Kutemukan Engkau dalam Mimpiku

0
1019
Foto: instika.ac.id

 

Oleh: Aqin Jejen*

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main.

Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan,

kalau mereka mengetahui  (Qs al-‘Ankabuut: 64)”

         

Sabtu, 22 Februari 2014. Pukul : 09.35 WIB.

          Baru saja langit telah melukiskan duka, hujan tak pernah reda mulai sejak pagi hingga saat ini, menjelang adzan Maghrib. Bumi kian menabur keharuman laiknya ditaburi beberapa bunga mawar yang gugur terlepas tanpa dosa. Berjuta-juta umat manusia berjubel mendatangi pondok pesantren Annuqayah. Aku lihat mereka semua dalam keadaan menangis pilu. Membawa wajah begitu murung, bagai tergantung buah zakum yang membara api dengan lipatan segurat kekecewaan yang tergambar di dahinya; yang mengkerut masygul. Semua manusia terurai air mata, tampak sayu sekali wajahnya. Menangis sesegukan di depan bilik pondok, di depan masjid, di sisi jalan dhalem pengasuh, saat mendengar mobil ambulance meraung-raung membawa jasad kiai Warits Ilyas yang telah terbujur kaku[1].

Aku tidak bisa menghitung berapa banyak kepala manusia di pondok saat itu, yang jelas mereka bagai lautan manusia yang tengah berduka; bagai umat manusia saat penerimaan hisab di Padang Mahsyar. Seperti kepala-kepala manusia yang mengerumuni sang kekasih pada waktu di mana ia pergi jauh dari buih kehidupan fatamorgana. Seakan mereka tidak menerima ketiadaan, seakan mereka ingin hidup lebih lama lagi bersamanya– untuk memperjuangkan agama dan memberikan pengetahuan akan dunia yang semakin diselimuti kebodohan. Mereka semua tidak percaya jika ia telah pergi ke alam yang kekal dan abadi. Banyak yang berdo’a dan ingin bersamanya di alam sana, kelak.

Mereka meraung-raung kesakitan   

Sekarang semua memang benar-benar terjadi. Kulihat ada banyak hiasan kerangka bunga yang ditata rapi di depan pondok, di depan dhalem, di sisi jalan setiap Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa, sebagai bentuk belasungkawa atas tiadanya Sang Kiai.

Kulihat, Gus Hoek sahabatku tengah mendekap lututnya sendiri di pojok kamar.

“Perlu kamu tahu, Ust. Mahmud Asy-Syafrowi dalam Peta Menuju Surga, mengatakan, ‘Mati bukanlah untuk ketiadaan, tapi mati justru untuk kehidupan. Jika kamu mengiginkan kehidupan yang sejati, maka jadikanlah mati sebagai pintu kehidupanmu menuju surga”

Gus Hoek, hanya terdiam terpaku di pojok kamar, dadanya tergoncang-goncang menahan getaran tangis. Semua santri di Annuqayah masih belum percaya jika kiai telah dipanggil oleh-Nya. Kini, semua hanya bisa meratapi akan kepergiannya. Sungguh hari itu adalah hari di mana bencana yang luar biasa melanda bumi Annuqayah. Semua menangis tersedu-sedu tanpa sisa air mata lagi.

Langit membacakan dzikir kehilir sir-sir jiwa yang hanyut dalam sungai cinta-Nya

Sepotong rembulan memantul indah di balik batu nisan putih

Mengabari hari disaat semua hamba dipanggil kehadapan-Nya

Hanya sahabat sejati berupa amal kebaikanlah yang setia menolong

Tak ada kata selain kerinduan yang kerap membisiki hati ini untuk menangis

Ke mana harus kucari sosoknya yang telah pergi?

Langit terus bergerimis, menjatuhkan rinai-rinai hujan tak berkesudahan. Gumpalan awan yang mendung menyiratkan sebuah tanya dan jawaban yang menggantung. Kurasakan getaran hati ini semakin tak stabil. Berdenyut lebih kencang tak sebagaimana mestinya. Mungkin menjerit sebagaimana bumi ini menjerit ketika kehilangan sosok Kekasih Tuhan. Mungkin merintih sebagaimana langit merintih kesakitan di saat melihat para ulama’ telah ditumbangkan satu-persatu. “Maka siapa yang akan mengurus agama?” begitulah bahasa bumi dan langit  “Tak ada kecuali orang-orang yang beriman,” jawabku demikian, dalam hati.

“Dur, kenapa hari ini gerimis tidak pernah berhenti?” ucap sahabatku, Gus Hoek, disela-sela keriuhan tangis para santri

“Mungkin langit tengah menangis. Baru saja kita kehilangan sosok manusia yang sangat mulia di pesantren ini,” jawabku.

“Kenapa semua ikut menangis, Dur?”

“Sebab, waktu beliau lahir manusia tidak pernah menangis, namun tertawa penuh kebahagiaan, dan sekarang saat beliau pergi, maka waktunya manusia untuk menangis bersedih.”

Gus Hoek terdiam, dan dilihatnya foto kiai Warits yang tergantung di dinding kamar pondok. Memakai sorban warna hijau kebiru-biruan, dengan background NU di belakangnya. Ia terlihat sangat gagah sekali bila ditambah senyumnya yang begitu khas. Ia teramat rindu senyumnya yang demikian teduh, hingga tak heran banyak santrinya yang rindu akan senyuman itu tiap kali molang kitab Syarhul Hikam, karya Ibn‘Athaillah as-Sakandari, di Masjid Jami’ Annuqayah. Atau saat kiai menghadiri salat jama’ah di masjid. Sebenarnya tidak hanya itu yang membuat orang-orang menangis. Salah satunya beliau termasuk kiai yang karismatik di pondok, punyak nilai-nilai kebaikan sosial yang tinggi, beliau adalah representasi kiai yang sangat konsisten di dunia politik, ia adalah ulil amri yang begitu menginspirasi[2]. Hati ini tetap tidak terima jika mereka katakan kiai pergi selama-lamanya; jika mereka katakan kiai tidak kembali pada dunia yang sesungguhnya.  

“Aku merindukan sosoknya, Dur,” katanya, dengan nada memelas padaku.

“Perbanyaklah salat berjama’ah, kau pasti akan ditunggu di surga,”

“Tetapi, diri ini terlalu banyak dosa pada kiai, Dur.” Ia pun semakin histeris menangis. Menjambak rambutnya sendiri. Memukuli dadanya sendiri tanpa henti. Jika aku mengingatnya, hampir tak terasa ada separuh dari tubuh ini yang hilang, bagai sebuah elegi cerpen Kuntowijoyo,“Membayangkan Kekecewaan Kim” yang berjudul, Jangan Dikubur sebagai Pahlawan. Memaksa batinku untuk berteriak-teriak sesuka hati tanpa ada yang peduli dan menghalangi. Aku teramat menyesal dengan keadaan ini. Kenapa tak ada waktu untuk menebus segala dosa-dosa? Kurasa semua penyesalan memang datang terlambat. Itu sebabnya aku senang dengan pribahasa: bersedia payung sebelum hujan datang.

“Mintalah ampun padanya. Doakan beliau tiap sekali selasai salat,” jawabku, meski terbata-bata. Sampai saat ini, aku tidak bisa menutup kekhilafanku sendiri. Akulah salah satu santri yang mempunyai banyak dosa yang menggunung, seakan dosa itu tiap hari membesar dan membesar, melebihi besarnya Gunung Payudan. Mataku menatap kosong ke depan, perlahan ada bening bulir bulir kristal air mata yang berjatuhan di pipiku.

Saat ini, saat takbir dan teriakan “Laa ilaaha illallaah!!! Laa ilaaha illallaah!!!” menggema, lewat iring-iringan di keranda kiai, kulihat mereka berebutan mengusung keranda kiai, untuk bisa sekadar menyentuh keranda kiai, untuk membawa keranda itu sampai ke pemakaman para masyaikh Annuqayah. Aku semakin tersungkur dan terjerembab ke tanah. Tangan-tangan mereka dan tanganku tak sampai menyentuhnya. Barangkali diri ini terlalu banyak dilumuri dosa.

Hari itu sudah berlalu, menyisakan raut wajah kesedihan yang menggulung di langit-langit Annuqayah.

***

Tanggal, 10 September, 2014 M.

Sekarang sudah hampir dua ratus hari berlalu dari meninggalnya pengasuh. Masih saja banyak santri yang belum sadar bahwa beliau telah pergi meninggalkan negeri suci Annnuqayah. Aku pun termangu dan termenung di dalam kamar pondok, mengingat kekhilafan-kekhilafan yang pernah aku perbuat. Tak terasa kantuk menjeraku dan akhirnya tertidur pulas.

Kemudian, gelap menyelimuti mataku. Tiba-tiba ada cahaya purnama di langit sana, sangat terang menyinari bumi. Kulihat di balik itu ada sosok kiai tersenyum sembari melambai-lambaikan tangannya padaku. Seakan membawaku terbang ke langit, lalu ia menghentangkan sayap-sayap serupa malaikat Jibril dalam cerita Isra’ Mi’raj, dalam sekejab saja telah kulihat bangunan megah bak istana yang diselimuti awan-awan putih. Di sekelilingnya ada burung-burung yang bulunya putih halus, mengitari sungai-sungai Firdaus yang mengalir tenang, di tumbuhi pepohonan yang menghijau dipandang mata. Kulihat kiai tengah mendayung sampan-sampan kecil di sungai itu, lalu aku mengejarnya sampai akhirnya tanpa kusadari aku tenggelam ke dasar sungai “Inilah tempat para Bani Syarqawi” katanya sambil berlalu menuju sebuah cahaya yang sangat terang. Dan tak kulihat lagi

Tiba-tiba ada suara yang berteriak-teriak, mengedor-ngedor pintu kamar pondok

 “Bangun, bangun, sudah adhzan subuh,” ucapnya geram. Cepat-cepat aku bangun dan ternyata  ketua kamar yang berteriak teriak dan beberapa kali mengedor-ngedor pintu kamar dengan kesalnya

“Afwan ghalabani naum ya akhi”

Subhanallah, saya hanya bermimpi    

*Mantan Pengurus Kepustakaan, Penerbitan dan Pers (KP2), Pimred Majalah Muara 2014-2015.  


[1] Mengenang wafatnya pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa, Drs. KH. A.Warits Ilyas

[2] Di ambil dari tulisan Nufil Istihari Kr, Elegi Seorang Santri, Pakar edisi XLI, 3 Maret 2014 M. bahwa beliau sebagai kia yang meniti karir di Partai politik PPP yang tanpa terpesona oleh pesolek citra. Saat PBNU membentuk Tim Lima untuk membidani lahirnya PKB, K. H. A. Warits Ilyas juga termasuk salah satu di dalamnya. Jadi untuk sementara waktu kiai “cuti” dari PPP. Namun setelah PKB resmi berdiri, beliau memilih kembali ke partai asalnya. Itu salah satu bentuk konsistensi di dunia politik.

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak