Lomba Debat Sebagai Media Evaluasi dan Pencerahan

0
77
Murtafiq memandu berlangsungnya lomba debat didampingi Roisu Wildan

        Lubangsa_Melanjutkan serangkaian kegiatan Festival Ikstida Cerdas (FIC), Organisasi Daerah Ikatan Keluarga Santri Timur Daya (Ikstida) Masa Bakti 2020-2021 M. kembali laksanakan salah satu kegiatannya yaitu gebyar lomba. Ada lima macam lomba yang diselenggarakan pada kegiatan tersebut, yaitu Debat Ilmiah, Pidato Bahasa Madura, Baca Puisi, Baca Solawat, dan Resensi Buku. Semua lomba tersebut dilaksanakan selama enam malam sejak Selasa Malam (16/03) sampai Ahad Malam (21/03) nanti yang dilakanakan di tempat terpisah yakni di Masjid Jami Annuqayah lantai II dan Aula Lubangsa.

        Pada Senin malam (16/03), tepat pukul 21.15 WIB gebyar lomba pertama yakni debat ilmiah dimulai ditempatkan di Masjid Jami Annuqayah lantai II. Malam itu adalah babak penyisihan yang diikuti oleh delapan kelompok dari delegasi otonom Ikstida. Setiap otonom dibatasi dalam mendelegasikan anggotanya maksimal hanya dua kelompok. Setiap kelompok terdiri dari tiga orang. Tentu saja, sebagaimana pengakuan Rozinul Khalid, Ketua Ikatan Santri Batuputih (Iksbat), bahwa yang didelegasikan itu merupakan anggota yang mumpuni dalam bidang debat atau diskusi.

        Hal itu dibenarkan oleh Yassir Arafat, Sekretaris Ikstida tahun ini, bahwa lomba debat ini memang merupakan sebuah kegiatan yang sifatnya pengembangan dan evaluasi dari proses kaderisasi di seluruh otonom Ikstida, utamanya pada kegiatan diskusi. “Setiap otonom kan sama-sama mempunyai rutinitas diskusi dalam setiap minggunya. Jadi, sebagai bentuk evaluasi dan tolak ukur keberhasilan proses kaderisasi diskusi tersebut diadakanlah lomba debat ini oleh Ikstida yang diletakkan di akhir periode,” jelas mantan Ketua Iksabad itu.

        Durasi waktu pada malam itu hanya dihabiskan oleh sesi penyisihan sehingga babak semi final dan final dilanjutkan besok malamnya. Pada Rabu malam (17/03) lomba debat kembali digelar di tempat yang berbeda yaitu Aula Lubangsa. Sebagian anggota Ikstida yang bukan peserta turut serta hadir sebagai penonton sekaligus memeriahkan lomba debat tersebut sampai babak final berakhir. Ruangan Aula yang luas itu demikian meriah oleh tepuk tangan dan tepuk tangan penonton.

        Adapun lomba debat yang dipandu oleh Roisu Wildan dan Ach. Murtafiq ini memiliki empat tema. Pada babak penyisihan bertema Game Merusak Masa Depan Anak Muda. Sedangkan pada babak semi final mengangkat tema Vaksin. Pada babak final panitia menyediakan tema Fosfat. Sementara tema terakhir yaitu Destinasi Wisata diperutukkan bagi peserta yang memperebutkan juara III.

        Setelah kegiatan selesai, Miftahussurur selaku juri tunggal dalam lomba itu menyampaikan beberapa hal kepada panitia. “Ketimbang malam kemarin, ini sudah cukup lumayan. Tinggal kerangka berifikirnya yang masih perlu dikembangkan dan kekayaan referensinya juga harus ditingkatkan,” demikian tutur pengurus P2O itu.

        Hanya saja, Abd. Mughni, ketua panitia FIC kemudian sangat berpesan dan berharap kepada seluruh anggota terutama ketua masing-masing otonom supaya dengan adanya peserta yang menang dan kalah ini jangan jadikan jalan untuk saling membenci apalagi menyalahkan panitia atau juri. Tetapi, karena kekalahan dan kemenangan adalah sepasang kepastian dalam perlombaan yang mesti dialami masing-masing peserta. Maka bagi yang menang jangan terlalu sombong. Bagi yang kalah jangan putus asa. Sebab, lomba ini adalah media evaluasi dan pencerahan bagi otonom secara umum dan bagi kita pribadi sebagai pintu masuk untuk merubah diri kita masing-masing menjadi lebih baik ke depannya,” pungkas santri yang berasal dari Batuputih itu.



Penulis: Rizal Fadil

Editor: Moh. Ali Fikri

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak