Memulihkan Perasaan Dari Keambyaran

0
161

Judul       : Manusia Bermiliar-Miliar Cuma Kamu Yang Bikin Ambyar

Penulis    : Alfin Rizal

Cetakan   : Pertama, 2020

Penerbit   : Media Kita

ISBN        : 978-979-7946-16-6

 

Pada zaman sekarang, banyak orang mendefinisikan puisi adalah ungkapan hati seseorang yang sedang mengalami getaran di dalam hatinya, baik itu perihal rindu, cinta, kenangan atau bahkan perihal kesedihan. secara gamblang definisi di atas barangkali sudah cukup mewakili melihat lahirnya puisi-puisi saat ini, memang berawal dari sebuah perenungan seorang penyair terhadap peristiwa-peristiwa yang dialaminya,  

Buku yang berjudul “Manusia Bermiliar-miliar Cuma Kamu Yang Bikin Ambyar” ini, merupakan kumpulan puisi seorang Alfin Rizal. yang mana di dalalmnya terdapat 48 puisi dengan tema-tema rindu, cinta dan juga kenangan. Dan hal itu memang merupakan ciri khas dari seorang Alfin Rizal itu sendiri.

Dalam kamus besar bahasa Indonisia, rindu diartikan sebagai suatu keinginan yang kuat untuk bertemu sesuatu. sehingga tidak heran bila seorang penyair merindukan pujaannya, ia jadikan puisi sebagai sarana pelampiasan kerinduaannya. Seperti salah satu puisi dalam buku ini, Lenganmu yang jauh,/ tetapi tetap mampu kurasakan/ melingkar di pinggang setiap malam,/ adalah secuil rahasia tuhan/ yang tak ingin kutanyakan,/ mengapa bisa begitu, tuhan?. (hlm 49)

Bila ditelaah secara serius, Alfin seolah sedang merindukan seseorang (pujaannya), sehingga di setiap malamnya ia merasakan ada sebuah lengan melingkar di pinggangnya sampai pada puncak kerinduannya, pertanyaan yang patut diutarakan tak ingin ia tanyakan.

Di samping tema rindu di atas, Alfin juga kerap menuliskan puisi-puisi tentang cinta atau dalam bahsa sastranya disebut dengan kasmaran. Rabi’ah ‘Adawiyah seorang tokoh sufi permpuan pernah mendeklarasikan kecintaannya pada tuhan melalui sajak-sajak puisi, yang mana dari sini dapat dipahami bahwa puisi tidak hanya memasuki wilayah empirik melainkan juga memasuki wilayah spritualitas jiwa manusia. maka dapat disimpulkan bahwa puisi juga dapat dijadikan sebagai jalan menuju tuhan.

Sebagai manusia, tentunya sudah jamak kita ketahui bahwasanya di dalam kehidupan, perihal cinta-mencintai kerap hadir dan mewarnai hari-hari kita, karena pada hakikatnya cinta tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia secara khusus, dan setiap makhluk hidup secara umum. Bahkan sebagian dari literatur sejarah, ada kisah cinta yang diabadikan seperti halnya kisah Qais dan Laila yang kerap mengahadirkan nuansa cinta dan merindu. Ada juga kisah Romeo dan Juliet, yang kesemuanya itu merupakan sebuah bukti bahwa cinta dan rindu, merupakan sebuah elemen yang melekat dalam kehidupan manusia.

Dapat kita lihat dalam buku ini bagaimana alfin menghadirkan esensi cinta yang luar biasa melalui bait-bait puisinya. seperti dalam kutipam berikut, jika bukan karena cinta dan harapan/ apa yang membuat manusia bertahan?/ di tanah lembab dan keruhnya kekuasaan/ yang setiap waktu memaksa kita percaya/ perihal perihnya sebuah kemustahilan/ jika bukan sebab aku dan kamu?/ apa yang membuat cinta dan harapan punya keluasan untuk memaksa hidup/ menerobos segala batas kemustahilan.(hlm.57)

Dari puisi di atas, alfin menunjukkan betapa sangat luar biasa peranan cinta dalam kehidupan, dengan tata bahasa yang begitu apik dan baik, juga pemilihan diksi-diksi yang sederhana tetapi bernilai dalam dari segi makna. Sehingga hal tersebut menjadikan puisinya memiliki ruh yang menjadi penguat tutur bahasanya. Ada juga puisinya yang menunjukkan perasaan cintanya sendiri entah pada siapa. Ini kutipannya, inilah nyanyian malamku/ oh kekasih!/ yang terlalu lambat mengucapkan selamat malam padamu/ kita rebah di bawah langit-langit kamar/ dan mati ketika dekapan kita menjadi mata pisau/ yang saling menyayat tubuh kekasihnya/ tetapi aku akan tetap mencintaimu.(hlm.67)

Bila ada rindu dan cinta, pasti tersisa kenangan yang membekas dalam pikiran kita. Pasalnya, dalam hal merindu dan mencinta, sudah barang tentu menciptakan fenomena yang sulit dilupakan oleh kita. Yang kemudian disebutlah sebagai kenangan. Dan kenangan itu sendiri, terkadang ada yang membahagiakan, menyedihkan ataupun memilukan. Biasanya, puisi yang lahir dari kenangan yang tiba-tiba teringat dalam fikiran seorang penyair, lebih gampang dalam menuliskannya kedalam bentuk puisi. Apalagi kenangan yang menyedihkan sehingga jiwa dan raga ikut larut ke dalam rasa yang sedang dialaminya.

seorang Alfin Rizal yang juga merupakan seorang desainer, sepertinya telah begitu dalam memasuki lautan perasaannya sendiri, sehingga mampu menuliskan puisi-puisi yang memiliki makna luarbiasa dari sisi manapuun orang menilai. Akantetapi dari sekian puisi-puisinya yang telah diantologikan, Alfin tidak pernah mengangkat tema-tema sosial seperti halnya, WS Rendra yang kerap dengan puisi-puisi sosial. Mungkin terbayang dalam benak kita bagaimana bila Alfin menuliskan puisi-puisi sosial dengan ciri hasnya yang menggumuli tema-tema cinta dan pastinya cukup menggugah para pembaca. Wallahu a’lam

 

*Anas Ilhami Mahasiswa INSTIKA Guluk-guluk, Sumenep, Madura


Keterangan: Resensi ini tayang di Koran Radar Madura pada Jumat, 18 Desember 2020

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak