Menuntaskan Rindu Ala Eka Kurniawan

0
597

Siapa yang tak kenal dengan penulis buku novel yang berjudul “Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas,” yang dalam sejarahnya telah menghantarkan seorang novelis menjadi penulis best seller hatta beberapa novelnya diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa dunia. Ia adalah alumnus UGM jurusan filsafat, yang memiliki nama Eka Kurniawan. Sebab pilihan jurusan yang ia tempuh, kata Eka tak mungkin untuk menarik dirinya menjelma menjadi seorang filsuf sekaliber Maxs dan Plato.

Sebab, spirit belajar yang tak pernah pupus dalam dunia sastra, meski katanya, saat menghadiri Talk Show pada kegiatan Lomba Cerpen SM’s Day yang diselenggarakan oleh Universitas Trunojoyo Madura (UTM) kemarin (28/10) Eka mengaku hampir saja, ia akan terlempar pada tumpukan kemalasan dan godaan yang melenakan untuk menjadi seorang entrepreneur yang sekaligus meninggalkan dunia kepenulisan. “Untuk orang semacam saya. Dulu, untuk menjadi penulis novel memang harus benar-benar punya kometmen yang lebih dari pada yang lain. Saya memang tak pernah berfikir mencari uang dengan menulis, karena menulis adalah kebutuhan bagi saya,” akunya sembari disambut tepuk tangan oleh peserta Talk Show.

Penulis novel Lelaki Harimau itu, dengan wajah yang ceriah, berkacamata, Eka menlanjutkan monolognya bahwa untuk menaiki tangga karir seorang penulis sastra mahasiswa harus menjadi bagian yang berbeda dari pada mahasiswa yang lain. Apalagi, lanjut Eka, sastra dihubungkan dengan konteks pendidikan di Indonesia masa kini. Secara prinsipil Eka memang menilai bahwa sastra dipandang tak banyak berpengaruh dalam kancah pendidikan Indonesia bahkan ada yang menganggabnya sebagai ampas tahu. Tapi, bukan tak dipandang perlu, karena sastra secara pengertian adalah cara mengajar atau cara untuk menyampaikan pengajaran berupa pesan-pesan moral terhadap seseorang. Sehingga sastra yang berasal dari bahasa Sansakerta dari “cas” dan ditambah “tra”mempunyai makna mengajar. Sastra adalah medium-medium bahasa untuk mengajarkan moral dan pendidikan terhadap masyarakat denga cara yang enak dan menarik.

Selaku Juri Lomba menulis Cerpen dalam kegiatan itu, Eka juga mengomentari bagaimana proses kretif yang mesti dilakukan seorang penulis dan bagaimana tips-tips menjadi seorang penulis yang tak terguna bisa mejadi berguna bahkan menjadi penulis  hebat seperti dirinya. Sengaja, panitia Lomba Cerpen SM’s Day UTM mengangkat tema cerpen “Membongkar Stereotip Masyarakat Madura,” yang menurut Eka sudah ditampilkan dalam segelintir cerpen meski pada dasarnya sangat sederhana. Eka mencontohkan sebagai seorang cerpenes, untuk mengatakan bahwa kita bercerita tentang Madura, maka tak usah dalam satu baris cerpenpun menyebut kata “Madura”. Karena menyebut kata Madura akan menjadi cerita yang sama dengan kebanyakan cerita yang ditulis oleh seorang cerpenis. Cerita yang ditulis, kata Eka, tak banyak memberikan informasi tentang ke-Maduraa-an, karena itu Eka mengaku sudah banyak tahu tentang masyarakat Madura secara umum tanpa membaca cerpen peserta lomba, seperti; punya tipikal yang keras dengan stetmen—lebih baik putih tulang dari pada putih mata—yang bagi Eka sudah menjadi wacana klasik yang tetap diangkat kemuka. “Seharusnya, penulis cerpen mengambil yang berbeda dari  yang lain. Yang tak pernah orang lain berfikir kita mau menulis apa,” katanya.

Mari Tuntaskan Rindu;

Berbagi Masalalu, Tak Perlu Sembilu

Sebagai seorang mahasiswa tentu, Eka sangat paham apa yang harus dibicarakan kepada mahasiswa dan mahasiswi yang hadir waktu itu. Ya, salah satunya, kita bernostalgia dengan masalalu; menuntaskan rindu, mencarikan solusinya, dan tak perlu ada dendam meski Eka mengangkap rindu bagaikan dendam membara  bergejolak yang membawa sembilu.

“Apa semua merasakan sakit hati?” tentu banyak mahasiswa dan mahasiswi yang tertohok dengan pertanyaan demikian. Kita sebagai generasi “Jaman Now” meski harus selalu bertatapan dengan kisah-kisah hubungan percintaan yang meninggalkan jejak luka, atau kalau meminjam istilah yang beken tergores pisau cinta. Gkgkgk, lebayyy…

Sebab itulah, rindu selalu mempunyai tempat dan ruang tersendiri untuk dituangkan dalam sebuah wadah tanpa terikat dengan jarak dan waktu. Inilah kata Eka yang memperpanjang dinamika kehidupan menjadi deretan berwarna-warni dengan keindahan yang lebih merata. Maka, tepat pula Eka untuk menuntaskan rindu itu pada mahasiswa dan mahasiswi yang telah kapok dengan urusan gila-gila-an dalam hal cinta. “Mari tuntaskan rindunya Mas Eka?” katanya mahasiswi yang memandu kegiatan Talks Show. Sembari disambut seruan kor “huuuuu….” dari seluruh peserta..

Akhirnya, setelah membuka pertanyaan dan Eka menjawab dengan santai bagai meneguk kopi, pemandu acara menutup dengan foto-foto bersama dan meminta tandatanga kepada Mas Eka…Berikut Fotonya. Hohoho..:D


Penulis: Jamalul Muttaqin

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak