saya turun menggendong tas, kaki saya pegal, Ibu menerima saya dari bawah lalu terus memegang tangan saya, menuntun saya ke berantah.

“Bu, di mana tempatnya, Pencatatan Sipil?” Akhirnya saya bicara.

“Sebentar lagi. Kita jalan sedikit lagi.” Hanya itu, selebihnya Ibu dingin seperti kala saya selesai dimarahinya. Saya terus berjalan, ke depan, ya ke depan, saya tak tahu timur-barat-selatan-utara di sini. Yang hanya saya sadari kemudian adalah banyaknya orang-orang yang beraktivitas mirip di sekitar, di depan, di belakang. Apa saya akan berdesak-desakan mengantri sebentar lagi? Terus saja hati saya bertanya-tanya tak henti.

Terperangahnya saat di hadapan saya berdiri gapura besar hijau melengkung dengan tulisan bahasa arab rumit yang sulit saya baca. Dan semua orang yang aktivitasnya sama dengan saya tadi berbondong-bondong masuk seperti kerumunan semut yang masuk ke dalam sarang. Di dalam semua orang seumuran saya kompak memakai kopyah putih, baju muslim dengan warna serupa, serta sarung hijau liris kuning. Pemandangan tersebut mengingatkan saya pada guru ngaji saya di desa.

“Bu, tulisan di pojok sana, ini bukan kantor Pencatatan Sipil.”

“Ustaz di desa terbentuk dari sini. Di sini kamu juga bisa mengubah namamu, tanpa payah-payah mengubah akta kelahiran lagi, tanpa persyaratan membelit. Cukup kamu tinggal di sini sambil belajar, dan Ibu akan pulang ke desa.”

“Maksud Ibu?”

“Nanti kita bicarakan lebih lebar. Mari masuk. Ibu akan mendaftarkanmu dulu ke kantor.”

“Maka setelah saya diterima di sini, kemarin, sebelum saya ditinggal Ibu pulang dan menangis di pinggir jalan sana, saya menyadari kembali ibu saja pandai membuat taktik. Selesai!” kuakhiri ceritaku.

“Subhanallah, ceritamu unik akhi. Berawal dari hal sepele, seorang yang mau mengubah namanya sebab memiliki cita-cita jadi tentara pada akhirnya malah terkecoh oleh umminya sendiri. Tak apa akhi, di sini kau bisa merajut cita yang lebih mulia daripada tentara sekalipun. Bagus-bagus, silahkan duduk, kuucapkan selamat datang padamu akhi, sekarang kupanggil kau…”

Seisi kelas tiba-tiba riuh oleh gelak tawa dan tepuk tangan teman-teman. Tapi aku masih sayup mendengar apa yang terakhir ustaz ucapkan barusan padaku. Senyar terus menjalar.

Aku berjalan kembali ke tempat duduk, sementara teman-teman masih tak henti dengan tepuk tangan dan gelak tawa mereka. Untuk selanjutnya teman yang duduk di sampingku yang dipanggil ke depan untuk menceritakan kisah dan latar belakang masuk ke pesantren ini.

Kubetulkan lagi kopyah, kerap aku menunduk menyembunyikan tawa, kadang kututup mulut dengan punggung tangan, berkali-kali membatalkan senyum. Tak apa, yang terpenting dari hal ini adalah aku takkan merasa berat hati ataupun khawatir pada cemooh teman-teman lagi ketika aku akan pulang nanti sebab mereka pasti akan takjub mendapati nama baru yang melekat padaku ini, namaku yang teramat agung, Santri.

Annuqayah, 2020 M.


*Penulis Haikal F. bisa dikunjungi di @faqihaikal andersekor.

*Cerpen ini menjadi kontributor dalam Peringatan Milad Pondok Pesantren Sidogiri Ke-283 dengan tema “Marhaban Santri Milenial”

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak