Kiprah Pemimpin Koran Lubangsa Dari Masa ke Masa

0
286

Kurang lebih satu tahun telah terlewati, semua wartawan Koran Lubangsa tetap bersemangat mencari berita hangat yang terjadi di lingkungan Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa. Insan pers Lubangsa adalah pejuang yang tak kenal lelah demi pengabdian.

Terlepas dari itu semua, pergantian ketua bukan berarti masalah besar bagi aktor pers. Karena  dalam satu tahun ini pergantian Pem-Red sudah tiga kali ganti kepala.

Ketua pertama Koran Lubangsa dipegang oleh lelaki yang berdarah kelahiran Basoka Rubaru, Asrori SF. Pada masanya, cukup singkat berkenaan dengan pers yang amat  berat harus dilaluinya, namun dia tidak putus semangat untuk berpindah jabatan menjadi reporter yang lebih ringan dibandingkan jabatan awalnya. Menurutnya banyak keluh kesah yang dilalui. Tetapi kesabaran dan kebersamaan menjadikan koran tetap berjalan dengan sempurna. Padahal menjadi pemimpin itu tidak terlalu berat, hanya berbekal semangat dan dapat menggerakkan bawahannya dengan melontarkan ‘beremmah?’(Bagaimana). “Dengan meluncurkan jurus tersebut mereka sebagai bawahan merasa malu apabila tugasnya tidak segera diselesaikan. Bukan hanya kata itu, namun pendampingan harus juga dilaksanakan agar tidak ada rasa disuruh dan menyuruh,” ujar Asrori.

Tidak hanya itu, Pem-Red ke-2 Andi Holis menjelaskan bahwa dirinya sadar bahwa menjadi pemimpin memang harus membutuhkan keteguhan yang tinggi. “Pengalaman saya disini (Koran Lubangsa, Red.), sama sekali saya tidak pernah pengalaman dalam soal memimpin, makanya pengalaman pertama saya menjagi pemimpin, ya, disini,” ujarnya. Sehingga semangat untuk menerbitkan Koran Lubangsa mendapat dukungan dari seluruh Kru yang tidak kenal lelah. “Hanya harapan untuk Koran Lubangsa agar tetap berjalan dengan baik dan lancar kedepannya,” imbuhnya.   

Sementara Pem-Red ketiga dipegang oleh lelaki kelahiran Nyabakan Timur, Batang-batang, Semenep. Pemimpin yang satu ini memiliki karakter yang tidak banyak bicara, apapun yang menjadi tugasnya langsung dilakoni.

Baginya meminpin Koran Lubangsa merupakan pengalaman pertama memegang jabatan sebagai ketua. Meski pada mulanya ia tidak mau diberikan amanah menjadi Pem-Red, sebab ia merasa tidak pantas dibandingkan dengan Pim-Red yang sebelum-sebelumnya dan merasa paling junior di Koran Lubangsa. “Setelah saya pikir-pikir lagi ini mungkin adalah kesempatan bagi saya untuk mendapatkan pengalaman, karena pepatah bilang bahwa pengalaman adalah guru terbaik dan juga bisa berproses disini,” tuturnya.

Selama menjadi Pim-Red kurang lebih tiga bulan, rasa manis atau pahit dalam perjalanannya sudah menjadi santapan setiap hari. Dia juga menyatakan bahwa tidak mudah untuk menyandang jabatan sebagai seorang ketua, karena menurut dia dibutuhkan kesabaran untuk mendampingi para bawahannya, sama seperti yang dituturkan oleh Pim-Red sebelumnya, dia juga harus selalu mengeluarkan kata-kata beremma, lastare ampon?(Bagaimana? Sudahkah?) kepada rekan reporternya.

Lelaki yang memiliki tampang ganteng itu memiliki cara tersendiri dalam menghipnotis bawahannya, yakni memberi contoh menyelesaikan tugas-tugas sebagai Pem-Red. “Namun, saya tidak hanya bertanya selesai tidaknya tugas mereka, tentunya sebagai peminpin juga harus memberi contoh dengan menyelesaikan lebih awal tugasnya juga. Agar nantinya teman-teman reporter tidak merasa enggan untuk menyelesaikan tugasnya, kerena pastinya mereka akan mengaca juga terhadap perbuatan seorang pemimpin,” jelasnya.

Bukan hanya itu, pendekatan secara emosional juga diperlukan oleh seorang pemimpin, agar para bawahannya selalu merasakan kebersamaan, “Pendekatan secara emosional perlu dilakukan, karena nantinya dapat menumbuhkan rasa semangat yang tinggi bagi para bawahannya” pungkas santri Blok E itu.


Penulis     : Asrori SF

Editor      : Misbahul Munir

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak