Karantina Kepenulisan Barokah Kecil-kecilan

Karantina Kepenulisan Barokah Kecil-kecilan

0
179
Peserta Karantina Kepenulisan foto bersama dengan wartawan Kabar Madura.

Lubangsa_Malam minggu (23/02) adalah malam yang berbahagia bagi peserta karantina dan peserta lomba menulis essai dan features se-Annuqayah. Pasalnya, malam itu merupakan malam pengumuman pemenang lomba menulis esai, features dan serta penutupan karantina kepenulisan yang dimulai sejak (23/2) yang dibarengi dengan pengumuman peserta terbaik pula untuk karantina kepenulisan yang dibuka sejak hari senin sampai hari jum’at itu dengan mengangkat tema yang bertajuk; “Peluang Pers Pesantren Dalam Dunia Digital”. Sedangkan, untuk tema lomba menulis berita features adalah sisi menarik PP. Annuqayah dan untuk lomba esai bertema pesantren dan Radikalisme. Malam itu, di Aula Lubangsa tampak ramai dengan gemuruh suara para santri.

Sebelum pembacaan surat keputusan pemenang lomba menulis essai dan features se-Annuqayah dan peserta terbaik. Kegiatan tersebut diawali dengan dialog interaktif yang isi oleh A. Taufiqil Aziz (Penulis Buku Drs. K. A. Warits Inspirator dan Guru Umat) dan Naufil Istikhari Kr. (esais, peneliti psikologi di UIN Suka Yogjakarta dan direktur Cantrik Pustaka).

Setelah penyajian keduanya selesai, acara selanjutnya adalah penutupan karantina kepenulisan. Dalam acara seremonial tersebut, untuk pertama-tama diisi oleh sambutan Abd. Warits selaku kasi pengurus KP2. “saya bangga kepada kalian karena telah berjuang dari awal sampai akhir untuk mengikuti karantina kepenulisan dengan seksama. Barangkali ini hanya sebagai barokah kecil-kecilan. Artinya, dengan keikutsertaan kalian dalam karantina ini mungkin akan menjadi bekal ketika kalian pulang ke masyarakat atau bisa diamalkan di pesantren ini. Dan nantinya, kegiatan ini akan ditindak lanjuti ke depannya,”ungkapnya saat sambutan.

 Setelah sambutan kasi pengurus KP2 selesai, MC mempersilahkan kepada  Masyhuri Drajat selaku ketua pengurus masa bakti 2017-2019 untuk sambutan dan sekaligus menutup karantina kepenulisan. “semoga apa yang telah kalian peroleh dari kegiatan karantina kepenulisan ini bisa bermamfaat. Apapun yang kalian senangi dalam pesantren ini. Selama itu baik. Maka dalamilah karena di masyarakat nanti itulah yang akan bermanfaat.” tegasnya kepada para peserta karantina.

Setelah itu, akhirnya Masyhuri Drajat menutup serangkaian kegiatan karantina kepenulisan dengan pembacaan surah Al-Fatihah bersama. “karena itu, marilah kita tutup serangkaian kegitan karantina kepenulisan dengan pembacaan Al-Fatihah bersama,” lanjutnya saat sambutan.

Sedangkan pemenang lomba menulis berita jenis features juara 1 diraih oleh saudari Lailatul Q, santri PP. Annuqayah daerah Latee 1, asal  Bluto, Sumenep dengan judul : Pecinta Alam, Pemberdaya Lingkungan, juara 2 diraih oleh Zakiyatul Miskiyah, santri PP. Annuqayah daerah Lubangsa Putri, asal Banyuwangi dengan judul : Istiqomah dalam Segala Hal; Warisan Lintas Generasi, juara 3 diraih oleh Ahmad Fauzi santri PP.Annuqayah daerah Lubangsa, asal Batang-batang dengan judul : Berbincang-bincang organisasi bersama Abdul Wafi.   .

Sebagai apresiasi panitia tidak hanya memberikan tropi dan sertifikat saja, bagi pemenang Essai juara 1 tulisannya akan dimuat ke majalah muara yang akan rilis sebelum liburan ramadhan ini. Dan bagi pemenang juara 1 lomba menulis berita jenis features akan di muat ke website lubangsa.org.

Rasa senang dan terkejut dirasakan oleh Ikrom Firdaus, santri asal Jember sebagai juara 2 dalam lomba essai se-Annuqayah. ”telinga saya seakan melebar karena sangat senang dan terkejut ketika nama saya dipanggil oleh panitia ketika itu. Namun, kemenangan yang sesungguhnya bagi saya adalah ketika tetap produktif untuk terus menulis dan berproses.”ungkapnya ketika diwawancarai oleh kru Koran Lubangsa sore itu.

Hal serupa juga dirasakan oleh Yayat Fariyanto sebagai peserta terbaik karantina kepenulisan.“Rasa terkejut dan  bahagia karena diantara percaya dan tidak percaya saya hanya bermodal rajin dan sopan saja,”ungkap santri asal Pamekasan itu saat ditemui oleh kru Koran Lubangsa di depan Kantin Sufi pagi itu (28/02).

Syamli Rahmatillah Hasani, Salah satu peserta karantina kepenulisan tidak kecewa mengikuti karantina kepenulisan.“rasa senang bisa ikut karantina kepenulisan bersama teman-teman walaupun tidak menjadi peserta terbaik tidak menjadi masalah yang penting ilmu yang didapatkan bisa menjadi ilmu yang bermanfaat.”pungkasnya saat ditemui oleh kru Koran Lubangsa di Masjid Jamik (28/02) seusai shalawat bersama.


Penulis : Imam Tabroni

Editor : Abd. Warits

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here