Utopia Sufi Perempuan

0
378

(Sebuah Analisis Ilmiah Emansipasi Gender Atas Marjinalisasi Sufi Perempuan dalam Kajian Tasawuf)

 

Masalah perempuan kerap kali mengundang beragam diskursus pertanyaan dalam dunia tasawuf. Ada persepsi yang mengatakan bahwa tasawuf merupakan dunianya para laki-laki, barangkali tidak sepenuhnya salah. Karena jika menilik pada lembaran-lembaran literasi tasawuf sampai hari ini mengguatkan bahwa kenyataan yang ada memang demikian. Dari riwayat-riwayat yang tersampai, juga karya-karya tertulis, yang terbaca hatta dewasa ini merupakan sepenuhnya dunianya laki-laki. Nyaris tidak ada satu pun karya sufisme yang dapat dikatakan sebagai warisan khazanah intelektual dari sufi perempuan. Selama ini perempuan masih dianggab sebagai orang nomer dua setelah kaum laki-laki, mungkin ini tidak lepas dari bangunan wilayah konstruksi bias gender[1] yang kerap memposisikan seorang perempuan sebagai mahluk minoritas yang lemah, tertindas, dan menjadi sosok atribut yang butuh perlindungan dari seorang laki-laki.[2]

Perempuan sampai hari ini belum bisa meramaikan konstelasi sejarah baru dalam kajian tasawuf, tidak banyak para peneliti dan intelektual muslim menulis kiprah seorang sufi perempuan. Menurut Prof. Dr. Hj. Masyitoh Chusnan, Mag. “mungkin” karena banyaknya teks-teks al-Qur’an dan Hadist misoginis yang mendiskreditkan ruang lingkup seorang perempuan dan bisa saja itu tidak lepas dari persoalan gender.[3] Persoalan gender sepertinya sudah menyeluruh hatta masuk ke berbagai ruang dimensi kehidupan sosial. Di tengah-tengah suasana domestikasi perempuan dan dominasi patriarki, kalangan feminis semakin tidak memiliki gerak bebas.[4] Kebebasan (hurriyah) dalam artian Mernissi adalah kebalikan dari sistem perbudakan.[5]

Melihat fenomena demikian, sepertinya kajian tasawuf perempuan tidak bisa berjarak dengan munculnya wacana emansipasi gender seorang wanita.[6] Fenomena ini bisa dilihat dalam literasi tasawuf dari zaman ke zaman, minimnya kajian tokoh wanita dalam tasawuf menandakan jika persoalan ini dibangun oleh degradasi historis yang sangat panjang. Seakan tokoh perempuan memang begitu gelap dan tabu untuk dikenal dalam bibliografi tasawuf.  

Berbicara tentang “diskriminasi” sufi perempuan barangkali sangat erat kaitannya dengan kontruksi gender sebagaimana yang sudah disebutkan dimuka.[7] Sejarah kelam kaum Jahiliah pra Islam datang sampai menjadikan perempaun sebagai instrumen pelampiasan nafsu seksual seorang laki-laki, dan mengubur anak perempuan secara hidup-hidup, karena perempuan dianggab sumber penyebar fitnah yang menambah berbagai masalah dalam kehidupan keluarga mereka.[8] Problem ini diamini oleh Dr. Hj. Mufida, Ch., M.Ag. perempuan dan tasawuf seakan ada ruang lingkup pemisah antara keduanya yang bernama “kontruksi gender.” Ada “marjinalisasi” atau subordinat atas elan vital perempuan di berbagai lini kehidupan.[9] Sejalan dengan Dr. Nashruddin Baidan, yang mengutip beberapa ide dari Aristoteles, Nietzsche, dan Schopenhauer beberapa kitab suci Yahudi, tentang keadaan kaum wanita pada tahun 1900 yang tidak mendapatkan hak apapun untuk dihormati oleh kaum pria menurut hukum formal. Cerita ini disinyalir dalam al-Qur’an jika perempuan merupakan biang keladi perpecahan harmonisasi sosial sebagaimana yang dilakukan Hawa saat menggoda Adam di surga, jelas dalam penafsiran ayat ini perempuan sangat dipojokkan hingga iblis tak dapat menggoda Adam secara langsung.[10]  

Penelitian tentang “marjinalisasi sufi perempuan” menjadi sangat menarik, jika kita bisa memecahkan latar belakang diskriminasi sufi perempuan secara mendalam, kritis dan representatif. Sayangnya, kita hanya bisa menelusuri seluk beluk persoalan ini pada akar rumput sejarah tokoh-tokoh sufi terdahulu, serta indoktrinasi ajaran sufi perempuan di masanya melalui keterbatasan literatur yang menulis tentang sufi wanita. Barangkali karena masih minim nan nyaris belum ada buku yang secarah utuh total menjelaskan dengan rinci latarbelakang minornya sufi perempuan, hal ini menjadi kendala untuk memperdalam penelitian tentang hipotesa yang disebut “marjinalisasi” sufi perempuan dalam penelitian ini.

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak