Jajaran “Kalebun” Ikstida Punya Seragam Khusus

0
275
Gayeng: Ahmad Fawaid (berjas biru) diapit keempat pimpinan otonom Ikstida

Lubangsa_Para Ketua Organisasi Otonom Ikatan Keluarga Santri Timur Daya (Ikstida) Masa Bakti 2020-2021 M. memakai seragam baru pada beberapa serangkaian kegiatan Festival Ikstida Cerdas (FIC). Seragam yang dipakai oleh empat orang ketua otonom tersebut berwarna hitam. Motifnya sama persis dengan almamater Ikstida. Memakai lambang Ikstida, yang  diletakkan di dada bagian kiri, sedangkan dada di bagian kanan tertera nama pemilik. Di bawahnya, tertulis jabatannya dengan istilah “kalebun” berikut nama otonomnya masing-masing. Ada Kalebun Iksabad, Kalebun Iksbat, Kalebun Pasra, dan Kalebun Iksal.

Pembuatan jas khusus Ketua Otonom sebenarnya merupakan hasil rembuk dari mereka sendiri termasuk ketua Ikstida. Hal ini direncanakan tepat saat rapat pembuatan jas almamater Ikstida. Dari itu, ketua Umum Ikstida, Ahmad Fawa’id menawarkan kepada para ketua otonom barangkali juga mau membuat jas atau seragam khusus. “Tahun ini kalian memang tidak masuk ke struktur Ikstida. Biar fokus. Namun, kalian bertugas mengurusi otonom yang dinaungi Ikstida sendiri. Jadi, kalian sebenarnya tetaplah pengurus Ikstida hanya saja bersifat kultural bukan struktural. Dan karena ini jas khusus maka saya kira harus dipakai hanya ketika kegiatan Ikstida sendiri,” ungkap santri yang sering dipanggil Nyabeer itu pada saat rapat.

Hal tersebut ditambah oleh Moh. Rizalul Ulum, Ketua Otonom Iksal, bahwa, “Tahun-tahun sebelumnya kan belum pernah punya jas khusus. Saya kira kita harus punya kenang-kenangan bahwa pernah menjabat sebagai ketua Otonom.” Pungkasnya.

Adapun nama “kalebun” yang tertera di dada bagian kanan itu juga berdasarkan kesepakatan antar ketua otonom. Berawal dari dawuh pengasuh PPA Lubangsa yang menyebut ketua orda sebagai kepala suku. Berlanjut, istilah tersebut ternyata dijadikan gelar yang diletakkan di jas para ketua Orda Lubangsa. Fawa’id menambahkan, “Saya kemarin memberikan pilihan kepada mereka beberapa nama, di antaranya, Kalebun, panglima pasukan, perdana menteri, dan lain sebagainya.”

Akhirnya para ketua otonom Ikstida sepakat mengambil nama “kalebun” sebagai jabatan yang diletakkan di bawah namanya. Alasannya, sebagaimana disampaikan oleh Syarif Hidayatullah, Ketua Otonom Pasra, “Berdasarkan banyaknya anggota, kami mengibaratkan bahwa Ikstida adalah sebuah Kecamatan dan otonom sebagai desa-desa yang berada di bawah naungannya. Makanya kami sepakat memilih nama itu,” pungkasnya saat diwawancarai.

Hal itu sedikit berbeda dengan pengakuan salah satu anggota yang menyebutkan bahwa Ikstida sebagai Kabupaten karena terdiri dari empat kecamatan. “Kalau aparatur negara ya DPR dapil V itu. Sementara otnomnya mungkin adalah Bapak Camat masing-masing,” kata santri yang enggan disebutkan namanya. Akan tetapi, karena itu sudah kesepakatan, mau tidak mau semua harus tunduk pada kesepakatan rapat. Sehingga “kalebun” dijadikan sebagai jabatan ketua otonom tersebut.

Abd. Wafi, pengurus Kamtib Ikstida termasuk salah satu yang kaget ketika melihat para ketua otonom tiba-tiba berseragam yang dipakai pada saat acara Festival Ikstida Cerdas. “Saya tidak menyangka sebelumnya. Kamtib Ikstida tahun ini sebenarnya sudah punya juga dan dipakai pada saat mengontrol anggota setiap kegiatan. Loh, tahu-tahunya ketua otonom ternyata juga punya seragam. Bagus sih. Periode saya kira Ikstida keren-keren dan solidaritasnya cukup mampu dipertaruhkan, dan saya berharap ini tetap dilanjutkan sampai tahun berikutnya,” pungkas calon Mahasiswa Instika itu.


Penulis: Faiki Hakiki

Editor: Moh. Ali Fikri

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak