Mading Al-Ajyal, Usaha Menjaga Literasi Pesantren

Mading Al-Ajyal, Usaha Menjaga Literasi Pesantren

0
513
Mading Al-Ajyal BPBA Bahasa Arab tampak menawan di depan kantor pesantren PP. Annuqayah daerah Lubangsa.

Lubangsa_Tampak kelap kelip lampu yang berada di depan kantor pesantren PP. Annuqayah Lubangsa membuat malam seakan terbingkai dengan mempesona. Sedangkan, di tengah lingkaran lampu terdapat tulisan arab yang indah dan menawan. “Al-ajyal” itulah nama mading yang telah diterbitkan oleh Biro Pengembangan Bahasa Asing (BPBA) bidang Bahasa Arab (01/03).

Nama mading tersebut menurut M. Hidayat, selaku penanggung jawab mading tersebut, jika diartikan secara tekstual adalah (pemuda-pemuda) dan jika diartikan secara kontekstual  berarti (pemuda-pemuda yang menjadi pendobrak masa depan). “artinya para pemuda-pemuda (anggota, red) yang berada di lingkungan bahasa arab diharapkan agar menjadi barometer tegak dan lurusnya masa depan yang cerah. Tentunya dengan perantara bahasa arab,” tutur santri asal Dasuk itu.

Dia juga mengatakan bahwa mading yang bertulis nama Al-ajyal tersebut akan diterbitkan setiap satu bulan satu kali. Sebelumnya, mading tersebut diterbitkan tiga kali dalam jangka tiga bulan yang lalu. Sedangkan mengenai peletakan mading tersebut, hanya diletakkan selama satu minggu, disebabkan kurangnya fasilitas yang memadai. “alasan kami meletakkan mading itu selama satu minggu, karena tempat mading tersebut bergantian dengan dengan mading Himmah Jama’ah MD.BTT, ”jelasnya. “namun sampai sekarang mading tersebut tidak terbit-terbit.” imbuhnya.

Mading yang bertuliskan bahasa arab itu, tentunya menyulitkan beberapa santri santri lubangsa untuk mengartikannya. Salah satunya yang dirasakan oleh santri asal Gapura, Riki, sapaan akrabnya “ketika saya membaca mading berbaha arab itu, potensi saya untuk mengartikan kalimat-perkalimat sangat kacau. Akibatnya saya sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud penulis.” ungkapnya ketika ditemui oleh salah satu crew Koran Lubangsa.

Pengurus BPBA Bahasa Arab, Syarif Hidayatullah, menanggapi mengenai permasalahan banyaknya santri yang tidak dapat memahami arti tulisan yang ada di mading tersebut. “saat ini tingkat keinginan santri mempelajari bahasa Al-Qur’an sangatlah sedikit. Akibatnya ketika mereka berhadapan dengan teks yang berbau arab sedikit saja, mereka tidak paham sama sekali apa maksudnya.” Tegas santri asal Kepulauan Raas tersebut. “ya, kalau pengen tau artinya dan memahaminya masuklah Biro Pengembangan Bahasa Arab,” tuturnya panjang lebar.

Dia juga memaparkan mengenai manfaat diterbitkannya mading tersebut. Salah satunya bisa mengasah anggota bahasa arab dalam mengarang (maharotul kitabah) dan juga biasa memperkenalkan pada santri lubangsa tentang pentingnya belajar bahasa arab. “sebab ciri khas santi adalah tau mengartikan kalimat-kalimat berbahas arab seperti halnya kitab kuning,”pungkasnya.


Penulis: Moh Nailus Shafi

Editor : Abd. Warits

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak