Lesehan Pojok Sastra (LPS), Menumbuhkan Generasi Cerpenis Lubangsa

Lesehan Pojok Sastra (LPS), Menumbuhkan Generasi Cerpenis Lubangsa

0
407
SERU: Komunitas Lesehan Pojok Sastra (LPS) saat bedah cerpen karya Aziz As-Syah kemarin (12/02)

Lubangsa_Cerita pendek atau biasa disingkat cerpen merupakan salah satu contoh teks narasi yang menceritakan ulang mengenai sebuah kejadian ataupun sebuah karangan fiksi yang biasanya berpusat pada satu tokoh yang jumlah katanya (di dalam cerita tersebut) tidak lebih dari 10.000 karakter atau kurang dari sepuluh halaman.

Akhir-akhir ini, kiprah cerpenis – penulis cerpen—di pondok pesantren Annuqayah khususnya Lubangsa, dapat dikatakan, mengalami krisis penulis dan kader penulis. Penurunan ini tentu didasari oleh beberapa faktor yang mempengaruhi. ”kalau menurut saya sendiri cerpenis Lubangsa menurun dikarenakan banyaknya cerpenis yang berhenti,” ungkap Wasik salah satu cerpenis yang berproses di Komunitas Penyisir Sastra Iksabad (PERSI). Tentu hal ini merupakan penurunan yang sangat drastis, di mana pada tahun-tahun sebelumnya –2011-an – cerpenis Lubangsa beserta cerpennya berada di atas angin, kini seakan-akan sudah lumpuh. Tentu hal ini merupakan suatu kasus yang jalan keluarnya harus segera ditemukan.

Pada akhirnya pengurus Kepustakaan, Penerbitan dan Pers (KP2) sebagai pengurus yang mengembangkan di dalam dunia literasi menyikapi persoalan tersebut dengan membentuk suatu forum yang menampung setiap cerpenis yang ada di Lubangsa. Forum yang bernama Lesehan Pojok Sastra tersebut diasuh oleh beberapa cerpenis papan atas Lubangsa. S eperti  Aziz As-Shah, R. Key. Ageng, Abdul Warits, Azzam Piccholo dan yang lainnya. Keprihatinan mereka terhadap cerpenis pun membuahkan hasil. Forum yang diadakan setiap malam selasa yang bertempat di depan perpustakaan Lubangsa tersebut tak pernah kurang dari 11-13 orang cerpenis yang hadir dalam forum tersebut. Dengan ini, bertujuan agar kembali menyemai cerpenis-cerpenis kepada jalur awal yang telah para senior mereka tapaki sebelumnya.

“Karena di Lubangsa ini sekarang saya tidak menemukan penulis cerpen yang mapan seperti Fandrik Ahmad, Ali Mukoddas, dan yang lainnya. Semua itu (kemerosotan yang dimaksud) karena cerpenis-cerpenis sekarang lebih suka membaca karya yang bergendre pop, bahkan mereka mulai berani meninggalkan cerpen-cerpen klasik seperti yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma (SGA) atau Danarto. Jadi pesan saya cerpenis sekarang harus berbenah diri dan jangan sampai melupakan cerpen-cerpen klasik sebagai pedoman,” jelas Miftahus Surur, pengamat cerpen sekaligus pengurus P2O.


Penulis : Fasieh muhammad

Editor : Abd. Warits

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak