Menyemai Jiwa Patriotisme dari Bilik Pesantren

Menyemai Jiwa Patriotisme dari Bilik Pesantren

0
331
Nuril Supriyadi selaku pemateri memberikan motivasi tentang kepahlawanan kepada santri baru di bilik C/19 PPA. Lubangsa

Lubangsa_Agustus adalah momen mengenang jasa para pahlawan kemerdekaan Republik Indonesia. Sudah 74 tahun Indonesia terbebas dari penjajahan hingga tahun 2019 ini. Masyarakat Indonesia masih mengenangnya di hati nurani dengan sangat antusias dan penuh meriah.

Ada yang mengisinya dengan berbagai macam perlombaan di kampung, desa hingga kota. Bahkan, spanduk, baliho, lampu, dan bendera merah putih mulai bertebaran menghiasi pemandangan sepanjang jalan. Sungguh sangat bergelora. Begitupun di pesantren, semangat kemerdekaan Republik Indonesia sangat disambut antusias oleh kalangan santri.

Sabtu (24/08/19) malam di PP. Annuqayah daerah Lubangsa terdengar sayup-sayup lagu Indonesia Raya, syubbanul wathan, mars NU hingga lima dasar pancasila yang dibacakan oleh santri-santri bilik blok C/19. Uniknya, mayoritas mereka adalah santri baru yang mondok pada tahun ini di tingkat Madrasah Tsanawiyah (Mts) sederajat. Begitu syahdu terdengar hingga degup jantung ingin kembali mengobarkan jiwa membela tanah air. “ada acara motivasi kemerdekaan RI yang ke-74,” ungkap Sulaiman, wali bilik blok C/19, ketika wartawan Lubangsa bertanya menghampirinya. “kami mengemas acara ini dengan menarik, termasuk juga mengajari anak-anak yang masih dini menghafalkan dan melantunkan bersama-sama lima dasar pancasila, karena kita seringkali lupa meskipun hanya hal sepele,”ujar santri asal Bragung itu.

 Acara pada malam hari itu berjalan dengan khidmat. Suasana pun tampak bersemangat saat Nuril Supriyadi memaparkan puisi D. Zawawi Imron yang berjudul ibu sebagai perenungan kepada santri baru agar selalu ingat kepada jasa orang tuanya sebagai pahlawan pertama dalam kehidupannya.  Pengurus kesenian asal Basoka Rubaru itu mengutip salah satu puisi penyair asal Batang-Batang Sumenep D. Zawawi Imron yang berbunyi “kalau aku ditanya tentang pahlawan, namamu ibu yang akan kusebut paling dahulu“. “pahlawan pertama adalah ibu kita,”ungkap mahasiswa Tasawuf Psikoterapi (TP) Instika yang akan diwisuda pada tahun ini.

Aufal Marom sebagai Wali pendamping blok C/19 mengamini terhadap kegiatan tersebut. Dirinya juga berharap agar santri-santri bisa menggelorakan kembali perjuangan kemerdekaan Indonesia dan bersyukur atas segala yang dianugerahkan tuhan. “ini adalah bentuk syukur kami terhadap para pahlawan yang telah memperjuangkan bangsa ini,”pungkasnya sambil tersenyum.


Penulis : Abd. Warits

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak