Pengurus KP2 Perkuat Hubungan Emosional dengan Kru Website Lubangsa

0
313

Ditinggal pergi oleh ketua seksi Kepustakaan, Penerbitan dan Pers (KP2), Abd. Muqsith, pada bulan Nopember lalu yang secara resmi menjadi alumni Lubangsa. Misbahul Munir, Wakasi KP2, tidak mau tinggal diam untuk meneruskan rencana yang masih belum terealisasi dengan baik. Termasuk pula rapat yang diakan pada Ahad malam (18/12) di posko kunjungan itu.

Rapat yang dihadiri reporter Website dan Koran Lubangsa membahas seputar karya yang akan dimuat di Website dan Koran Lubangsa. “Teman-teman kru, selain berkewajiban menulis berita, teman-teman berkewajiban menjadi penaggungjawab untuk mengumpulkan tulisan fiksi atau non fiksi dari ordanya. Karya fiksi dan non fiksi nantinya bisa di muat di koran lubangsa atau website, tetapi kalau berita orda akan dimuat di website saja,” tutur Misbahul Munir.

Selain itu, pihaknya kembali menegaskan jadwal pengirimam naskah berita ke redaksi tetap setiap 15 hari. “Tetapi, bagi saya, itu kalau reporter menulis berita pada tanggal satu, kemudian pengiriman ke redaksi pada tanggal 15, tentu berita teman-teman akan menjadi basi. Makanya, batas 15 hari bukan berarti teman-teman santai-santai tidak menulis berita, karena kami akan melakukan rengking penulisan berita terbanyak yang pada akhir periode akan mendapat penghargaan,” tambahnya.

Dalam rangka perbaikan pers lubangsa ke depannya, pihaknya meminta kepada semua pers untuk mengevaluasi kinerja pers yang telah berlalu. Habibullah Muktar, Wartawan di Organisasi Daerah (Orda) Ikatan Santri Timur Daya (Ikstida) menilai bahwa pers yang diutusan dari orda nampaknya ada sebagian yang tidak menyetor berita sama sekali. “Maka kami sangat berharap ada tindakan tegas dari pihak KP2 selalu pengurus yang menaungi semua pers yang ada di lubangsa, baik dengan cara pendekatan atau pencopotan jabatan,”ujar santri asal Gapura itu.

Ia juga menambahkan, Pengurus KP2 dalam waktu yang singkat melakukan pelatihan-pelatihan jurnalistik. Walaupun dalam skala yang kecil, supaya pemahaman wartawan dari utusan masing-masing orda menjadi sama.

Lain daripada itu, Sayudi, Wartawan dari Iksaputra menjelaskan pihaknya meminta penambahan wartawan utusan orda menjadi dua orang, sebab mengantisipasi wartawan yang berkewajiban meliput sedang berhalangan.

Atas beberapa permintaan tersebut, Misbahul Munir, Waksi KP2 merespon dengan baik  atas usulan tersebut. Pihaknya, akan menindak tegas wartawan yang tidak menulis, baik dengan cara pendekataan emosional, pendidikan, dan resuffle.

Pihaknya juga mengakui bahwa wartawan yang sama sekali tidak mengirim berita ke redaksi, memungkinkan bahwa wartawannya kurang berpengalaman dalam mulis berita. Maka dari itu,  pihaknya merasa wajib untuk mendidik semua wartawan di lubangsa.

Terkait dengan penambahan wartawan dari masing-masing orda, Munir (sapaan akrab Misbahul Munir) merasa khawatir wartawanya tidak bisa bekerjasama dengan baik. “Tetapi ini bukan berarti mempersulit teman-teman kru. Perwakalilan satu wartawan dari orda, tidak hanya sebagai wartawan saja, melainkan sebagai penanggungjawab mengakomodir pers yang ada di ordanya, termasuk penanggungjawab mengumpulkan karya-karya anggota di ordanya. Kalau berhalangan, bisa saja  wartawan ini (wartawan yang hadir ketika itu, red) menyuruh devisi pers di ordanya untuk menulis berita.” Tegasnya.

Pihaknya juga berharap, wartawan tidak hanya menulis berita, melainkan juga bisa menulis karya-karya yang lain seperti esai, opini, cerpen, puisi dan lain sebagainya. Sehinga wadah pers dapat dijadikan tempat untuk berproses menjadi penulis yang baik.


Penulis : Misbahul Munir

Editor   : Saifil Mu’iz

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak