Melewati Wabah Tanpa Lepas dari Nilai Agama

0
84
Bukti Pemuatan Resensi Santri Lubangsa di Koran Tribun Jateng.

Judul Buku : Corona Ujian Tuhan, sikap muslim menghadapinya

Penulis       : M. Quraish Shihab

Penerbit     : Lentera Hati

Tebal          : 136 Halaman

Cetakan      : April 2020

ISBN           : 978-623-7713-26-5

 

Perbincangan pandemi dan corona semakin seksi untuk selalu dibicarakan baik di medsos ataupun di khalayak umum. Pasalnya, virus yang rupanya dikenal dengan coronavirus disease 19 ini semakin hari memakan korban yang terus meningkat dari yang semula hanya hitungan jari. Menurut data terakhir telah belasan ribu juta penduduk Indonesia yang terjangkit virus ini.

Berita ini telah membuat publik panik dengan situasi pandemi corona yang tak berkesudahan ini. Di sini Quraish dengan jelas ingin berbagi kepada khalayak bahwa sebenarnya corona ini adalah fitnah atau bala’. Bukan berarti siksa berupa azab sebagaimana kepercayaan orang sebagaimana persebarannya pertama kali di wilayah Wuhan, China.

Namun Quraish mempertegas bahwa azab dan ujian itu berbeda dalam islam. Quraish membagi dua pemahaman antara siksa dan ujian. Siksa ditimpakan untuk orang yang durhaka seperti cerita nabi Luth dan nabi Nuh. Sedangkan ujian atau cobaan dari Allah itu menimpa semuanya baik muslim maupun non muslim. Itulah inti gagasan yang diutarakan Quraish dalam buku terbarunya ini.

Lalu pada pembahasan  seterusnya setelah mempersoalkan masalah penangguhan shalat yang dilarang mingguan seperti shalat Jumat. Quraish dengan tegas mengakui kebenaran aturan tersebut sebab hal itu merupakan ketetapan MUI yang telah disepakati oleh berbagai ulama yang telah mapan ilmunya. Hal itu dikatakan oleh Quraish sebagai maqashidus syariah di dalam islam.

Maqashid syariah yang dimaksud adalah kaidah pokok dalam islam. Islam mengajarkan hal pokok di dalam agama yang terdiri dari menjaga agama, jiwa, akal, harta dan keturunan (hal 91). Dengan demikian jika satu-satunya dari kelima pokok ajaran itu terpenggalai maka gugurlah kewajiban itu.

Seperti larangan untuk shalat berjamaah di masjid seperti shalat Jumat, ‘id dan semacamnya itu untuk menghindari konsep pokok menjaga jiwa, akal dan keturunan. Dan pada akhirnya semua juga ikut seperti agama dan harta. Dengan mengamalkan sikap islam yang kaffah demikian yang pada nantinya akan memelihara agama secara teguh tidak timpang sebelah, tidak terlalu ekstrim dan fanatik.

Ada juga sikap lain yang mempertentangkan antara takut kepada Allah dan takut kepada virus. Sebenarnya,  Rasul tidak mengajari seperti itu. Pada suatu waktu beliau didatangi seorang sahabat lalu ia (sahabat) menambatkan tali untanya di tanah. Lalu sang Rasul bertanya dijawab bahwa ia tawakal kepada Allah. Lalu sang Rasul memberi arahan bahwa harus di kekang dulu untanya baru tawakal.Begitu juga di dalam Alqur’an bahwa pada Al-Maidah (5); 23, Al-Anfal (8); 61, Hud (11) 123 maupun hadist-hadist yang lain menganjurkan untuk berusaha terlebih dahulu sebelum akhirnya berserah diri kepada Allah (hal 74).

Dengan demikian di tengah situasi yang tak menguntungkan lagi marilah kita bersama-sama berdo’a agar virus ini segera sirna dari muka bumi. Sebagaimana Quraish juga menganjurkan do’a-do’a yang mu’tabarah di akhir penutup bukunya di antaranya adalah ”Rabbana tuhan pemelihara kami. Bagi-Mu segala puji. Kendati, telah berkepanjangan bencana ini, dan kendati keperihan masih terus melanda kami memuji-Mu karena kami sadar ada ujian yang merupakan anugerah dan ada musibah yang mengandung hikmat, namun kendati demikian ya Allah, ‘afiyat dan perlindungan-Mu lebih luas dan lebih kami harapkan” .

Rifqi As’adi, Mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika).

NB : Resensi ini dimuat di Koran Tribun Jateng.  

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak