“Keterpaksaan” Jadi Kenyataan; Mimpi Jadi Harapan

0
399

Kalau ada seorang penulis yang produktif apakah kita pernah bertanya-tanya bagaimana proses kreatif-nya? Tentu menjadi seorang penulis tak segampang mem-posting status di facebook atau mengirim pesan di WathAp apalagi menggoreng ikan di wajan. Wkwkwk…

Menjadi seorang santri yang penulis bukan sesuatu yang kebetulan seperti ketiban hujan secara dadakan yang turun dari langit. Menulis meminjam apa yang dikatakan oleh Dr. Maimun butuh ketekunan dan ketelatenan. Ya, ibarat pisau semakin diasah semakin tajam.  

Sebagai seorang santri, Abd. Warits santri asal Grujugan, mencoba melanjutkan warisan dari para ulama yang penulis, sebutlah contoh paling besarnya Imam al-Ghazali. Sebab itu, ia tekun menulis dan ya menulis. Saat ditemui Koran Lubangsa, kemarin (14/11) di depan BPBA. Bahasa Arab, santri yang tak banyak bicara itu, bercerita bahwa sebelum menjuarai event Lomba Cipta Puisi Bulan Bahasa di (STKIP), dirinya sudah menulis di pelbagai media, di antaranya, Majalah Horison, Buletin Sidogiri, Majalah Infitah, Radar Madura, dan yang lainya.

Meski dengan “terpaksa” menjadi penulis, karena alasan ribet, susah, tapi dirinya mengaku telah dibentuk oleh lingkungan, dan lingkunganlah yang melahirkan dirinya, seperi filsuf Frued, santri yang satu ini merasa semua terbentuk secara gradual dengan alamiah atau sunnatullah. “Saya sebenarnya sudah pernah ingin menghindar dari dunia tulis-menulis, karena saya dulunya terpaksa menulis. Ya, tapi saya tidak bisa, lingkungan ini yang membentuk saya harus menulis,” katanya sembari tersenyum.

Menurut Abd. Warits kegitaan menulis dimulai sejak ia menginjakkan kaki di sekolah formal Madrasah Aliah Tahfidz (MAT), semenjak dipercaya menjadi salah satu orang nomer satu di Komunitas Penyisir Sastra Iksabad (Persi). “Mau tidak mau saya harus menulis,” imbuhnya, kepada Koran Lubangsa (14/11).

Santri mahasiswa jurusan Ilmu Qur’am Tafsir (IQT) ini, lebih lanjut bercerita tentang buku-buku yang digemarinya, salah satunya sastrawan Pujangga Pramoedya Ananta Tour. Terutama karena Pram menulis novel yang banyak berbicara tentang masalah sejarah dan kemanusiaan. Mungkin dari Pram-lah ia banyak terinsprasi dan banyak menulis di pelbagai  media tanpa ada tendensi untuk pamer. “Dulu yang menjadi kurator di Antologi Qur’ani, Maman S. Mahayana. Jadi karya saya sudah dibaca kritikus sastra, bisa dibilang karya puisi saya sudah bagus, target saya begitu,” katanya.

Baginya, seorang penulis sudah dipastikan membaca, sedang pembaca buku belum tentu bisa dipastikan menulis. Abd. Warist seperti memberikan satu contoh logika hukum newton kepada kami, bahwa ada sebab dan ada akibat. Seperti akibat makan, maka akan mengeluarkan kotoran, dan selanjutnya, dan selanjutnya.(MR/Jejen)


Penulis: Abd. Malik

Editor: M. Fathor Rozi

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak