Nyala Dhamar Kambheng (Puisi Ratnwa Wulandari)

0
202

Nyala Dhamar Kambheng

*Ratna Wulandari

Rumahku seadanya. katanya sebelum pergi, kakek tak memberinya nama dan kalimat sederhana. tapi dari ranum keringat nenek, dirajutnya kepingan luka menjadi cita-cita, tempat Ibu menimba cinta, hingga tumbuh menjadi permata dunia.

 

rupiah jadi pamungkas segala petaka, aku dengar nenek tak mengeluh biaya. dia menghabiskan waktu dengan tabah, meski banyak bahaya di dada, tak lepas dari basmalah sebagai senjata, walau kadang berbalas kecewa.

 

di hadapan bulan yang mulia, di sisa usia sebanding senja, wanita yang kupuja sepanjang masa, diam-diam mengisi cangkir dengan doa. tegak berdiri segelintir harap untuk nyata, disaksikan angin yang mengintip di celah jendela. nenekku memejamkan mata, tidak untuk terlelap dan menunggu matahari menyapa, tapi dengan dada yang meraba-raba, menghidupkan nyala agar berkah mengitari semesta

 

di bawah lindungan kasur tidur, asapnya mengepul kecil. kata nenek, “apinya adalah hatimu”.

dalam hati aku menjawab semoga. lewat genting, dinding, lemari, sandal jepit, dipan, bantal dan semua usaha, tidak pernah ada kata mencela. sebagai bukti bahwa ia masih berteman setia. pada suami yang cintanya selalu ia jaga. pada Ibu yang dikasihi tiada dua. dan tentunya padaku yang kelak diharap menghadiahinya alfatihah.

Annuqayah, Januari 2019.

*Melalui puisi ini, Ratna Wulandari terpilih sebagai 50 Penyair yang puisinya terantologi dalam Bali International Literary Symposium 2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here