Pangerat, Puisi Abdul Warits

0
483
Foto: Key/Syah

Kudekapkan tubuhku di pinggangmu

Digerayangi lentik jemarimu yang kasar

Tanganmu kuasa mengendalikan perasaanku

Kupiara cinta di ceruk jantungmu

 

Dengan hati-hati, kau pegang seluruh jiwaku

Seperti Joko Tole, aku diasuh panae’[1]

Diasah batu-batu yang lugu

Dibelai, seperti kasih sayang seorang ibu

 

Kau membawaku dari kekar akar siwalan

Menakar gemetar hidup seharian

Naik menuju puncak keletihan

Lelah tak pernah alpa memelukmu

Kau tidak pernah gusar

Di antara debar lubang-lubang antat[2]

 

Berkibarlah Madura di dadaku

Ketika rakara[3] kujatuhkan ke tanah resahmu

Diiris jadi nutrisi hewan gembala

Disulam jadi tikar serba guna

 

Mayang-mayang yang perawan itu

Telah kujamah dengan hasrat menggebu

Kembang beraroma surga

Kau bergairah lebah yang tergoda

Merubung kucuran nira

Madura kentara, semerbak dalam sukma nusantara

 

Ujungku adalah nafsu sakera

Nuraniku dirasuki ruh celurit

Dari urat nadi menggertak akalmu

Mengalirkan ketegangan-ketegangan

Ketika kau penggal segala harapan

 

Tajam pikiranmu seringkali berkhianat pada kemanusiaan

aku divonis biangkeladi

Antara carok dan bacok

Amarah otak binalmu

diam-diam melukai batinku

 

Ketenanganku adalah perempuan bermata nyalang

Menikam dengan senyuman

Meskipun diamku  kebijaksanaan

gerakku sedang direncanakan

membunuhmu perlahan-lahan

Annuqayah, 2019


Keterangan:

panae’ adalah Orang yang naik ke pohon siwalan.

antat adalah Pohon siwalan yang dilubangi berbentuk zig zag untuk memudahkan naik ke atas.

rakara adalah Daun siwalan.

Pangerat adalah Sejenis sabit kecil yang biasa digunakan untuk memotong mayang siwalan.


NB: Puisi ini dinobatkan sebagai juara 2 lomba yang laksanakan oleh Dinas Kepustakaan dan Kearsiban Kab. Sumenep, Kategori Mahasiswa.

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak