Puisi-puisi Ahmad Nyabeer

0
420
Sumber Foto : istockphoto

Kepada Umniyaty 2

Bukan kebetulan kita dilahirkan
di tempat yang berjauhan
jalan raya terulur begitu panjang
engkau tak dapat kujangkau dalam pandang

Awal berkenalan aku bagai orang
yang terdampar di desa asing
dan hanya mengenalmu seorang

Setelah itu untung kau tak memintaku
untuk berada di sisimu selalu
Apa katamu? Sanggupkah aku?
aduh, kekasihku
apalah arti jarak
bagi sepasang pecinta seperti kita

Aku cuma tak ingin ketika itu
waktu menjadi sebatas bayang
yang kesepian di belakang

Barangkali Tuhan sengaja membuatku
jauh dulu darimu
Kedekatan justru membuka kesempatan
untuk mencemari percintaan
untuk ditikam kebosanan

Dan cinta akan semakin jernih
ketika jarak semakin jauh
menjadi pemisah di antara kita

Meski kadang aku berpikir
Berapa banyak lelaki di dunia
yang kuat bertahan
ketika jauh dari kekasihnya?

Sebab aku tak mau
kita persis serban atau buku
yang selalu kita gunakan ini
setelah lusuh, engkau ataukah aku
yang melemparnya lebih dulu?

Cukup kita tahu
bahwa saling mendoakan
adalah cara bercinta
sepasang kekasih yang berjauhan

Namun tolong jawab, kekasihku
sudahkah kau berniat
menjadi istriku yang baik?

Annuqayah, 9 Juli 2019 M

Kepada Umniyaty 3

Hari dimulai sejak pagi membuka pintu
Membuka kehidupan penuh cahaya
di bawah bentangan langit yang biru
Matahari bergerak makin tinggi
menuju maghrib, liang kuburnya sendiri

Orang-orang akan menjadi tua
Usia akan habis dicucuki paruh waktu
Bumi langit akan senja
Kemudian mesti hancur semesta

Lalu kanapa kau memintaku
mencintaimu dengan kekal, kekasihku?

Seperti siang berubah ke malam
Seperti perempuan tua kehilangan kecantikan
Semesta tak membentukku
hidup dalam perasaan yang satu
Alur waktu selalu mengubah diriku

Dunia ini tak seperti Tuhan, kekasihku
Segalanya tak pernah abadi
termasuk cintaku padamu

Tetapi, bagaimana bisa aku berpaling
Sementara keindahan semesta
terlihat sebagai engkau

Maka jangan kau memintaku
mencintaimu sampai mati
Terlalu banyak lelaki berjanji
dengan kata-kata menipu itu
Lalu apa bedaku dengan mereka?

Aku tak akan berjanji apapun, kekasihku
Sebagai tubuh yang tak pernah bilang
akan selamanya mencintai ruh
Tetapi dapatkah hidup berjalan
sedang keduanya berpisah jiwa?

Batang-batang, 13 Juli 2019 M

(Menjadilah) yang Pengasih dan Penyayang

Kata-kata manis dari kekasih
melebihi mantra pengasih
menjadi mabuk jiwaku
menjadi lena hatiku

Mulai sekarang kalau begitu
jangan bilang engkau mencintaiku

Kenapa, kekasihku?

Seperti benci dan cinta
selalu samar dalam cemburu
Seringkali pula kata-kata
menyimpan jujur atau palsu

Engkau menuduhku pembohong, kekasihku?

Bukan begitu, kekasihku yang paling cantik sedunia
Aku telah sangat mengerti
bahwa penyampai perasaan paling mafhum
adalah dengan ucapan

Terus?

Sebagai lelaki yang menyukai puisi
yang teman dekatnya adalah kamus
yang pekerjannya cuma membangun bahasa
Bagiku, kata-kata sudah tak istimewa lagi

Lalu apa maumu?

Lupakah engkau, kekasihku yang baik
bahwa alam raya ini dicipta
hanya sebagai wujud ungkapan cinta
dari Tuhan kepada kekasih-Nya

Engkau ingin aku meniru?

Muhammad Sang Nabi
tiada pernah meminta langit-bumi
sebab kekasih yang baik
tak akan mengharap apa-apa
kecuali ketulusan hati kekasihnya
Tetapi, bukankah Tuhan
malah menciptakan semesta?

Batang-batang, 26 Juli 2019 M

Yang Tunggal

Siapa pun bertanya
Tentang dirimu
Selalu kujawab:
Engkau jelek rupa

Maklumi aku, kekasihku
Aku talur ada
Yang tahu kecantikanmu lagi
Selain aku

Sementara, mencintaimu
Ingin
Aku
Menjadi
Yang Tunggal

Batang-batang, 27 Juni 2019 M

 Suatu Sore di Gerbang Asta

Mendapatkan senyuman pada suatu sore
Sesuatu meledak dei kedalaman sukmaku
Sebongkah rindu meletus tiba-tiba
Dengan suara yang hanya dapat
Didengar telinga kesepianku sendiri

Muncullah malaikat-malaikat kesunyian
Dari jemari tanganku yang kanan
Seperti sajak-sajak yang begitu gembira
Mendapati dirinya dipenuhi cinta

Mendapatkan senyumanmu, kekasih
Puisiku seolah lelaki yang terlampau senang
Hingga berlari ke halaman dengan telanjang
Ia bahkan tak mendengar
Orang-orang yangtertawa nyaring
Dan kedua bola matanya
Persis cermin yang diam-diam
Menyesap bibir manismu

Betapa senyuman adalah diksi paling indah
Dalam kamus besar pesona kecantikanmu
Dan kemarin, saat senja membentuk tbuhnya
Tak sengaja kau haturkan di gerbang asta
Kepadaku

Batang-batang, 27 September 2019 M

 Warna Biru di Kalianget

Siang hari senin
Kalianget memberi dua warna biru kepadaku
Warna langit dan warna laut
Warna kelembutan semesta
Warna kesukaanmu, kekasihku

Aku suka warna siang hari
Yang tiada mendung sama sekali
Tapi entah, aku tak tahu
Dari mana dan kenapa tiba-tiba
Kalianget memberi warna biru kepadaku

Sebagai lelaki gunung
Soal warna tak perlu merenung-renung
Kupakai saja warna biru itu
Seperti melepas baju lusuhku

Batang-batang, 1 Juli 2019 M

 Jangan Buat Aku Gila

Tiba-tiba aku menjadi lelaki penakut
Ketika berada di dekatmu, An
Daun-daun melambai
Ditiup angin bergetar

Ingin sekali kutolehkan muka
Menghadapkan wajahku padamu
Tetapi ranting kepalaku selalu gemetar
Oleh diammu yang menghembuskan pesona

O… manusia macam apa kau ini?
Aku memang tak takluk
Seperti kepada kekasihku
Tapi di depan wajahmu
Jiwaku pasti menunduk
Sedikit sadar merasa diri
Bahwa aku sedang gila, An

Annuqayah, 9 Juli 2019 M


Penulis: Ahmad Nyabeer adalah nama pena dari Ahmad Fawa’id. Mahasiswa INSTIKA. Aktif di Komunitas Persi. PP Annuqayah daerah Lubangsa Guluk-guluk Sumenep.

Nb: Puisi ini dimuat di Nusantara News.co pada tanggal 13 Oktober 2019 M.

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak