Kebobrokan Moralitas dan Cerita “Kiamat” yang Sudah Dekat

0
412

Oleh: Jamalul Muttaqin*

Mengajari anak-anak yang masih selisih antara usia 7-10 tahun, atau anak yang masih duduk di bangku MTs, atau kalau jenjang di Madrasah Diniyah disebut dengan jenjang Ula (tingkatan pemula), kadang merasa sulit dan gampang, sulit karena ia masih suka bermain, mudah karena ia tidak pernah berfikir yang macam-macam, seperti kebanyakan media menyebutnya dengan liberalisme, radikalisme, ekstremisme, skularisme, dan brutalisme-an sih.

Ceritanya,  kemarin (13/08) saat saya mengajar materi akhlaq di madrasah diniyah untuk tingkat Ula, kitab yang diajarkan Dzurusi al-Yaumiyah fi Al-Akhlaq—yang diterjemahkan menjadi pelajaran sehari-hari dalam akhlaq—kebetulan saya membaca tepat pada fasal tanda-tanda kemunculan kiamat dan tanda-tanda yang menakutkan pada saat hari kiamat.

Sepintas, apa hubungannya kiamat dengan akhlaq? Apalagi bicara akhlaq untuk ukuran anak kecil, bagaimana mereka menangkap sebuah pesan tersirat dari cerita yang jauh melambung dari tema-tema akhlaq. Sebelumnya, izinkan saya untuk tidak berbicara ngelantur tentang kiamat dulu.

Baiklah, pembaca yang budiman, sekarang kita harus mengenal apa itu ahklaq dalam konteks cerita tadi…

Menurut dan menurut Husein Attabrosi, dalam kitab al-Adzab Addiniyah, bagi Husein bicara ahklaq bukan melulu sekadar bicara soal moralitas, atau bicara tingkah laku, atau hanya soal tradisi dan kebiasaan yang berlaku di sebuah masyarakat tertentu, seperti di Arab untuk orang Arab, di Jakarta untuk orang Jakarta, atau di Madura untuk orang Madura, dan atau lebih khusus lagi di Sumenep untuk orang Sumenep.

Akhlaq itu sesuatu yang melampau batas, berbicara sesuatu yang intrisik dalam diri manusia, berupa kekuatan moralitas yang lebih dalam dan transendentalis; ia sangat abstrak dan sulit untuk dijelaskan secara sisi logika dan bahasa. Masih menurut Husein, term akhlaq adalah term lain yang hampir sama dengan akhlaq itu tadi, yaitu: adab (berbeda dengan pengertian Kamus Besar Bahasa Indonesia yang hanya memiliki satu arti). Bagi Husein, jika tubuh manusia dibedah; ia akan menjadi dua dimensi yang berbeda sekaligus. Pertama, dimensi ruh atau nafs, yang disebut dengan perangkat halus manusia (software), kedua, dimensi jism, yang disebut dengan perangkat kasar manusia (hardware). Dua kata tersebut memiliki maudu’ atau tema-tema yang berbeda, sedangkan sofware adalah perangkat yang meliputi pembicaraan tentang akhlaq, sedangkan hardware adalah perangkat yang meliputi pembicaraan tentang adab. Jadi, kesimpulannya, Husein ingin membedakan antara akhlaq dan adab.

Beranjak dari pembicaraan antara akhlaq dan adab, untuk ukuran siswa yang saya ajar di kelas, tentu sangat melambung tinggi jika berbicara persoalan-persoalan akhlaq, karena itu tadi, ya bicara perangkat manusia bagian dalam dan harus mengola pengetahuan tentang seluk beluk perangkat terhalus manusia, seperti tingkatan-tingkatan jiwa manusia, ruh manusia, di el el. Maka, saya berkesimpulan bahwa untuk ukuran siswa saya yang masih petek-petek, lebih pas-nya adalah tema adab—prilaku atau moralitas, mengajari mereka agar tidak biadab; agar  tidak su’ul adab, baik cara berprilaku sopan kepada gurunya, atau berprilaku sopan kepada orang tuanya, kepada yang lebih tua dan yang lebih muda, tentu selain berhubungan dengan manusia juga membicarakan prilaku yang berhubungan dengan alam atau makhluk yang lain,  tentu dengan berbagai hal dan pertimbangan yang bisa memancing mereka berhenti melakukan pekerjaan yang menyimpang dari tema-tema adab (moralitas).

Nah, di sinilah, kitab yang dikarang oleh Muhsin Amir bin Ilyas bin Syarqawi (sekarang masih hidup), sangat bervariasi dalam penyampaian tentang masalah akhlaq/adab (untuk menyebut kata “akhlaq” penulis sebut keduanya menjadi sama, akhlaq/adab). Kitab yang terdiri dari empat puluh pasal, tidak jarang dalam contoh-contohnya kadang mengambil sesuatu yang jauh dari kehidupan manusia sehari-hari meski pada intinya contoh yang disuguhkan sangat dekat sekali dengan kita. Salah satunya yang tadi itu, tentang cerita kiamat atau tentang tanda-tanda kiamat. Seolah olah masih jauh, “kiamat sudah jauh,” yang diprediksikan akan jatuh pada tahun 2012 kemarin.

Bagi saya, Kiai Muhsin adalah kiai yang paling tau persoalan moralitas dan politik, karena pada tempat yang berbeda ia bisa menjadi seorang politisi dan di waktu yang lain bisa menjadi seorang kiai. Kenapa politikus? Menyitir lagu Iwan Fals, politikus tidak memiliki moral yang mencerminkan kedewasaan sosok politikus tadi. Mujur, sekarang beliau sudah berpaling dari jalan politik yang katanya penuh intrik. Kiai Muhsin sebenarnya adalah pengarang kitab, seorang akademisi, yang menilai salah satu kebobrokan moralitas adalah bagian dari tanda-tanda akhir masa dunia ini, yang merupakan kepanjangan tangan dari isarah-isarah hari kiamat yang sebenarnya, salah satunya, sebut Muhsin dalam kitabnya, seperti maraknya fitnah; semisal, golongan A menjatuhkan golongan B, dengan fitnah-fitnah yang dibuat untuk menyakinkan orang lain demi kemenangan sesaat di. Mirisnya, pada saat itu, manusia akan menjumpai manusia yang hanya membanggakan dirinya, ia congkak, ia sombong, seolah tak ada yang lebih besar dari dirinya, sedang mereka terus berlomba-lomba untuk memperindah rumah-rumah, dengan rumah-rumah yang bertingkat dan mewah. Maka benar, bahwa kelak kita akan menemukan sebuah masa sedang manusia antar manusia sudah tak saling membutuhkan karena mereka semua sama-sama kaya raya, kebutuhannya terpenuhi, mereka menjadi bebal dan congkak.

Para pembaca yang budiman..

Sembari menghela nafas panjang, saya sedikit merasa kesulitan untuk menjelaskan secara kontekstual agar bisa selaras dengan pengetahuan-pengetahuan siswa yang masih diusiah dini. Setelah saya berlama-lama di kelas, siswa saya ternyata lebih suka mendengar cerita-cerita tentang tanda-tanda kiamat itu tadi, mereka masih sangat kurang ajar, dan tidak sopan kepada saya, mereka masih butuh dibina dengan contoh akhlaq yang sebenarnya bukan lewat cerita-cerita itu tadi, itu sebabnya Tuhan mengutus Nabi Muhammad dengan kata liutammima makarima al-akhlaq., bukan dengan memberikan argumentasi-argumentasi yang menurut masyarakat konservatif  “asasi-sasi, asasi-sasi”. Jadi lebih banyak menjual air ‘liur’ dari pada memberi contoh yang konkrit.

*Penulis adalah calon sarjana Ushuluddin Instika. Masih suka mengembala kambing dan mengurangi melakukan komunikasi lewat media sosial. 

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak