Puisi-Puisi Hari Santri Nasional 2019

0
754
Foto: A. Fadia

Puisi-Puisi Anggota Forum Literasi Santri (Frasa) PPA. Lubangsa Putri

Puisi Ibna Asnawi

Pergi Mengaji

lubang semut itu pun

basah oleh hujan

di suatu siang

yang terik

 

senja kemudian berhambur

di langit oranye nampak cahaya

saling berkejaran berebut ufuk

seperti saat si kembar

duduk meminta rangkul

kepada ibunya

 

di sore yang gembira itu

anak-anak berlari melintasi

lubang semut di hilir selokan

menuju langgar

setelah ibu-ibu mereka

menindih buah malas

hasil jerih payah

pertarungan seharian

dengan tanah, daunan,

dan ranting-ranting cokelat

di pinggir-pinggir sungai kering

dengan pandang sungguh teduh

 

di dada mereka Alquran

di kantong mereka batang lidi

seukuran telunjuk

di musim-musim tua nanti

berlembar kertas itu akan

menghampar menutupi

tanean-tanean lanjhang

 

sementara lidi kecil itu

bakal sedia menumbuh

bibit-bibit paham rasa

terhadap sesiapa saja

 

Longos, 30 Januari 2019

 

Ibna Asnawi, lahir di Sumenep, 07 November 1996. Sedang mengaji di Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa Putri Guluk-guluk Sumenep Madura. Dapat ditemui di: Ibna Asnawi (Facebook) dan [email protected]

 

Pejuang Berpeci

Kala tentara berseragam

Tak lagi mampu berjuang

Pasukan bersarung, pejuang berpeci

Maju merapatkan barisan

 

Menghadang, menghalau penjajah

Trut berjuang demi Indonesia merdeka

Walau merelakan nyawa

Sebagai taruhannya

 

Sungguh kuasa Ilahi

Meski tanpa senjata berapi

Denga bambu runcingnya

Mereka tersaruk berusaha menumbangkan lawan

 

Pejuang berpeci

22 oktober menjadi saksi

Atas keberhasilan santri

Dan merdekanya  negeri.

 

Annuqayah, 19 oktober 2019

Dee Kayisna. Lahir pada tanggal 22 Desember 2001 di Jember. Santri aktif Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Putri Guluk-guluk Sumenep Madura asal Jember. Berproses di Forum Literasi Santri (Frasa) Lubangsa Putri. Masih menjadi siswa MA 1 Annuqayah Putri jurusan Ilmu-Ilmu Keagamaan..

 

 

 

 

Andhap Asor[1]

Di tengah mulut-mulut berkoar

Suara santri lembut menyejukkan

Menyuburkan kembali dada-dada gersang dengan kuasa Tuhan

 

Di antara tangan-tangan yang melempar battu kerikil

Tangan snatri memtutar tasbih

Bertamu hatinya pada ilahi

Memohon belas kasih

Untuk kedamaian negeri

 

Ketika para manusia tanpa pikir mengumpat, meresensi

Milik saudara seagama dan senegara

Santri mengalunkan suaranya di aats firman-firmanNya

Menelan ludah

Membiarkan peristiwa buruk lewat begitu saja

Bukan lemah

Tapi membina hati untuk lebih merendah lagi

 

Pada sepertiga malam, santri

Menjemput pelumat dada kepada Tuhan

Lewat salat dan bacaan-bacaan

Mengusir dengki

Membunuh hama hati

Menyemai benih

Bekal hidup pada pergantian misteri

 

Santri,

Bukan seperti apa ia berpenampilan

Tapi bagaimana ia membelai Tuhan

 

Lubangsa Putri, 20 Oktober 2019

 

 

Erliyana Muhsi, Santri Annuqayah Lubangsa Pi sekaligus Mahasiswa Prodi PIAUD INSTIKA, anggota aktif Frasa Lubangsa Putri, Ikstida, LPM Dinamika Instika, Alumni PP. Al-IN’AM dan PP. Darul Falah. Beralamat di: [email protected]

 

Alif Lam Mim

Alif laam miim

Mengajilah di sebuah dampar kayu kosong

Menunggu Kiai sepuh

Bertandang menafsirkan ayat

 

Awalnya kami buta

Tak lebih mengenalnya

Yang menunjuk pun

Tak serangkum menjadi gampang

 

Alif laam miim

Sejuk tersiram air mukanya

Mengabdi subuh

Pada Tuhan yang mengusik.

 

Alif laam miim

Santri berwajah cahaya

Abdian dari sepuh

Di tanah rantau

Tempat kami

Menginjak tanah beraroma suci.

 

Annuqayah, 20 Oktober 2019

Isfa Umamah, lahir di Grujugan Gapura Sumenep pada 03 Januari 2004. Siswi IPS MA 1 Annuqayah Putri Guluk-guluk. Santri aktif Lubangsa Putri. Bergiat di Frasa, Supernova Ikstida dan Kompas Pasra. Akun fb, dhee Fhamaa.

 

Akulah Santri

I

Duduk diam dan ratapi

Tentang hidup dalam dunia santri

Dalam sepi aku mencoba menabahkan hati

II

Tak ada kata lelah dan letih

Barokah adalah tujuan utama yang dicari

Aku kembali terlelap

Sesekali disela hiruk-pikuk dan deru ajian kitab-kitab

III

Aku santri yang tak lepas dari kata mengantri

Semua seakan mati

Saat ayah dan ibu tak lagi di sisi

Tapi segulung letih itu harus kuhadapi

IV

Tubuhku membeku

Kakiku kaku

Saat belaian ibu tak dapat kusentuh

Dan sepi merobek kalbu

V

Aku terdiam dalam bahasa bisuku

Tak kuhafalkan

Mengingat perjuangan yang tak kunjumg padam

Akulah santri

Yang berusaha mengokohkan hati

Demi cita-cita yang tinggi

 

Annuqayah, 20 Oktober 19

 

Mila Kamila, Lahir di Sumenep, Menempuh pendidikan di MA 1 Annuqayah Putri Jurusan Ilmu Budaya dan Bahasa. Santri PPA. Lubangsa Putri, bergiat di Forum Literasi Santri (FRASA), Alif senansa Ikstida, komunitas PERSI Iksabad, dan Sanggar Sareang.

 

Kekhusukan Doa

Berbagai macam pola fikir terukir

Di atas selipan nadi

Dihimpit mimpi-mimpi yang tersusun rapi menyepi diri

Hamparan doa menyisihkan mata tak pernah mati

Tutur kata suci menyapa tanpa ekspresi

Wajah-wajah berseri menanti ingin menikmati

Kefokusannya kutatap tanpa harus disesali

Keindahan putaran tasbih meggelitik sendiri

Aku menengadah di atas hamparan puisi

Yang ku istiqomahkan dalam hati.

 

Annuqayah, 20 Oktober 19

Thaa Dita, Lahir di Pamekasan. Menempuh pendidikan di Madarasah Aliyah Annuqayah Putri dan mengaji di PP. Annuqayah Daerah Lubangsa Putri Guluk-guluk Sumenep Madura.  Bergiat di Forum Literasi Santri (Frasa).

 

Santri

Orang-orang berlalu lalang di depan kamar

Semua sibuk akan pekerjaannya

Tak pernah lelah untuk selalu mengerjakannya

 

Sehelai rambut tak dapat terlihat

Semua tertutup oleh sepotong jilbab

Yang tak pernah terpisah

Dari beberapa bagian

 

Pesantren

Orang yang tinggal di dalamnya adalah santri

Yang tak pernah lepas mengantri

 

Annuqayah, 2019

 

Fajriyatur Rahmah, bernama asli Fajriyatur Rahmah, lahir 26 Maret 2007 di Sumenep. Menempuh pendidikan di MTs 1 Annuqayah dan santri di PP. Annuqayah Daerah Lubangsa Putri Guluk-guluk Sumenep Madura. Bergiat di Forum Literasi Santri (Frasa)

 

[1] Bahasa Madura yang berarti sopan santun

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here