Puisi-Puisi Sanggar Andalas

0
174

Puisi MaHa Mangkudilaga*

KICAU BURUNG-BURUNG

Bagaimanapun, kami hanyalah burung-burung (1) yang setia mengerami doa-doa. (2) menyulam cinta di antara bulu-bulu kami yang kian melebat. (3) begitu tega memang, hujan semalaman (4) telah berhasil menghancurkan sarang, (5) sebagai tempat kami berlindung dari kejamnya penyakit demam. (6) andai saja, kami mampu membaca kesepian (7) yang berlarian di antara daun-daun. (8) maka, adakah kesejukan embun masih tetap terasa di tubuh kami, (9) semisal kemungkinan-kemungkinan nasib (10) dan cerita-cerita masa silam yang tak mampu lagi (11) kami abadikan dalam ingatan kesunyian (12).

Annuqayah, 2020

 

 

MaHa Mangkudilaga (Muhammad Hafil Mangkudilaga), asli masyarakat Situbondo. Sekarang tercatat sebagai santri aktif PP. Annuqayah daerah Lubangsa. Berproses di Sanggar Andalas, Ikatan Santri Annuqayah Jawa (Iksaj), Masyarakat Seni Annuqayah (MSA) Lesehan Sastra Annuqayah (LSA) dan Komunitas Sastra-Teater lainnya. Berkuliah di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah. Karya-karyanya termuat di beberapa media tingkat lokal maupun ASEAN. Beramat di Jl. Makam Pahlawan PP. Annuqayah daerah Lubangsa 69463. Email; SebatasMangkudilaga@gmail.com


Puisi Juaidi HS*

SURAT BOLONG

Malam nanti kita bertemu di hutan. saat rembulan sempurna tidak

kebagian cahaya matahari. perlahan malaikat-malaikat turun

bersama bintang-bintang.

                           sujud di atas tumpukan-tumpukan tulang

                                 dan tunggak-tunggak pohon.

di kejauhan lorong-lorong ditimbun tebing. air bandang menyapu

halaman. angin melingkar menggulung awan. bangunan-bangunan

dibelai. dininabobokkan. dan berhari-hari anak-anak setia mandi

lumpur.

 

Dari meja-meja tamu. dinding-dinding langgar yang bolong. bata

putihnya hilang satu persatu. dicuri layar kaca teknologi. dihantam

palu besar curiga induk-induk anak.

                                           jatuh.

menghantam dada dan kepala. di atasnya Rokib-Atid sibuk membuka

mundur catatan harian. lembar-lembarnya basah bersenandung air

mata. mencari sisa-sisa hijaiyah yang kian samar meski kian dibaca

dan dihafal.

 

Getar-gemetar aku baca. rematik tiba-tiba kambuh. kram menjalar

seluruh tubuh. di hati. di akal. mengalir cuka. menggenangi lubang-lubang

luka. lubang-lubang sesal. malaikat dan bintang telah dibawa

matahari. membawa secangkir kopi dan setangkai puisi untuk Tuhan.

malam nanti, bilakah lagi kita temui?

 

Annuqayah, 2020 M.

 

Junaidi HS, santri PP. Annuqayah daerah Lubangsa. Bergiat di Sanggar Andalas. Bertempat di Langgher Kesenian.


Puisi Mochammad Kifly Maulana*

Dalam Peluk Hangat Sang Kiai

;KH. Muhammad Ali Fikri

 

sebelum malam datang menghapus segala pandangan

ingin kusirami berapa benih yang tumbuh pada teluk kalbu

atas nama pengabdian yang terus menjadi keringat takzim sang guru

 

datanglah wahai Pengasuhku! sucikanlah tanaman di halaman sampai habis keluhan

betapa kerinduan yang sudah kepalang untuk menanti keridlaanmu

sampai akhir mimpi buruk ini benar-benar sembuh

 

saat-saat yang mungkin akan lupa dari ingatan

dekaplah aku, biarlah kehangatan terus mengajariku hingga taraf paham

yang menunjukkan segala-galanya perlu persemayaman akal pikiran

untuk tetap tabah belajar memeluk erat cahaya yang engkau kenalkan

 

atas nama jiwaku yang belia

sebelum Allah bersedia mendekap pada pintu luhur kematian

ajarkan padaku makna hidup, derap langkah barokah keabadian

meski perlahan akan kutelan kobar api kebencian

dari bising ceracau mulut orang-orang

 

engkau titisan Sunan

bersimpuh aku tuan,

demi darah yang hanya sampah

tak jauh beda dari bangkai terkulai dan dilupakan

apa harga jasad ini timbang jasadmu yang teramat suci

sebagai teladan selama-lamanya dalam jiwa santri

 

embun menetes deras jatuh di hamparan senyummu

telah sejuk hati ini maknai segala yang tabu

dalam arti yang masih semu untuk dinikmati

dari semua itu, bahwa kepastian hidup tidak selamanya memiliki makna sama

tanda ini teramat dasar bagi bekal rendah ilmu yang masih jahiliyah

dan perlu keistiqamahan yang tinggi agar sampai pada yang suci

 

ada kalanya raja akan binasa

dan kuasanya akan diperebutkan anak, saudara dan seluruh keluarganya

tapi tidak untuk engkau wahai yang mulia di hati dan pandangan

tekadmu adalah pedang bagi daging kami yang bimbang

kadatanganmu anugerah demi jalan kemanusiaan

keperihan luka ini tak akan menyurutkan niat kami

untuk senantiasa selalu tabah menanti jalan kebenaran

 

seharap dari semua itu Kiai !

semogalah engkau tetap dirahmati dan dilimpahi-Nya bahagia

selamat dalam segala elemen hidup yang sungguh mulai rusak

sampai ke ufuk alam semesta

tetaplah engkau dapat basahi kekeringan dalam kemarau pikir orang-orang

 

Assalamualaika wahai sang Pengasuh dunia ahiratku

simpuh hormatku, santri dan seluruh yang sudi menemani

tetaplah selamat dari segala bahaya dan kesesatan dunia

Allah merahmatinya dan seluruh malaikat sebagai saksinya.

Tsumma Khususan Ila KH. Muhammad Ali Fikri, Al-Fatihah.

 

Annuqayah Lubangsa, 2020 M

 

Mochammad Kifly Maulana ; Santri yang lahir di Pulau Talango, mulai mondok di PP. Annuqayah daerah Lubangsa Guluk-guluk Sumenep, sejak tahun 2014 M. dan aktif di komunitas seni (Sanggar Andalas) sejak tahun 2015 M. di media sosial Mochammad dapat ditemuai sesuai dengan nama akun Email-nya: maulanakifli56@gmail.com, kalau akun Facebook sama dengan nama yang di Atas, Ok.


Puisi Hari Alfiyah*

MADAH SEORANG SANTRI GILA

; KH. Muhammad Ali Fikri

 

dengan sabar senantiasa kekar

mengakar dalam dada selapang ladang

menerima setiap kedatangan

meski bimbang terkadang mencakar jantung teman.

tak pernah letih engkau menegak ngaji dan kaji

saat fajar menyingkap tirai pagi

digelarlah sebuah langgar untuk mengajar

kitab kehidupan terbuka lebar di atas dampar

huruf-hurufnya melengkung dan menikung serupa arah jarum jam

menyentuh sudut-sudut lepas sampai lampau batas.

 

pada hitam bola matamu

hujan menderas bersihkan kalbu yang kotor dan hitam

sehitam hutan legam.

setiap bibirmu berucap sebenarnya sorga yang tak mampu aku cecap

dibelai lembut jemarimu selalu ada saja yang lebih rahasia

tinimbang luka yang tertabung dalam jiwa.

sungguh kuat urat kau dekap orang sekampung-sehalaman

melebur hangat dengan kesunyian.

wahai, bising apalagi yang hendak menghantarkan duri ke dalam diri

jika derunya suara orang-orang tercinta lebih melukai.

benarlah tanah, nuranimu sedingin embun pagi basah

tiada pernah menampak lelah meski engkau didekap payah.

 

aku hanya seorang santri gila, Kiai

di bawah asuhmu, keringat yang pasang belum mampu membasuh segala keluh.

terang cahaya dari teduh wajahmu yang mulia manjadi sekadar radar tak berguna.

tak kalah ricuh pada gemuruh lebah membunuh doa tabah.

tiang-tiang kram menahan bakar api kecongkakan

manakala etika kebenaran dilumpurkan dalam ingatan.

sungguh langkah terlalu gegabah mengambil arah

hingga tersesat pada kejam amarah dan tingkah.

 

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

seorang diri aku datang menghadapmu Kiai

sebagai seorang santri gila

berharap engkau semoga merestui senantiasa

hingga kesturi menimbun tubuh ini.

 

Annuqayah, 2020 M.

 

Hari Alfiyah, santri PP. Annuqayah daerah Lubangsa. Bergiat di Sanggar Andalas. Bertempat di Langgher Kesenian.


Puisi Mufid Ary Mushlih*

SEMOGA BERLABUH

 

Dalam kasih eratku nak!

Kini aku menjemput peluh

Biarlah disana kau menjaga cita wujudkan harap

Tak usah berkeluh

Tabah menahan pilu.

 

Biarkan aku menjadi lautmu

Ketika engkau tersedu

Berhasrat temu

Seolah hanya gema suaraku menyelimuti kalbu

Tuhan, disanalah bertumpuknya rindu.

 

Siang dan malam

Bulan bulat

Mendekap lintasan padat.

 

Pagi dan sore

Merah energi matahari

Membangkitkan lubuk hati.

 

Dalam keabadian rumah waktu

Aku

Menaruh senja semoga berlabuh

Pada lengkung senyum riangmu.

 

Annuqayah, 2020 M.

 

Mufid Ary Mushlih, santri PP. Annuqayah daerah Lubangsa. Bergiat di Sanggar Andalas. Bertempat di Langgher Kesenian.


Keterangan: Puisi-puisi di atas menjadi nominasi lomba cipta puisi yang diselenggarakan

 oleh Dewan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya.

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak