Meneguhkan Insan Pers Pesantren (1)

0
469

Oleh: Misbahul Munir

Pagi sebelum semua santri beraktivitas, sontak saya menfikirkan tentang jadwal penerbitan media informasi di salah satu pesantren. Pada saat itu, yang tampak adalah jadwal pernerbitan yang harus terbit hari itu juga.

Lantas, otak ini gelisah, bagaimana dan bagaimana. Saya sadar bahwa saya baru bangun dari tidur, tidak mungkin langsung duduk di depan komputer, mengabaikan kegiatan lain, seperti hadiran subuh, ngaji al-Quran, dan ngaji kitab akidah.

Kantor Redaksi yang posisinya berdempetan dengan kamar saya, setiap pagi mesti diisi oleh kru, ya Redaktur Pelaksana, Editor, Lay-Outer , dan Peminpin  Redaksi, tidak lain dan tidak bukan mengerjakan tugas penerbitan. Tetapi, pada hari itu terlihat kosong, sunyi seperti petang yang bercumbu dengan malamnya. Entahlah. Kemana mereka pergi.

Padahal, entitas kru memiliki tugas masing-masing. Pemred sebagai peminpin redaksi ditugaskan untuk mengatur jalannya penerbitan, memberikan motivasi kepada bawahannya, terus megontrol kinerja kru. Editor, tentu tugasnya mengedit naskah yang sudah masuk ke redaksi. Reporter diberi tugas mencari dan menulis berita. Lay Outer, memiliki tugas menggambar sesuai dengan kebutuhan, serta kru yang lain memiliki tugas dan tanggungjawab yang sama. Sama-sama bekerja untuk menyukseskan penerbitan.

Beragam tugas keredaksian dalam proses penerbitan media yang ada di pondok pesantren. Diakui berbeda dengan media yang ada di luar pesantren. Tetapi pada esensinya bertitik tumpu pada proses menulis yang menghasilkan informasi.

Menulis informasi seputar kepesantrenan sangat jauh berbeda dengan kepenulisan di luar pesantren. Ini saya rasakan ketika membaca berita-barita yang dibuat oleh santri dengan informasi yang dibuat oleh wartawan media di luar sana. Kepenulisan berita di pesantren tampak tidak leluasa menulis segala keadaan di pesantren. Kepenulisan berita yang seperti ini sangat menjunjung tinggi kode etik kepesantrenan, sopan santun, dan pengabdian sebagai seorang santri.

Tidak bebasnya penulis yang masih mendiam di pesantren bukan berarti masung kreativitas santri dalam hal menulis. Menulis apapun, baik berita, puisi, esai, artikel dan semacamnya, dengan menuliskan segala bentuk kebaikan-kebaikan pesantren adalah proses melatih diri menjadi pribadi yang sebenar-benarnya baik di masa mendatang. Sebab kebaikan yang dilakukan di pesantren memberikan dampak positif ketika boyong dari pesantren.

Kita kadang menganggap bahwa kretivitas yang terpasung, terkungkung, dibatasi, akan membuat kreativitas melemah atau bahkan mati. Tetapi, bagi penulis yang lahir dari pesantren ini akan dibuat sebaliknya. Kepenulisan secara bebas tanpa melihat “siapa” dan “dimana” penulisnya (di Pesantren), justru itulah yang dibuat tidak bebas berkreativitas. Mengapa demikian? Menulis tentang citra pesantren yang tidak sesuai dengan keinginan, misal kebijakan-kebijakan, aturan, dan lain sebagainya. Apabila penulis melampauinya, tidak jarang akan mendapat sanksi yang beragam, baik medianya dibredel, atau orangnya.

Keterikatan pada etika santri sebagai murid yang menempa ilmu di pondok pesantren, maka keinginan menulis bebas barupa kritikan dan semacamnya, setidaknya mamang harus ditahan atau tidak perlu diungkap kepermukaan. Inilah cara kerja pers pesantren yang secara tidak langsung harus disadari secara mendalam.

Mengkritik semua yang terjadi di luar pesantren, terutama yang menyangkut harkat dan martabat bangsa, perlu dilakukan dilakukan oleh siapapun, baik penulis yang tinggal di pesantren atau tidak.

Penulis inten, sering dijumpai, baik tulisan berupa fiksi atau non fiksi, yang ia tulis di koran, majalah, media online, dan televisi, mayoritas berisi kritikan terhadap pemangku kebijakan di negeri ini. Mereka terasa bebas menuliskan gagasannya tanpa ada beban sedikitpun. Selain memang, penulisnya sudah terlatih dan kritis terhadap berbagai persoalan yang terjadi, ia juga mendapat upah dari yang ditulisnya.

Di pesantren, sebagai tempat berlatih dalam segala hal, berharap kebebasan mutlak, jelas tidaklah mungkin, apalagi mengisi kantong kosong. Yang bisa diharap adalah turunnya barokah atas segala kebaikan yang telah diperbuat selama berada di pesantren. Penulis pesantren yang selalu sabar dan iklas atas segala yang diperbuatnya, hal itu akan menjadi sebab awal untuk menuju pintu-pintu kebahagian dunia dan akhirat.

Oleh karenanya, pesantren sebagai tempat menempa ilmu pengetahuan yang bisa dilalui dengan beragam cara, mengharuskan santri mengikuti cara-cara yang telah ditentukan oleh pesantren. Termasuk i’tikad menjadi penulis harus diperkokoh secara masif dengan memperbanyak menulis, menulis  dan menulis.

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak