Mengenang Haul dalam Puisi

0
257

Puisi Bahasa Indonesia


Jarak rasa

Hari ini 365 hari yg lalu

Jantungku berpacu hebat

Kerongkonganku tercekik

Ragaku lunglai tanpa daya

 

Mimpi buruk rasanya namun nyata

Meyakinkan diri sendiri tentang kuasaNya

Tentang suratan takdir dan putusan terbaikNya

Tentang perpisahan selamanya

 

Aku dan engkau

Dalam dua dunia baru

Jarak memisah raga

Meski jiwa tetap bersama

 

Tuhan dan rencanaNya

Akulah lakon kehidupan

Dan Inilah fana

Apalah arti segala

*Ovie A. Win

25 Rajab 1442 H


Selasa Pagi

;25 Rajab 1442 H./09 Maret 2021 M.

Pagi di antara nisan batu bata

Rebab suara burung menambah syahdu dalam hening suasana

Kemanapun langkah mengiringi pagi

Selalu ada rindu di antara jejak yang ku lewati

 

Izinkan pagi ini

Ku menatap embun yang ingin menjadi gerimis

Mengundang pelangi

Menyampaikan rindu

 

Elegi rinduku di Selasa pagi

Padamu yang selalu saja serupa melati

Tak mengapa meski sudah direnggut Sang Tuan

Tetap saja kau masih tumbuh di pelataran

 

Lembaran daun hijau melambai

Semilir bayu seakan hanyut membelai

Aroma surgawi menyiram rindu dalam tenang

Di atas bening jiwa, simbol kesucian dalam keabadian

 

Hatur ta’dzim, dari yang masih bungsu akan aroma mu.

 

*Faa


Bila Kepulangan

Bila seorang penulis abadi dengan karyanya

maka engkau abadi karena keteladananmu

di belakang safmu adalah kerinduan paling abadi

melafalkan ayat Tuhan sebagai pupuk hati

juga bekal kami di akhirat nanti

//

pada adzan maghrib yang berduka

hiruk-pikuk tangis dan doa-doa kepulangan

semakin membuka jelas kealpaan hidup tak dituntaskan

rakaat jamaah yang engaku wasiatkan

sebagai tonggak cita-cita serta cinta Tuhan

atau bekal dari berlikunya perjalanan

//

pada fatihah 5 waktu

hanya pertemuan kelak yang semoga tak hanya menjadi halu

*Zakiyatul Miskiyah alias si @ZakiyahujanJ


Seuntai Do’a

Pada kelopak bunga gugur pertama

Wajah rteduh kian membuat rindu

Teringat pada kealpaan semesta

Yang sempat terlahir buta aksara

Tapi… ketika petuah terangnya

Merasuk pada sukma paling gagah

Membuat aku tak lagi merana

Sekarang, lihatlah ! di ujung tombak masjid itu

Ada dua sayap melekat pada malam pekat

Mengajak rembulan dan gemintang

Berdo’a untuk sesepuh yang sudah menyecap tenang _

Sebentar lagi malam semakin kelam

 Dan do’a –do’a semakin cepat melesat dalam

          Berdoalah untuk annuqayah

          Beserta para kyainya abdi

 

                                                           *Maftuhal Khair

Annuqayah 29-01-21


Abdi Kami

1/

Atas warta yang sudah kudengar

Relung hati yang sunyi berubah gusar

Ada rasa yang ingin ku buang

Resah gelisah tak henti datang

2/

Harapku kau datang pada malamku

Menghampiri kampong mimpi dalam tidurku

Menerangi hati, membimbing jalan yang kelabu

Karena waktu tak memberi kesempatan denganmu

3/

Besok bukanlah hari yang kelam

Dengan harap yang masih dipendam

Saban fajar seketika aku tenggelam

Masih bersama doa dan rasa yang dalam

4/

Lantunan ayat suci menandakan rasa ini masih terpatri

Menatap bersama para santri sejati

Kiai,

Inilah abdi kami

*Annuqayah, 29 januari 2021

Fajriatur Rahma

LKC5


Hujan Kiai

kiai

di tepian kerontang ladangku

wajahmu menjelma hujan

turun dari langit hatimu

 

aku bergegas dan berteduuh

di bawah rimun putih rambut

doamu dar kelopak matamu

kuhirup aroma melati hingga segala rintihan

tak lagi pilu

 

engkau cakrawala napasku di atas kiai

sepasang matamu menjelma pijaran bintang-bintang

saat ku jait sobekan lusuh jiwamu

dengan helayang sarung sembahyangmu

 

biar kuresap udara nasihatmu akan kujadikan

jamu penguatku mencari ilmu izinkanku

merubah jembatan lelahmu sebagai sayap-sayap

hingga bisa terbang jauh.

 

*Putri Yupi-A


Burung kecil

Aku menangkap gelagat labngit

Pilu dirundung duka

Semisal hendak ia bercerita

Malamnya tiada sempurna

Sebab titik cahaya tersapu air mata

 

Aku burung kecil yang kehilangan tuan

Dalam sangkar

Aku membaca bunyi-bunyi

Yang tak kenal kata tawa

 

Aku burung kecil yang separuh sayapnya

Tak pandai mengangkasa

Hanya tahu mencicit

Sekalipun betul

Aku burung kecil yang dahaga

Ingin mencicipi seteguk nirwana

Yang mengalir dari pusara.

*Lailatu Syarifah


Ziarah Doa-Doa

Dibawah langit murung musing penghujan

Tercium aroma kembang

Membalut dada dengan selendang

Menyesak cemas menusuk tulang menulang

 

Sejarah menyeruak perjalanan

Sekepal tanah berisih amanah

Tangis pescah

Patah harapan pada tengah

 

Sebenarnya kita tak pernah kehilangan apa-apa

Sebab kematian di mata dunia

Hanya untuk jiwa-jiwa yang tak percya

Akan cinta

 

Hembus  nafas annuqoyah

Memangku istiqomah

Melebur segala lelah dan resah

Harapan kami pintu barokah

 

Yaa rahaman, yaa rohim

Yaa sami’ , yaa basyir

Hasbunallamah wani’ma al wakil

Walaa hawlaa walaa quwwata illa billah al’aliqi al’adzim

 

Bait kalam tahlil dan yasin

Mengiringi detak putaran jam dingding

Menengadah doa

Tak terhitung usia

Bertubi-tubi mengiringi gelembung berbusa

Ketanah surga        Milatus sa’diyah

*Mil’atus Sa’diyah


Sang Pengingat

Ada sekecap nama yang tak pernah luput

Dari rapalan do’a.

Terngiang setiap kali nafsu menguasai jiwa

Juga terbayang setiap kali kemunkaran merajalela.

 

Tak ada jembatan paling sakral.

Menuju persembahyangan paling kekal.

Selain barokah yang kau curah.

Lalu kutengedah dengan serakah.

 

Kau tanamkan segala cinta.

Pada lading suci nan sederhana.

Berumput pahala.

Berpagang do’a.

 

Saban hari saban malam.

Ku lewati dengan rintih tak berkesudahan.

Aku yang masih terjerembab dalam kesesahan.

Mendamba berkah dari rekah perjuangan.

Sebagai penerang untuk juangku yang suram.

*Zamilah


Semesta Bershalawat

:Memperingati haul

Man ana….. man ana……man ana laulakum

Kaifama hubbukum…… kayfama ahwakum

Ketika alam mulai hening kedamaian

Dengan suara menggema lafad sang murabbi

Dalam hasrat limpahan syafaat

Merengkuh ketenangan hati bingkai iradah

 

Gubahn syahdu merasuk didada

Namun tetap hangat dalam kenangan

Diantara padang ahwakum

Sampai arwa tak nampak abadi

Mengalir air kecucuran

 

Bersemayanglah pada dzikir dan do’a

Pada sertiap resonansi sang ilahi

Keling bintang gemintang pekat

Bayangan kiai yang berdamba

Hingga menentramkan sukma jiwa

 

Tanpamu aku tak bisa apa

Tanpa ilmu alif, ba’, ta’ mu

Ku hanya segumpalan debu

Mafruhah

  Annuqayah, 29 Januari 2021


Menengadah Lubuk Keilmuan

; Haul KH. Abdul Warits Ilyas

Peringatan yang meletup letup

Keagungan yang meraup

Langit terjarah

Hujan terperam di hati orang-orang

Yang suntuk memandang malam

Dan mengabadikannya di jantung serta mata

Penuh ruas kerinduan

Mereka adalah tubuh-tubuh perahu, Kiai

Yang membawa lindap ke sebrang

Menempuh perjalanan buas gelombang

Menemani pelayaran menuju kanal

Gelap di ujung muara

Terang dengan barokah dan do’a

Empat malam ayat kami yang gigil

Menyita sinar bulan yang rekah

Mencari jalan paling dalam

Sebagai pertapaan jiwa menengadah

Berbisik pada daun

Pada udara

Pada batu

Pada hulu keinginan

Pada bel-bel penghantar tidur

Atau pada bunyi burung yang setia mengintai

Kami berusaha patuh pada sakral sejarahmu yang menggebu.

Annuqayah_Frasa, 07 Desember 2020


Rindu Yang Mendalam

Di dalam angan yang mendalam

Kami sebut asma beliau

Parasnya yang elok di pandang

Selalu menggetarkan jiwa kehidupan

Tangisku kembali memecah keheningan

Di kala do’a-do’a mengalir

Menyertai kepulangan beliau

Dan pada putaran waktu

Kami rapal do’a di sepertiga malam

Mengenang kepergian beliau

Yang sangat kami cintai

Berbahagialah Kiai Nyai

Asma beliau termaktub

Dalam jiwa-jiwa kami

*Lailatul Fitriyah

Annuqayah, 07 Desember 2020


Yang Abadi dalam Do’a

Diantara jejak-jejak pengorbanan

Kutemukan titik terang

Bak pelita ditengah gulita

Kau abadi dalam sejarah masa

Padamu rapalan do’a tak pernah alpha

Merajut kenangan dengan sanjungan

Untuk segala jasa yang tak pernah lekang

Dalam ingatan

Kau yang tiada

Namun pekat dalam dada

*Zamiliyah


Rindu Napas Abadi

;KH. A. Warits Ilyas

Denting gemercik suara hujan

Daun kemarau berjatuhan

Kicauan burung terasa gigil

Di sudut-sudut reranting

Luas lautan tidak membuat kala ini tumbang

Untuk terus menyusuri dalamnya kerinduan

Meski tertatih melangkah ke permukaan

Dalam balut pertemuan

Saat rindu kian membuncah di pelupuk mata

Mencekal diri di lembah cahaya

Mendekap kata yang terus meronta

Menuju taman surga

Duhai Kiai

Tak ada yang dapat kuberi

Selain abdi berupa do’a

Dan taburan bunga

Di maqbarohmu yang asri

Setiap detak di atas tanah setapak

Nafas kerinduan akan tetap dalam ingatan

Menyatu pada darahku yang membeku

Lalu mengabdi menjelma denyut nadi

*Milatus Sa’diyah


Duka di Masa Silam

Saat ini adalah duka bagi mereka

Di kala ia yang kau harap manfaat

Beserta barokahnya pergi mendahului

Menghadap sang cipta, di sunyi malam

Riuh-riuh mereka nan singgah membawa

Resah beserta duka

Saat itu waktu seolah lolos dari porosnya

Detak seolah senyap dari nadinya

Raga seolah pucat dari rasanya

Duhai Kiai

Beserta Ibu Nyai

Begitu cepat kau tinggalkan mereka

Begitu cepat sayup do’amu tak terdengar di telinga

Begitu cepat wajah teduhmu sirna di pandangan mata

Hingga tak terasa waktu yang mengukir duka

Beberapa silam lalu

Kembali hadir menjadi pengingat luka di masa itu

Duhai Kiai

Beserta Ibu Nyai

Mungkin ragamu sudah usai mengemban amanah

Namun,

Do’a beserta barokahmu kekal

Hingga detak akhir dari masa

*Siti Fathul Jannah


Haulmu; Kiai

Ingin ku menerkam perpisahan ini

Agar tak ada lagi bulir rindu

Yang mengalir pada hati yang sepi

Dauh yang saban hari kau ucap

Menjadi kidung penuntun

Kemana hati akan menetap

Bahkan hingga pertemuan itu lenyap

Tak sanggup untuk kulupakan

Pesanmu tetap menggenang di sekujur tubuh

Membisikkan arah agar tidak salah

Memberi jalan menuju terang

Kini, dihaulmu yang kesekian

Bebaskan aku bercerita

Tentang sendu,

Tentang bagaimana aku membangun benteng

Agar kegelapan enggan menghayut diri ini

Yang cahayanya hanya sekadar bulu ayam berterbangan.

*Nabila

Annuqayah, 07 Desember 2020


Bhasa Madure


Sakoni’ Atambha Bannyak

Are e temor la moncar ka attassa jukajuwen

Sonarra terbhas ka candile musolla

Saenggha majingkat na’kana’ se iap ajien

Se ampon abharis adhante’ ghuru se bhakal rabhu

Salera se nyonar ampon paddhang dha’ pangabhasen

Sareng angghien sorbhan se ekasandhang e pangghulungan epon

Maos ketab koning kalaban soara se alos

Araksaaghi santre sopaje jelenna loros

E pondhuk molje ka’dinto

Angeng se pangarep se kongse raje

Tedung alama’ aeng mata

Abhantal dhu’a ban arepbhan rama ebhu

Ta’ loppa nyoon dha’ sekobhasa

Kangghuy apareng barokana elmo

Se ampon eajhari ataonan

Arengsareng sakancaan.

*Yuliana Putri

Kennegngan Molje, Desember 2020


Kaator Dha’ Ajunan

;KH. A. Warits Ilyas

Marengis dhada nete bekto

Aghu’lir pantheng ate

Pasra ta’ paste

 Ngangkaa tengka kodhu ngastete

 

Pettong taon, ajunan adhinggal bumi

Adhingghal careta se mabhunga ate

Careta se ngajhak dhada adhakandha ban akal

Dari rajena napso se marosaghan

Margha sae mongghu pangghalien

Mongghu ajunan

Tor mungghu pangiran

 

Sanaossa rarae ajuna ta’ sempat ngessee pantheng

Epangrasa abha’ etoro’ bunte’ etonton epateppa’ ta’ epangambang

Epasami sareng selaen, se sami-sami nyopre barokah nyopre bhinerrang

 

Saebhu oca’ sakalangkong ta’ duggha nyetthing

Anging, sobung laen seekaandhi’ abha’

Misken tengka ghuli

Misken tengka ate

 

Panyoon dhada kangghuy pangakoan

Ongghu terro ekasareng e alam paghantean

Eakoni jha’ abdhina santrena ajunan.

*Erliyana Muhsi

Bulen Laher, 1443


English


God’s Guidance

;KH. Warist Ilyas

Merit I sense

Bows in world confession

Average all out breath

Fight by God’s blessing

Care about us happening

Your advantage yens for you

Hugs our life

Being guidance so far

Kiai,

At the worst shape

Of aour romance

You’re honorary that i wished

Unless in God’s blessed

*Khalifatur Rafi’ah


Previous story

Time rotation, on place to stand on

Rabi’ul akhir, exactly in 1435 Hijriyah

at the time, we had lost a strong figure

a guidelines

a figure with authority full of majesty

resolute figure full of tolerance

as if the cloudy implied the miserable tragedy

that incontrovertible story

weeping poured out everywhere in painfull

it was going very deeply

thank you for your the service Kiai

will be reminded lastly in innerself of santri

will keep serving even though your soul we’re not

longer for finding

Nailatur Rahma

Annuqayah, 7th of Dec 2020


Reminisce about Kiai Deadh

At the time there was no smile soldered

Just weeping full of injury I met

Pure water flew swiftly in Kiai’s body

His pale face appeared narrowness in the heart

Dzikir strains accompanied feet step

His command series turned back in the memory

I desired to pull at that stiff body

Unfortunately, I was too lowly to be united

Not us them were not recent people anymore

In this moment, we are just able to yearn for

Without going tomeet anymore

Due to the painful day at that moment

Was the code that God had more pity on my Kiai

*Ayunda Baqiyatus Sholehah


Departured that never back

;KH. A. Warist Ilyas

Annuqayah was exploded with tears

As though natural disaster

That never be wished before

Allowed you is hard to do

When we escorted you to face majesty

You are who streched very pale

Was fluent invited sadness

Cause now

You just let beauty narrative

That chiseled in all heart

Without eroded by phase

Annuqayah, 06th December 2020


He is in our life

;KH. Warist Ilyas

We drawned out the voice in our hearts

That our love had run its course

Far this night at least

The old music played louder

Then the turth that beat breath our shirts

And as the stars melted into morning

We smiled at the old stories

And left our love hanging in the air

As we ambarked alone

On our tomorrows

He is himself

In every step of his pallid foot

Be a mark in our darkness

Be a hero

To him

The horizon was just a slight curve

Fading out behind the last tree line

Begging to be straightened

By a quickly embarked adventure


 

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak