Peran Pesantren Dalam Merawat Literasi Pemuda di dunia Sekolah

0
689

Oleh : Abdul Warits*

          Dalam jiwa pemuda, penting ditanamkan dunia literasi sejak dini. Dunia literasi ini harus disemai sejak pemuda masih menginjakkan jejaknya di dunia sekolah. Karenanya, membaca berbagai literasi—terutama karya sastra—harus menjadi prioritas utama dalam mencetak pemuda yang berintelektual. Maka, salah satu cara untuk mengembangkan intelektual pemuda adalah menumbuhkan semangat menulis. Sebab, jika seorang siswa telah menulis, maka mereka akan terus membaca. Tulisan yang baik akan lahir dari proses membaca karya-karya yang berkualitas. Untuk seorang siswa, membaca dan mendalami karya sastra (puisi, cerpen, novel) harus dikembangkan sejak bangku sekolah sebelum mereka menekuni dunia mahasiswa yang cenderung akademik dan ilmiah.

Kemudian, ketika saya menghadiri acara Launching buku antologi penyair ASEAN 2 di IAIN Purwokerto, dengan tema puisi dan perdamaian. Penulis dan penyair luar Madura ternyata mempunyai rasa kagum terhadap Madura yang melahirkan banyak penulis dan penyair di dalamnya. Kenapa di Madura banyak penulis dan penyairnya? Mereka bertanya demikian barangkali karena kebetulan Juara pertama dalam event tersebut diraih oleh penyair asal Madura (Sumenep) atau barangkali mereka melihat berbagai media baik koran maupun online yang seringkali memunculkan penulis dan penyair asal Madura.

 Menjawab pertanyaan ini membutuhkan sedikit pengamatan melihat pulau Madura dengan budaya dan tradisi yang melingkupinya. Pertama,  Kuntowijaya, menyebutkan bahwa Madura adalah pulau seribu pesantren. Sementara, di pesantren, dunia literasi dan bersyair telah lama diajarkan. Mencatat dan memaknai kitab kuning, membaca nadzam alfiah, imriti, burdah adalah tradisi kental pesantren hingga kini yang perlu untuk kita pertahankan. Kedua, maraknya komunitas pengembangan keilmuan, tulis menulis dan tradisi bersanggar yang dijadikan media dalam mengasah intelektual, seni, kesusastraan, yang ada di sekolah-sekolah di pulau Madura. Hal ini juga dalam rangka mempertahankan tradisi lokal (local wisdom) masyarakat Madura dari serangngan barat yang mulai gencar merasuki jiwa kita semua. Munculnya sanggar dan komunitas diberbagai sekolah di pedesaan biasanya memang diprakarsai oleh alumni pesantren yang peduli untuk membina dunia literasi. Ketiga, banyaknya media bagi siswa untuk menyalurkan karyanya seperti mading, selebaran, buletin, atau bahkan majalah yang bisa menampung kegelisahan dalam tulisan-tulisan yang mereka ciptakan. Tulisan yang ada di mading ini mengingatkan saya kepada puisi muallaqat yang digantung di dinding-dinding kakbah pada masa lalu. Selebaran dan Buletin menjadi media kedua bagi siswa dalam menunjukkan inpirasi dan kreasinya dalam berkarya. Tidak heran kemudian, jika mereka berani menunjukkan karyanya pada majalah lokal dan nasional atau bahkan tercatat dalam buku-buku yang telah ber-ISBN.

Inilah upaya pesantren dalam merawat seni dan literasi di negeri ini. Karenanya, ketika kesusastraan di dunia sekolah hanya menjadi “catatan kaki”, artinya, siswa hanya disuguhkan pelajaran tentang sastra (puisi dan cerpen) tanpa disertai dengan pendalaman yang lebih mumpuni atau praktik langsung menulis karya sastra dan bahkan materi kesusastraan hanya dibutuhkan ketika adanya ujian nasional saja, maka, komunitas dan sanggar yang ada di sekolah seyogyanya digerakkan untuk kembali menghidupkan dunia literasi di negeri ini, sehingga para pemuda akan selalu memacu kreatifitasnya dalam berkarya.

Oleh karena itu, semangat membaca pemuda dalam komunitas dan sanggar bisa dirangsang dengan diskusi dan kajian tentang kesusastraan dan seni. Ketika seorang siswa berdiskusi, maka ia harus mempunyai modal pengetahuan yang akan dibagikan dalam komunitas dan sanggarnya. Maka, tradisi bersanggar dan berkomunitas ini seharusnya tidak dihilangkan begitu saja, mengingat semakin kaburnya dunia pemuda dari esensi kreatifitas hingga melahirkan kebinalan-kebinalan. Selain itu, tradisi ini juga memperkuat konsep ukhuwah (persaudaraan) dalam agama Islam—yang pada masa ini—mulai diabaikan begitu saja (*)


*Senang kepada empat kebiasaan : Membaca, berdiskusi, menulis, mengabdi sambil berbagi informasi. Presiden di Istana Pers Jancukers PP. Annuqayah daerah Lubangsa.

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak