Kamar Kitab itu Bernama Darul Kutub Lubangsa

0
355
SAMSUNG CAMERA PICTURES

Teka-teki nama lembaga kitab di PP. Annuqayah daerah Lubangsa terungkap. Pengurus Pendidikan, Pengajaran, dan Pengembangan Keilmuan (P2PK) memberikan nama Darul Kutub Lubangsa (DKL) kepada lembaga kitab tersebut. DKL tersebut akan dijadikan sebagai wahana awal bagi pengenalan terhadap kitab kuning.

Inisiatif diadakannya DKL ini muncul dari Pengasuh PP. Annuqayah daerah Lubangsa, K. Muhammad Ali Fikri. “Di putri dari segi kitab kuningnya lebih maju, bahkan mendominasi Annuqayah. Maka dari itu pengasuh berinisiatif untuk mengadakan juga di putra,” ungkap  Muhyidin, pengurus P2PK, yang menaungi DKL.

Ada beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan DKL, lanjutnya, yaitu Imrithi, Fathul Qarib, hafalan minimal lima bait, mengaji al-Qur’an, belajar teori nahwu-sharraf dan cara baca kitab kuning.

Sementara itu, mengenai waktunya, DKL akan dilaksanakan pada pagi, sore, dan malam hari. “Kegiatan ini akan diikuti oleh santri Lubangsa yang sudah mendaftar, kecuali santri baru,” kata Khalili, Ketua Seksi P2PK.

Sementara itu, untuk memaksimalkan DKL ini, telah dilakukan tahap penyeleksian terhadap santri yang mendaftarkan diri. Sistem yang digunakan dalam seleksi tersebut meliputi beberapa tahap. Di antaranya, pertama, persiapan tes seleksi yang meliputi: penyampaian selayang pandang DKL, pengenalan sejarah ilmu nahwu dan sharraf, serta pengenalan secara umum ilmu nahwu dan sharraf. Semua itu diperuntukkan kepada santri yang mendaftarkan diri menjadi anggota DKL.

Kedua, tes seleksi. Tes seleksi ini ini bersifat wajib bagi peserta, yang meliputi: a) tes tulis nahwu dan sharraf, dan b) tes lisan berupa pembacaan kitab Fath al-Qarib. Ketiga, pelulusan. Dalam pelulusan ini, yang menjadi perhatian pokok penilaian adalah akhlakul karimah, kedisiplinan, skill dan intelektual. Dari hasil tes seleksi yang dilakukan pengurus DKL, telah terjaring sebanyak 10 orang santri dari tingkat MTs dan 14 orang santri dari tingkatan MA sederajat.

Hal ini mendapat respon positif dari para santri. Salah satunya seperti yang diungkapkan oleh Moh. Unis. “Dengan adanya program DKL ini sangat bagus karena ini dapat mempertahankan tradisi lama dan juga demi kemajuan Lubangsa dari segi kitabiyahnya ke depan,” kata santri asal Batang-Batang itu.


Penulis: Ach. Waris

Editor  : Abd. Muqsith

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak